Haji Mabrur Puncak Keshalehan Manusia

(Intisari khutbah Jum’at tanggal, 06 Januari 2006 M / 05 Dzulhijjah 1426 H)

Oleh : Drs. H. Anshor Syafi’ie, MA

Seorang muslim yang telah menyadari bahwa kelebihan rizki yang ada pada dirinya merupakan amanat Allah untuk didistribusikan secara halal, yang salah satunya adalah menggunakannya untuk beribadah haji. Dengan penuh kekhudhu’an ia mempersiapkan segalanya, baik mental, fisik, dan spiritual untuk mengunjungi baitullah disertai tekad untuk mencapai keridhaan Allah dan mencapai derajat Haji Mabrur yang akan membawahnya ke surga Allah s.w.t., sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. :

أَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَـلَـيْـهِ وَسَـلَّمَ قَـالَ : اَلـْعُـمْرَةُ إِلَـى الْـعُـمْـرَةِ كَـفَّـارَةٌ لِـمَـا بَـيْـنَـهُمَـا, وَلْـحَجُّ الْـمَـبـْرُوْرُ لَـيـْسَ لَـهُ جَـزَاءٌ اِلاَّ الْـجَـنَّـةَ

Artinya : “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : Pelaksanaan umrah hingga umrah yang akan datang adalah penebusan dosa yang ada antara keduanya, dan haji mabrur itu tidak ada balasannya melainkan surga” (HR. Muttafaq ‘alaih dari Abi Hurairah).

Lebih dari itu, haji mabrur pun diidentikkan oleh Rasulullah s.a.w. sebagai bentuk jihad yang terbaik. Hal ini nampak pada sabda Rasulullah s.a.w. :

Aisyah r.a. berkata : Saya berkata kepada Rasulullah “kami perhatikan jihad itu seutama-utamanya amal kebaikan, tidakkah lebih baik kami berjihad ? Rasulullah s.a.w. bersabda : tetapi seutama-utama jihad ialah haji mabrur (HR Bukhari)

Namun, pertanyaan besar yang muncul dalam benak kita adalah : apakah setiap muslim yang berangkat ke tanah suci Mekkah untuk beribadah haji pasti mencapai derajat haji mabrur ? Jawabnya jelas, bahwa setiap manusia akan menerima hasil suatu perbuatan sesuai dengan kualitas usaha yang dilakukannya dalam perbuatan tersebut. Dengan demikian tidak semua muslim yang beribadah haji dipastikan mencapai derajat haji mabrur, bahkan tidak mustahil ada yang tidak mendapatkan pahala ibadah apapun.

Marilah kita simak bagaimana ritual-ritual dalam ibadah haji bisa membawa manusia kepada kesejatiannya dan menanggalkan sifat-sifat hayawiniyah-nya yang merupakan wujud konkrit seorang haji yang mabrur :

Pertama, ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Di sini nampak, bahwa titik awal ibadah haji adalah menanggalkan berbagai atribut-atribut duniawi yang membedakan status sosial dan ekonomi serta pengaruh psikologis darinya. Secara vertikal hal ini menunjukkan bahwa setiap muslim haruslah memiliki niat tulus ikhlas tanpa kepura-puraan dalam setiap pengabdiannya kepada Allah, dan secara horisontal mereka dituntut untuk tidak membada-bedakan manusia berdasarkan status sosial, ekonomi, ras, bangsa, dan sebagainya. Maka, seorang haji mabrur adalah mereka yang mampu bermuamalah ma’allâh dengan penuh ketulusan dan kejujuran hati tanpa ada kepalsuan, dan bermu’amalah ma’annâs tanpa mengenal perbedaan status apapun.

Kedua, thawaf yang secara formalistik adalah tindakan mengelilingi Ka’bah, namun secara esensial adalah pernyataan manusia bahwa Allah adalah titik orientasi kepatuhan dan perilaku mereka. Dengan kata lain, thawaf mengajarkan setiap haji agar senantiasa menjadikan Allah sebagai titik orientasi segala perbuatan, baik dalam bentuk ibadah ritual maupuan dalam mu’amalah keseharian serta memunculkan kesadaran bahwa dirinya hanyalah unsur kecil dalam jagad raya yang tunduk dan patuh terhadap ketetapan Allah s.w.t.. Maka, seorang haji mabrur adalah mereka yang senantiasa “menghadirkan” Allah dalam setiap aktivitas mereka sehari-hari. Artinya, dalam setiap perbuatan apapun, seorang haji mabrur menjadikan ajaran-ajaran Allah sebagai tolak ukur dilaksanakan atau tidak dilaksanakannya suatu perbuatan, serta menanggalkan sifat sombong dan memunculkan sifat tawadhu’.

Ketiga, sa’i secara praktikal adalah berlari-lari kecil antara shafa dan marwa. Adakah nilai yang dapat diambil dari praktek ibadah yang terkesan seperti oleh raga ini ? setidaknya ada dua nilai yang dapat diambil dan diaplikasikan dari sa’i, yaitu : sa’i mengandung nilai sikap kasih sayang manusia terhadap sesama, yang disimbolkan dari bagaimana Hajar istri Nabi Ibrahim yang karena kasih sayangnya kepada anaknya, Isma’il berusaha mencari air guna melepas dahaga anaknya. Sa’i juga mengandung nilai ikhtiar dan tawakal bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia, yang disimbolkan dari sikap Hajar yang tanpa lelah terus berusaha mencari air di tanah yang tandus disertai keyakinan bahwa Allah akan menolongnya. Maka seorang haji mabrur adalah sosok yang penuh dengan kasih sayang terhadap sesama dan selalu menyatukan antara ikhtiar dan tawakal dalam urusan-urusannya.

Keempat, wuquf di Arafah merupakan puncak dari ibadah ibadah haji : al-hajju ‘arafah (haji ialah Arafah). Jika kita perhatikan, tidak banyak aktivitas yang dilakukan para haji di Arafah, mereka hanya duduk berzikir, berdoa, dan membaca bacaan-bacaan yang mampu dilakukan. Namun mengapa intinya haji adalah Arafah ? sebab, di Arafah inilah manusia mengintrospeksi kembali segala sifat, sikap, dan perilaku mereka selama ini. Dengan proses muhasabah di Arafah inilah manusia akan mengidentifikasi berbagai sifat hayawaniyah yang selama ini ada dalam dirinya, memohon ampun kepada Allah karenanya, dan bertekad menanggalkannya. Sungguh kekeliruan besar, jika di Arafah ini seorang haji hanya mengahafal bacaan-bacaan yang diajarkan kepadanya tapi pikiran dan nuraninya sama sekali tidak mengintropeksi perbuatannya. Maka seorang haji mabrur bukan saja individu yang senantiasa berzikir mengingat Allah, tapi juga senantiasa mengintrospeksi sifat, sikap, dan perbuatan hayawaniyah yang telah dilakukan, menanggalkannya, dan kemudian memunculkan perilaku mulia.

Adapun puncak dari pembentukan karakter manusia sejati melalui ibadah haji adalah munculnya sikap solidaritas sosial melalui qurban. Qurban yang secara simbolik adalah penyembelihan hewan, secara esensial adalah pemusnahan individualitas dan egoisme manusia untuk kemudian membangun sifat solidaritas sosial dalam dirinya. Maka, seorang haji mabrur adalah yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi tidak egois dan individualis serta siap mengorbankan apa yang berharga yang dimilikinya kepada sesama. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: