Profesionalisme dan Amanah Akan Melahirkan Kesejahteraan

(Intisari khutbah Jum’at, 31 Maret 2006 M / 01 Rabi’ul Awal 1427 H)

Oleh : Prof.DR.H. Didin Hafiduddin

Banyak orang yang menduga bahwa kemakmuran dan kesejahteraan merupakan akibat dari tingkat kesuburan. Semakin subur suatu negeri, maka akan semakin makmur dan sejahtera masyarakatnya. Pendapat ini tentu tidak semuanya salah, tetapi juga tidak semuanya benar. Dalam realitas kehidupan, ada negeri dan daerah yang subur kemudian masyarakatnya makmur dan sejahtera, tetapi ada pula negeri dan daerah yang tidak subur rakyatnya makmur dan sejahtera. Sebaliknya, adapula negeri dan daerah yang subur tetapi rakyatnya miskin.Kalau kita memperhatikan Al-Qur’an, maka faktor utama kesejahteraan dan kemakmuran adalah perilaku yang baik, yang sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Walaupun negerinya subur, tetapi pemimpin dan rakyat­nya durhaka, maka yang terjadi adalah kehancuran dan keterpurukan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an : وَضَرَبَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيْهَارِزْقُهَارَغَدًامِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ فَأَذَاقَهَااللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَاكَانُوا يَصْنَعُوْنَ

Artinya : “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah ; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS. 16 An-Nahl 112).

Dalam sebuah hadits, riwayat Imam Thabrani dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda :خَمْسٌ بِخَمْسٍ : مَانَقَضَ قَوْمٌ الْعَهْدَ, إِلاَّسُلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوُّهُمْ , وَمَاحَكَمُوْا بِغَيْرِمَا أَنْزَلَ اللهُ , إِلاَّ فَشَا فِيْهِمُ الْفَقْرَ وَلاَظَهَرَتْ فِيْهِمُ الْفَاحِشَةُ إِلاَّفَشَافِيْهِمُ الْمَوْتُ وَلاَ طَفَّفُوْا الْمِكْيَالَ إِلاَّ مُنِعُوْا الْنَبَاتَ وَأُخِذُوْابِالسِّنِيْنَ, وَلاَ مَنَعُوْا الزَّكَاةَ إِلاَّحُبِسَ عَنْهُمُ الْقُطْرُ

Artinya : “Rasulullah SAW bersabda : “(Ada) lima perbuatan (yang akan mengakibatkan) lima malapetaka :1. Tidaklah suatu bangsa mudah mengingkari janji, kecuali akan dikendalikan oleh musuh-musuh mereka, 2. Tidaklah mereka berhukum dengan sesuatu yang bukan diturunkan Allah, kecuali akan tersebar kekafiran,3. Tidaklah merajalela di suatu tempat perzinahan, kecuali akan merajalela pula penyakit yang membawa kematian, 4. Tidaklah mereka mempermainkan takaran / timbangan atau kwalitas suatu barang, kecuali akan dihambat tumbuhnya tanaman, dan akan disiksa dengan kemarau panjang, dan5. Tidaklah mereka mengeluarkan zakat, kecuali akan dihambat turunnya hujan yang membawa keberkahan” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas). Sebaliknya, dengan keimanan dan ketaqwaan yang tercermin perilaku keseharian, akan menyebabkan turunnya keberkahan.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :وَلَوْأَنَّ أَهْلَ الْقُرَىامَنُوْاوَاتَّقَوْالَفَتَحْنَاعَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْافَأَخَذْنَاهُمْ بِمَاكَانُوا يَكْسِبُوْنَ.Artinya : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. 7 Al-‘Araf 96).

Perilaku yang baik ini, yang harus dimiliki oleh masyarakat dan bangsa, terutama para pemimpinnya ada­lah amanah, jujur dan terpercaya. Di samping memiliki keahlian dalam bidangnya masing-masing. Orang yang amanah pasti akan mendapatkan rizki dan kesejahteraan dalam hidupnya. Sebaliknya, khianat, culas dan korup akan melahirkan kefakiran. Dalam sebuah hadits, riwayat Imam ad-Dailamiy, Rasulullah SAW bersabda :اَْلأَمَانَةُ تَجْلِبُ الرِّزْقَ وَالْخِيَانَةُ تَجْلِبُ الْفَقْرَ , artinya : “Sifat amanah itu akan menarik (mendatangkan) rizki, dan sifat khianat itu akan menarik (melahirkan) kefakiran” (HR. Ad-Dailamiy).

Ada suatu kisah yang menarik dalam Al Qur’an, yaitu kisah Nabi Yusuf AS, yang mampu membawa kese­jah­teraan masyarakatnya, dan masyarakat di sekitar negeri Mesir, karena beliau dan pejabat di negeri Mesir ketika itu memiliki sifat hafidzun, alimun, yaitu amanah, terpecaya dan ahli atau profesional dalam bidangnya. Dalam hal ini perhatikan firman Allah dalam Al-Qur’an: قَالَ اجْعَلْنِي عَلىَ خَزَائِنِ الأَرْضِ إِنِّي حَفِيْظٌ عَلِيمٌ , artinya : “Berkata Yusuf : “Jadikanlah Aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya Aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan” (QS. 12 Yusuf : 55).

Dalam sejarah Islam pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz yang tidak lama, hanya + 22 bulan, ternyata tidak ada orang yang menjadi mustahiq zakat dengan sebab kejujuran dan keadilan dalam segala bidang yang dilakukan oleh beliau dan pemerintahannya.Amanah dan profesionalisme akan menumbuhkan etos kerja yang tinggi; Akan menumbuhkan etika kerja yang kuat; Akan menyebabkan orang berlomba-lomba dalam mempersembahkan yang terbaik dan akan menyebabkan tumbuhnya ta’awun dan rasa solidaritas sosial yang tinggi antara sesama anggota masyarakat. Kalau sudah begitu, maka akan lahirlah masyarakat yang adil, masyarakat yang makmur, dan masyarakat yang sejahtera di bawah naungan ridha Ilahi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: