Internalisasi Nilai-Nilai Islam

(Intisari khutbah Jum’at, 24 Februari 2006 M / 25 Muharam 1427 H)

 Oleh : Prof.DR.H.Moh. Ardani 

Dalam Islam, latihan rohani yang diperlukan manusia diberikan dalam bentuk ibadah. Semua ibadah dalam Islam, baik dalam bentuk shalat, puasa, zakat, maupun haji, bertujuan untuk membuat rohani manusia agar tetap ingat kepada Allah dan bahkan merasa senantiasa dekat pada-Nya. Keadaan senantiasa dekat pada Allah Yang Maha Suci dan dapat mempertajam rasa kesucian yang selanjutnya menjadi rem bagi hawa nafsunya untuk melanggar nilai-nilai moral, peraturan dan hukum yang berlaku.Dalam ibadah terjadi kontak kegiatan jasmani dan rohani. Ibadah merupakan tanggapan batin yang tertuju kepada Allah namun dibarengi dengan amal perbuatan yang bersifat lahir, yang dilakukan oleh gerak-gerik jasmani.

Ibadah secara lahiriah dan batiniah seperti itu dapat difahami dari aspek pembawaan hidup manusia sendiri yang bersifat dualistis yang terdiri dari dua unsur jasmani dan rohani seperti disebut di atas. Kedua unsur itu menyatu dalam diri manusia.Manusia adalah jasmani yang dirohanikan; dan manusia seutuhnya adalah rohani yang telah menjasmani, maka badan manusia bukan hanya materi semata-mata atau kejasmanian saja. Seluruh jasmani manusia dan segala gejalanya tidak sama dengan jasmani binatang, karena kejasmanian manusia adalah jasmani yang dirohanikan dan di dalam jasmani itu terdapat roh yang menjasmani.

Oleh karenanya tidak mengherankan jika peristiwa-peristiwa yang dialami manusia secara jasmaniah akan mempengaruhi gerak batin dan rohaninya. Dan sebaliknya situasi rohani seseorang juga akan tercermin dalam sikap dan tingkah laku lahiriah atau jasmaniahnya.Dengan demikian manusia yang utuh diberi konsumsi ibadah yang utuh pula. Dengan berbagai ucapan dan perbuatan dalam ibadah, rasa rohaniah dan rasa moral menjadi lebih tajam. Lebih lanjut segala peristiwa rohaniah manusia berpengaruh pada jasmaninya yang menggejala dalam kehidupan lahiriahnya; dan demikian pula sebalik­nya peristiwa yang dialaminya secara jasmaniah berpengaruh pada rohaninya yang menggejala dalam kehidupan rohaniahnya.

Ibadah dalam Islam sebenarnya bukan bertujuan supaya Allah disembah seperti penyembahan yang terdapat dalam agama-agama primitif. Kata ibadah yang berasal dari ‘abada’, sekalipun dapat diterjemahkan dengan me­nyem­bah, namun terjemahan ini dipandang kurang tepat. Karena Tuhan yang disembah itu bukan saja ditakuti dan disegani, tetapi juga dikasihi dan disayangi.

Memang betul dalam surat Al Dzariat ayat 56, terdapat kata liya’ budûni dalam rangkaian ayat  وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِ نْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ.  , yang berarti “agar mereka beribadat kepada-Ku. Tetapi dalam konsep Islam, Allah adalah Dzat Yang Maha Esa, Maha Kuasa (Wâhid, Qadîr) di samping Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun (Rahmân, Rahîm dan Ghafûr), maka kata liya’budûni lebih cocok diterjemahkan dengan “agar mereka tunduk dan patuh kepada-Ku”.

Maka Allah tidak harus dijauhi dan ditakuti, tetapi Allah harus didekati dan disayangi, karena ia memang dekat dan sayang kepada manusia. Dengan demikian arti ayat tersebut ialah : “Tidak Ku-ciptakan jin dan manusia kecuali untuk tunduk dan patuh kepada-Ku”. 

Menghayati Akidah Ibadah dan Akhlak

Karena manusia mempunyai kesadaran batin, maka semua gerak tingkah lakunya, seharusnya mempunyai kontak dengan batinnya. Seperti dikemukakan terdahulu bahwa ibadah itu mengandung aspek latihan spiritual untuk mendapatkan kesucian, dan aspek latihan moral. Dengan demikian ibadah itu selain berfungsi untuk berbakti kepa­da Allah, juga membawa efek kesucian lahir batin, menjadikan orang baik yang jauh dari noda-noda kejahatan.Dengan penghayatan demikian diharapkan system nilai yang menyangkut keimanan, berpadu dengan system norma yang menyangkut syari’at yang di dalamnya termasuk ibadah.

Rupa-rupanya nilai-nilai iman yang diha­yati dengan ibadah akan menebalkan iman. Dan norma-norma syari’at yang termasuk di dalamnya ibadah, jika dihayati dengan baik, akan membawa kesucian yang berpengaruh pada moral.Betapa pentingnya aspek spiritual dalam ibadah itu, yang disebut dengan kata khusyu’ atau dzikir, seperti di­isyaratkan dalam ayat Al qur’an : قَدْأَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ.الَّذِينَ هُمْ ِفي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ.  , artinya : “Sesung­guhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalat mereka” (QS. Al-Mukminun 1-2).

Shalat yang khusyu’ adalah shalat yang disertai dengan kesadaran batin, patuh dan merendahkan diri di­hadapan Tuhan Yang Maha Agung. Sedangkan dzikir berarti ingat, sadar, dan tidak lalai.Dengan menjalin semangat ajaran antara syari’at dan tarekat dalam kegiatan ibadah, akan tercapai hakekat muslim, yang seharusnya memiliki sifat-sifat : suci hati dan perbuatannya, jujur, dapat dipercaya, tidak menyukai kemewahan, rajin bekerja, tabah, sabar, syukur, rela, menerima dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: