Al Qur’an dan Al Sunnah Mencerahkan Kehidupan Manusia

( Intisari khutbah Jum’at tanggal, 24 Nopember 2006 M / 03 Dzulqa’dah 1427 H ) 

Oleh : DR.H. Hidayat Nurwahid 

Hari-hari ini kita kembali menyaksikan, merasakan dan melihat karunia Allah yang hadir terus menerus dan tidak akan berhenti  kepada kita umat Islam khususnya  umat Islam di Indonesia. Kita kembali betapa satu dari sekian banyak syari’ah Allah bila dilaksanakan ketika kita melihat sebahagian saudara-saudara kita akan dan sebahagian sudah berangkat kembali untuk melaksanakan ibadah haji. Tentu saja karunia Allah yang sangat besar ini kita maknai  sebagai bagian dari karunia-karunia yang memang telah dihadirkan oleh Allah, agar kita dapat mensyukurinya, dengan mengambilnya sebagai pelajaran yang penting. 

Ibroh yang paling utama salah satu diantarnya, bahwa kita dari salah satu umat Islam, termasuk umat Islam di indonesia , oleh Allah SWT selalu diberikan sarana, agar tidak pernah lupa dengan Baitullah, tak pernah lupa dengan Sya’arullah, tidak pernah lupa kita melaksanakan hak-hak sebagai hamba Allah, siapapun kita, bahkan kita adalah kelompok masyarakat yang dimudahkan oleh Allah  untuk mendapatkan kemampuan, mempunyai kekuatan untuk kemudian  karenaNya untuk bisa melaksanakan  kewajiban berhaji. 

Kemampuan terkait dengan pelaksanaan kekuatan, terkait dengan masalah ekonomi, kesehatan, kesempatan, rizki, keberkahan, Allah SWT memberikan kepada kita satu sarana, agar kelebihan-kelebihan yang diberikan kepada kita tidak membuat kita menjadi lupa kepada Allah SWT, lupa ajaran Allah / pada Syari’ahNya,  justru kita kembali diberikan Allah suatu bukti dan satu sarana bahwa karunia Allah yang diberikan kepada kita baik berupa harta, kedudukan, kesempatan, ternyata bisa dipergunakan  oleh saudara-saudara kita untuk merialisasikan ubudiyah kepada Allah dengan melaksanakan ibadah haji.  

Satu hal yang mudah-mudahan kita selalu teringat, akan fatwa syukur kepada Allah SWT,  hal yang amat menjadi penting hari inipun kita di sisi yang lain, masih merasakan betapa banyak kegetiran betapa banyak yang pahit, betapa banyak hal yang menyusahkan kehidupan kita sebagai bangsa, sebagai umat, belum selesai problema dengan lumpur di Sidoarjo, kembali kemarin terjadi ledakkan yang mengakibatkan bukan saja lubernya lumpur, tapi terjatuhnya korban saudara-saudara kita yang bertugas dan mereka pasti tidak berdosa.

Dan kemarin pun kita melihat dan membaca berita bagaimana seorang suami menembak seorang istrinya sendiri, kemudian ia berupaya untuk bunuh diri, tapi ajal belum sampai kepada dia, dan jadilah dia sekarang pesakitan.   Begitu banyak masalah-masalah yang seolah-olah kemudian membawa kita kepada lingkaran syaetan, krisis yang seolah-olah karenanya tidak memberikan harapan kepada kita untuk bangkit keluar dari lingkaran syaetan ini. Dari dua kondisi yang telah saya sampaikan, kita sebagai umat yang beragama, apalagi yang penduduknya mayoritas beragama Islam ini.

Tentulah kita tidak boleh terjebak berlama-lama termangu, seolah-olah tidak mempunyai pedoman, seolah-olah kita berada di tengah-tengah gelap gulitanya kegelapan dan kezholiman. Sesungguhnya Allah telah memberikan suatu panduan kehidupan amat sangat yang mencerahkan yaitu Al Islam, dengan Al Qur’an, panduan yang kongkrit yaitu As Sunnah.  Kita akan mendapatkan bahwa kehidupan memang tidaklah selamanya terang benderang, cerah mencerahkan, mudah seperti apa yang kita bayangkan, bahkan sesungguhpun apabila jamaah haji kita akan berangkat ke Makkah dan Madinah, mereka akan menadapat satu kondisi Makkah dan Madinah  dan apalagi kalau mereka membaca siroh Nabawiyah, perjuangan Nabi Muhammad SAW,

sejarah diturunkan Al Qur’anul Karim kepada beliau kita akan mendapatkan Nabi dan Islam, hadir ditengah kekosongan budaya tidaklah hadir ditengah masyarakat yang tidak mempunyai interes-interes yang kemudian menghadirkan beragam tragedi, problema, termasuk juga untuk meredupkan upaya agama Allah, cahaya Al Qur’an.  Tidak mengetahui bagaimana masyarakat Makkah, bagaiman kejahiliyahannya begitu luar biasa, seperti digambarkan dengan bagus oleh Umar bin Khathab ra, ketika beliau sudah menjadi Kholifah, didapatkan oleh seorang umat beliau sedang menangis dan tertawa, umat ini kemudian bertanya, wahai Kholifah apa yang terjadi, baginda tadi menangis kemudian tertawa, 

Khalifah Umar RA kemudian menjawab, aku teringat dengan masa pra Islam, dengan masa jahiliyyah dahulu, aku menagis betapa zholimnya masyarakat, mereka mempunyai anak perempuan, anak yang sudah lama mereka nantikan, tapi begitu mereka datang kemudian mematikan dan dikubur hidup-hidup.  Menangislah aku, betapa rendahnya kwalitas kemanusian di waktu itu, tetapi aku tertawa mengingat ketika masa jahiliyah pra Islam dahulu, betapa bodohnya kami, pada waktu itu kami membuat tuhan dari tepung-tepung yang kami kumpulkan, kemudian kami bentuk menjadi tuhan-tuhanan, kemudian kami sembahlah tuhan yang dibuat sendiri dan kemudian setelah selesai prosesi penyembahan, tuhan yang kami bentuk itu kami menyantapnya dan memakannya, betapa amat menggelikanya. 

Itulah kondisi pra Islam, kondisi pra hijrahpun amat sangat menyesakkan, sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah Al Munawaroh, satu kota yang akan dikunjungi oleh saudara-saudara kita para jamaah haji, mereka ziarah ke Madinah Al Munawaroh, ke masjid An Nabawi, sebelum Rasulullah berhijrah ke sana, al Madinah adalah satu kota yang disebut dengan Yastrib, satu ungkapan yang sangat berdekatan maknanya dengan segala yang menghadirkan kerusakan, kerugian, kehancuran, yang tidak harmonis itulah yang terjadi.  

Begitulah masyarakat Madinah pra hijrah, komplik terus menerus yang dipropokasikan oleh komunitas Yahudi yang menghadirkan hegemoni tunggal atas kehidupan di Madinah, mereka menguasai kehidupan perokomian di Madinah, dan menguasai dalam seluruh setratanya, baik dalam stratanya ekonomi, sosial, politik, tehnologi, airpun mereka kuasai, kebunpun mereka kuasai, pasar mereka kuasai, opini mereka kuasai, bahkan mereka tidak cukup dengan itu, dalam rangka mengokohkan hegemoni yang mereka miliki,.

Mereka terus-menerus melemahkan faktor pesaing yang ada di Madinah yang berada dikalangan Arab, dan untuk itulah mereka melakukan upaya untuk mengadu domba antara orang-orang Arab yang berada di Madinah, antara Haoz dan Khazraj, menyebarkan fitnah dan informasi, melakukan beragam cara agar orang-orang Arab itu bisa dilemahkan dan karena hegemoni Yahudi tidak bisa diganggu gugat.  Terjadilah salah satunya perang Bu’at, 40 tahun lamanya, Haoz dan Khazraj terjebak perang di antara mereka, kita bisa bayangkan bagaimana kondisi warga bangsa yang terjebak dalam perang yang permanen, dikipas terus menerus oleh bangsa yang lebih besar yaitu orang-orang Yahudi, tapi itu memang kondisi Yastrib pra Hijrah.  

 Seperti juga kondisi Makkah pra Hijrah, kondisi yang amat sangat menyesakkan, seolah-olah tidak ada masa depan, seolah-olah yang ada adalah kegelapan dan kegelapan. Tetapi yang terjadi kemudian adalah Allah menghadirkan Al  Islam , menghadirkan Saiyyidina Muhammad SAW, sebagai nabi dan sebagai rasul, kemudian masyarakat dikeluarkan dari kegelapan keterang benderang, segala bentuk kegelapan itu, segala bentuk kezholiman itu, kepada cahaya Al Islam dan kemudian munculah masyarakat yang baru, masyarakat yang madani, masyarakat yang membawa kerahmatan lilalamin. 

masyarakat yang sangat unggul, yang dinilai oleh para ulama termasuk Said Jamaluddin Ahwani dalam salah satu kitabnya Aroddu Adahriyin, ia mengatakan adalah salah satu dari kemu’zizatan Islam adalah selain hadirnya Al Qur’an, selain hadirnya Rasululoh SAW dengan segala kemu’zizatanya, salah satu kemu’zizatanya adalah kemukzizatan sosial, dimana dalam salah satu waktu yang pendek telah hadir salah satu komunitas yang baru, masyarakat yang sama sekali yang berbeda , masyarakat yang sukses, masyarakat yang menghadirkan peradaban yang baru, peradaban yang sangat manusiawi,

masyarakat yang mencerahkan, masyarakat yang akan hadirnya umat manusia dalam waktu yang sangat pendek, peradaban ini bisa menyebar, bukan hanya terbatas di Jazirah Arabia bahkan kemudian mengikuti tulisan  Ibnu Robbi dalam tulisannya  Asl Ibdu Farid dalam abad pertama Hijriyahpun Al Islam telah sampai ke bumi Nusantara kekerajaan Sriwijaya, telah diadakan surat menyurat antara Khulapa Daula Ummayah, di Damaskus termasuk juga dengan Khalifah Ar Rosyid  Umar Abdul Azis,  

Saya menegaskan sekali lagi bahwa apa yang kita dapatkan sekarang ini dalam dua demensi adalah sebagai Allah tegaskan dalam surah Al Muluk

: الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُmaksudnya: “Allah menghadirkan ini seluruhnya adalah sebagai ibtila sebagai ujian, agar Allah bisa mendapatkan suatu bukti siapa yang diantar kita yang paling baik amalnya” (Al Muluk : 2) tentulah dikarenanya dengan pendekatan ini, mengambil salah satu hikmah dari yang hadir sebagai salah satu ujian agar kita menjadi salah satu pihak yang berlomba-lomba menghadikran kebaikan, lomba yang menghadirkan yang lebih baik, lomba pelajaran yang unggul dari peristiwa yang ada  

Mudah-mudahan keberangkatan jamaah haji kita akan membawa kepada kita semuanya pembelajaran yang penting dan sekaligus mengingatkan kepada mereka agar mereka memaksimalkan keberangkatan mereka untuk menjadikan diri mereka sebagai haji yang mabrur dan dengan kemabruranya akan membawa kepada kita semangat baru untuk terus menerus menapaki kebaikan dari pada Al Islam,

dengan kemabruran mereka mudah-mudahan akan selalu membawa kepada kita kader-kader umat dan kader-kader bangsa yang tidak pernah berhenti untuk beramal sholeh, mudah-mudahan doanya dikabulkan Allah dan mudah-mudahan doanya itu diantaranya adalah agar umat dan bangsa kita segera bangkit keluar dari krisisnya, para pimpinannya, umatnya dan siapun juga supaya betul-betul menjadi umat dan masyarakat yang muttaqun. (ds) 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: