RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi

(Intisari khutbah Jum’at tanggal, 10 Maret 2006 M / 10 Shafar 1427 H)

Oleh : Prof.KH. Ali Musthapa Yaqub, MA 

Hari-hari ini ramai dibicarakan orang, tentang Rencana Undang-Undang tentang Pornografi dan Porno Aksi, RUU APP, banyak yang mendukung tetapi ada juga yang menolak. Yang menolak, mereka beranggapan karena undang-undang ini nantinya akan mengekang kebebasan, mengekang kebebasan berekpresi, alias melanggar hak-hak azasi manusia. Mereka juga mengusung isu-isu yang sebenarnya tidak berkaitan dengan substansi dari pada RUU APP ini, misalnya isu bahwa undang-undang ini berlawanan dengan budaya-budaya lokal karena sebagian masyarakat Indonesia sebagian masih ada yang mandi di kali tidak berpakaian dan sebahagian masyarakat Indonesia masih memakai koteka.

Inilah beberapa isu yang diangkat oleh orang-orang yang menentang RUU APP ini.Boleh jadi mereka itu belum pernah membaca teks rancangan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi, atau memang sengaja mengusung isu-isu yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan substansi rancangan undang-undang itu. Apabila RUU disahkan orang – orang itu merasa dirugikan karena sekarang ini  merekalah  yang mengeruk keuntungan dengan adanya pornografi dan pornoaksi.Rancangan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi itu, sama sekali tidak ada kaitanya dengan orang yang mandi di kali, tidak ada kaitan dengan orang yang memakai koteka, dan tidak ada kaitan dengan turis-turis yang berjemur di pantai Kute Bali.

Karena dalam pasal satu Rancangan Undang-Undang itu menye­butkan apa yang disebut pornografi. Pornografi substansinya dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan – gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan dan erotica. Jadi di sini ada dua unsur, yang pertama adalah substansi dalam media masa dan yang kedua adalah usaha mengeksploitasi sexsual, maka kalau ada orang berjemur di pantai, itu tidak termasuk dalam pengertian pornografi, kalau ada orang mandi di kali itupun tidak termasuk dalam pengertian pornografi. Kecuali kalau dia mandi tidak berbusana di tengah alun-alun dalam rangka mempertontonkan kebugilannya, itu masuk dalam pengertian pornoaksi, yaitu pasal dua yang mengatakan, pornoaksi adalah suatu perbuatan mengeksploitasi perbuatan kecabulan atau erotika di muka umum.

Sebab itu, orang yang mandi di kali tidak termasuk yang dilarang oleh undang-undang ini, begitu juga orang memakai koteka, yang dilarang adalah ada orang mandi kemudian dipotret, direkam, divideokan, kemudian videonya dipublikasikan itulah pornografi, bahkan dalam konteks ini ibadahpun bisa juga masuk dalam pornografi, hubungan intim antara suami dan isteri adalah termasuk ibadah, tetapi ketika hubungan suami isteri itu direkam dengan video atau alat-alat komunikasi, kemudian dipublikasikan maka hubungan suami isteri itu menjadi sebuah pornografi karena penyebar gambar tersebut atau suami istri melakukan hubungan sexsual di alun-alun dan dipertotonkan oleh orang banyak, maka itu termasuk pornoaksi.

Beberapa gelintir manusia mengangkat dan membesar-besarkan masalah ini, bahkan ada yang mengatakan bahwa RUU APP ini adalah wujud dari Piagam Jakarta, penerapan hukum Islam, padahal tidak ada satu huruf pun yang menyebutkan kata Islam, dan tidak satu hurufpun menyebutkan kata syari’at Islam. RUU APP memang masih jauh dari substansi hukum Islam, tetapi andai kata ini disah­kan dan diterapkan, mudah-mudahan ini dapat dipakai sebagai alat untuk mencegah kemungkaran yang semakin meraja rela. Sejak kurang lebih tujuh tahun yang lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) sering mendapatkan protes dari masyarakat, karena banyaknya tayangan-tayangan di televisi yang mengumbar aurat dan mengexploitasi kemungkaran.

MUI merespon protes-protes ini, kemudian berkonsultasi dengan pihak Kapolri, namun pihak kepolisian sulit untuk menyeret pelaku-pelakunya itu, karena belum ada undang-undang yang melarang perbuatan tersebut. MUI  akhirnya pada tahun 2001 mengeluarkan fatwa tentang keharaman pornografi dan pornoaksi, ternyata ada beberapa gelintir manusia yang akan merusak moral bangsa Indonesia dan tahun 2002 muncul tarian ngebor distasion-stasion televisi, ini jelas sekali memang ada otak intelektual yang bermain di belakangnya. Seorang yang tinggal di desa dengan modal ngebornya langsung mencuat ke arena panggung nasional bahkan kemudian ke arena internasional.

Karena itu kaum muslimin –tentunya- semuanya mendukung disahkanya RUU APP ini, beberapa organisasi wanita, seperti KOWANI, WANITA ISLAM, MUSLIMAT NAHDATUL ULAMA, PERWANAS (Perasatuan Wanita Nasional) semua telah menyatakan mendukung rancangan undang-undang ini untuk disahkan menjadi undang-undang.Kalau segelintir manusia atau organisasi perempuan yang menolak undang-undang ini atau rancangan undang-undang ini, apalagi kalau dia yang membawa organisasi bendera Islam, maka kita perlu mempertanyakan keIslaman orang tersebut, atau keIslaman organisasi tersebut.

Kita teringat satu tahun yang lalu persis tanggal 18 Maret 2005, DR. Aminah Wadud mensponsori dan melaksanakan sholat Jum’at dengan khotib dan sholat dilaksanakan oleh seorang wanita. Ternyata siapa di belakang Aminah Wadud, adalah LSM Wanita di Amerika, yang bernama Muslim Women Fredom Toor, satu organisasi LSM di Amerika yang dipimpin oleh Astroyu Mane, seorang wanita kelahiran India. Cita-cita dari Women Muslim Fredom Toor ini salah satunya yang akan diperjuangkan adalah tentang hak wanita muslimat di tempat tidur. Pada point delapan menyebutkan: “wanita muslimah tidak boleh dikenakan hukuman apapun apabila ia melakukan hubungan sexsual dengan pria dewasa atas dasar suka sama suka”.

Oleh karena itu waspadailah pada gerakan-gerakan yang membawa bendera Islam tetapi sejatinya, gerakannya adalah gerakan kafir. Waspadailah pula kalau di Indonesia ada gerakan-gerakan yang membawa bendera Islam tetapi sejatinya yang diperjuangkanya adalah hal-hal yang justru berlawanan dengan Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: