Membaca Tanda-Tanda Zaman yang Diisyaratkan Nabi Muhammad SAW

(Intisari Khutbah Jum’at 20 Januari 2006 M / 20 Dzulhijjah 1426)

Oleh : DR.H.A. Faruq Nasution


Membaca tanda-tanda zaman yang terlihat sekarang hampir setiap hari dikagetkan dengan peristiwa-peristiwa yang tidak biasa dilakukan oleh generasi pendahulu kita dan generasi sebelumnya yang dirasakan hampir mustahil bisa terjadi. Dalam contoh kehidupan keluarga, ada anak yang tega membunuh ayahnya, ayah atau ibu menyiksa anaknya sampai mengalami kematian atau sakit yang berkepanjangan, ada yang melakukan bunuh diri karena masalah kecil, ada perbuatan asusila antar keluarga, dan tidak terhitung lagi perbuatan sejenis itu antar sesama manusia lainnya, baik secara terbuka maupun tertutup.

Tayangan pornografi dan perilaku pornoaksi, hampir dianggap biasa, ditambah dengan minuman keras dan zat-zat berbahaya lainnya dilakukan tidak secara sembunyi-sembunyi lagi, tapi secara terbuka dan berkelompok, yang pada puncaknya ditemukan pabrik atau produsen pembuatnya yang terbesar se-Asia, bahkan berkategori termasuk bagian terbesar ukuran sejagat. Perampokan dan pencurian dalam segala bentuk penjarahan hutan dan tambang, pembunuhan dan perampokan hampir menghiasi berita sehari-hari, di samping media-media cetak tanpa risih menghiasi halaman-halamannya dengan gambar-gambar aurat terbuka, video porno serta kondom yang dijual secara bebas, yang dikerubungi sehari-hari oleh anak-anak muda tanpa terhalang oleh rasa malu atau segan dengan sesamanya, bahkan dianggap sebagai suatu mode baru.

Bagi kita umat beragama, sangat sensitive dengan hal-hal tersebut, dengan tekanan batin yang berkepanjangan, karena begitu keluar rumah, suka atau tidak suka, fenomena itu hadir di depan mata kita. Dengan hati sabar, keluarlah ucapan istighfar (astaghfirullahal ‘adzim) dan tasbih (subhanallah) serta hauqola (lahaula wala quwwata illa billah). Ucapan-ucapan sakral ini bermaksud; Pertama, berlindung kepada Allah dihadapkan dengan kejadian demikian, Kedua, rasa kaget untuk tidak bisa menerima apa yang dilihat atau didengar itu, Ketiga, masih ada benih iman yang tertanam dalam diri kita untuk menolak kejadian seperti itu, kendati belum mampu mengubahnya dengan tangan besi berupa undang-undang atau peraturan yang mengikat, mampunya baru sekedar “watawa shaubil haqqi” / saling mengingatkan sesama agar ter­hindar dari hal-hal seperti itu.

Dalam bahasa sehari-hari disebut tanda-tanda zaman, yang berkali-kali Nabi kita memperingatkannya untuk mewaspadainya. Hanya kepatuhan kepada agama yang bisa mengatasinya atau memagarinya, tanda-tanda zaman seperti ini, Nabi kita pernah mengingatkannya, artinya : “Akan terjadi suatu masa yang menghadapi manusia, yaitu orang yang teguh dan tabah melaksanakan ajaran agamanya, seperti orang memegang batu yang panas”.

Maksudnya, menghadapi contoh-contoh kehidupan sekarang dengan berbagai fenomena yang terlihat oleh kita, rasanya sudah terdesain sedemikian rupa, mulai tingkat atas hingga tingkat bawah, maka bagi siapa yang berpegang teguh pada ajaran agamanya, harus memperbanyak sabar, laksana sabar memegang batu yang panas.

Menghadapi hal-hal seperti ini bagi orang-orang tertentu, atau bagi orang khawas (yang mendalam agamanya) selalu mengucapkan do’a pilihan yang diajarkan Al-Qur’an:

رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ ,

artinya : “…Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. 2 Al-Baqarah 286).

Jadi, segelintir apapun masalah kehidupan yang dihadapi manusia, seperti yang kita hadapi sekarang, adalah bermaksud menguji keimanan kita, apakah bisa bertahan atau luntur. Jika misalnya, semua insan mempertahankan imannya dengan baik yang diwujudkan dengan contoh akhlak teruji, maka karunia Allah senantiasa mengalir membahagiakan kita semua, dan jika nilai-nilai keimanan itu tidak bisa dipertahankan lagi, yang diwujudkan dengan perilaku-perilaku tercela, maka berbagai rupa yang menyengsarakan dan menyusahkan bisa terjadi, disebabkan dosa-dosa manusia yang tidak disadari akan berakibat malapetaka sambung-menyambung.

Hanya orang yang istiqomah yang bisa selamat, dan jumlahnya, alhamdulillah, barangkali masih lebih banyak daripada orang yang tergusur imannya. Bagi kita, masih ada sisa harapan berupa do’a yang diajarkan kepada kita dalam Al-Qur’an : رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ,

artinya : “…Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah…” (Q S. 2 Al-Baqarah 286).

Kekuatan doa dan taubat dapat menciptakan sesuatu yang sangat menakjubkan, dan ini pula yang menjadi keberuntungan lebih banyak bagi orang yang menempati jumlah orang-orang Istiqamah.

Mudah-mudahan pesan istiqamah ini bermanfaat untuk kita semua, baik keberuntungan terhadap pribadi, maupun lingkungan, serta tanah air kita secara keseluruhan, dengan pertolongan dan petunjuk serta hidayah Allah SWT. amin ya rabbal ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: