Kedekatan Hamba Dengan Allah SWT

(Intisari Khutbah Jum’at 21 Oktober 2005 M / 17 Ramadhan 1426 H)

 Oleh : KH. Cholid Fadhullah, SH 

Allah SWT berfirman :

 وَاِذَاسَأََلَكَ عِبَادِىعَنِّىفَاِنِّىقَرِيْبٌ ,

 artinya : “Dan apabila hamba-hamba bertanya kepada­mu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat…”  Rasulullah SAW sebagai rasul dan pembina umat, telah mewariskan kepada kita pedoman dan tuntunan praktis yang lengkap berupa Kitabullah dan sunnah Rasul.Dalam rangka mengaktifkan dan menyuburkan hubungan kita dengan Khalik, Rasulullah berpesan kepada kita, “Perhambakanlah dirimu kepada Allah seakan-akan  engkau melihat-Nya. Dan jikalau engkau tidak dapat melihatNya dan memang tidak dapat sadarilah bahwa, sesungguhnya Dia (senantiasa) melihatmu” (Hadits Riwayat Muslim)

Menyadari dan merasakan senantiasa akan kehadiran Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang, bukan saja di waktu kita beribadah, tetapi kapanpun dan dimana saja kita berada menjadi “sumber harapan” baru bagi kita dalam suka dan duka. Alangkah sejuknya hati kita sebagai hamab Allah bila kita dalam keadaan yang sulit rumit umpamanya, dapat menanggapi bisikan Ilahi.Merasakan bahwa “Allah dekat beserta kita” menjadi sumber kekuatan dan ketabahan bagi setiap orang yang sedang berjuang mencapai cita-cita yang luhur 

لاَتَحْزَنْ اِنَّ الله مَعَنَا ,

, artinya : “…Jangan kuatir, Allah beserta kita…” (QS. 9 At-Taubah 40). Begitu bisikan Rasulullah SAW kepada teman seperjuangannya, Abu Bakar As Sidiq, di waktu mereka berdua berada di tempat persembunyiannya (Gua Hira), sedangkan pemuda-pemuda Quraisy sudah berada di pintu gua, hendak membinasakan mereka, yakni di waktu sedang berhijrah dari Mekah ke Madinah.

“Dan Allah dimana ?” begitu reaksi seorang anak gembala kambing yang buta huruf sambil menantang mata Khalifah Umar bin Khatab, ketika Khalifah Umar yang ditemani oleh Abdullah bin Dinar secara incognito, pura-pura membujuk pengembala itu supaya menjual seekor kambing kepadanya secara diam-diam, tanpa sepengetahuan majikan yang punya ternak. “Dan Allah dimana?” jawabnya  وَهُوَمَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ , artinya : “Dan Dia (Allah) besertamu dimanapun kamu berada dan melihat apa yang kamu perbuat” (QS. 57 Al Hadid 4). 

Selengkapnya suara hati nurani yang tersimpul dalam ucapan anak gembala itu “Fa ainallah” sebagai penolakkan yang tegas atas rayuan untuk berlaku curang, untuk mengkhianati amanah yang telah diterimanya. Sekalipun amanah itu hanya beberapa puluh ekor kambing saja. Kesadaran bahwa “Allah senantiasa bersamanya dan senantiasa mengetahui apa yang diperbuatnya” Kesadaran yang intentif inilah sumber kekuatan bagi anak gembala itu untuk mengendalikan diri dari perbuatan menyeleweng.

Sekalipun dia berada di tengah-tengah padang pasir, tak mungkin dilihat oleh orang lain, tak ada polisi yang akan menangkap atau penguasa yang akan menuntut. Demikianlah seseorang yang dekat dengan Allah, merasa dirinya dilindungi, merasa dibimbing, diawasi, diperhatikan dan disayang oleh Allah SWT. 

Peristiwa lain yang menunjukkan hamba yang dekat dengan Allah SWT, yaitu peristiwa ketika Khalifah Ali pada suatu kali kehilangan baju besinya. Setelah beberapa waktu kelihatan olehnya baju besinya itu ada pada seorang penduduk beragama Nasrani. Lalu dimintanya baju besi itu dengan perantaraan hakim pengadilan yang bernama Syureh. Dihadapan hakim orang itu berkata, “Mana bukti amirul Mukminin bahwa baju besi ini memang anda yang punya”, Khalifah Ali berkata, “Sesungguhnya Aku tidak mempunyai bukti”.  

Hakim memutuskan baju besi itu tetap kepunyaan orang Nasrani itu, selama tidak ada yang membuktikan sebaliknya. Khalifah Ali tunduk kepada keputusan hakim, tak ada sedikitpun terlintas dihatinya untuk menggunakan kekuasaan sebagai penguasa, mengambil saja barangnya itu kembali tanpa hukum, atau mempengaruhi hakim untuk menguntungkan dirinya. 

Inilah peristiwa teladan yang menggambarkan kedekatan hamba dengan Allah SWT. sebagai hasil dari didikan / latihan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Karena itu, marilah jama’ah jum’at rakhimakumullah kita laksanakan puasa Ramadhan dengan sebaik-baiknya  sesuai dengan petunjuk Al Qur’an dan As sunnah, jangan sampai kita beribadah puasa hanya mendapat haus dan dahaga saja, sebagaimana yang disinyalir oleh Rasulullah SAW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: