Dengan Hikmah Idul Fitri dan Hari Pahlawan,Kita Tingkatkan Kebersamaan Bangsa

(Intisari khutbah Jum’at tanggal, 11 November 2005 / 09 Syawal 1426 H)

Oleh : Prof.DR.H. Bambang Pranowo 

Mengawali khutbah Jum’at ini pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan inayah-Nya jugalah pada hari ini kita dapat menunaikan shalat Jum’at di Masjid Istiqlal ini, dalam suasana yang masih diliputi perayaan ‘Idul Fithri 1426 H, dan sekaligus kemarin kita baru saja memperingati Hari Pahlawan 10 November 2005. 

Setiap kali kita memperingati Hari Pahlawan, setiap kali itu pula kita diingatkan dengan peristiwa yang sangat heroik yang terjadi pada tanggal 10 November 1945. Pada saat itu tentara Belanda berusaha menguasai kembali Indonesia dengan memanfaatkan kehadiran tentara sekutu yang akan mengambil alih kekuasaan atas Kepulauan Nusantara ini dari pihak Jepang yang baru saja mengalami kekalahan dalam perang dunia ke II setelah Hirosima dan Nagasaki dihancurkan dengan bom atom oleh Amerika.  

Rakyat Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya tiga bulan sebelumnya, yakni pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan sendirinya tidak dapat menerima kehadiran tentara sekutu yang diboncengi tentara Belanda tersebut. Dengan persenjataan yang serba sederhana tetapi dengan semangat yang tinggi untuk mempertahankan kemerdekaan para pejuang melancarkan perlawanan habis-habisan terhadap tentara sekutu yang menyerbu Surabaya dengan persenjataan yang jauh lebih modern, baik dari laut, udara maupun darat.

Fatwa para ulama Jawa Timur yang menyatakan bahwa perang untuk mengusir penjajah adalah jihad fi sabilillah mengobarkan semangat tempur para pejuang. Ribuan arek-arek Surabaya gugur dan menjadi syuhada’ dalam pertempuran itu. Namun pertempuran tersebut telah membuka mata dunia internasional bahwa bangsa Indonesia yang berdaulat masih ada dan putra putri Indonesia telah bertekad bulat untuk mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan. 

Memperingati Hari Pahlawan, berarti mengenang kembali pengorbanan para pejuang yang telah rela mempertaruhkan jiwa dan raganya demi mempertahankan kemerdekaan dan tetap tegaknya Republik Indonesia. Secara fisik memang mereka sudah tiada namun secara spiritual mereka seolah masih hadir di tengah-tengah kita. Dalam kaitan ini patut kiranya kita merenungkan firman Allah SWT

: وَلاَ تَقُوْ لُوْا لِمَنْ يُقْتَلُ فِى سَبِيْلِ اللهِ اَمْوَاتٌ بَلْ اَحْيَاءُ وَلَكِنْ لاً تَشْعُرُوْنَ , artinya : “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (Al Baqarah : 154). 

‘Idul Fithri pada hakekatnya merupakan perayaan atas kembalinya supremasi rohani atas jasmani, jiwa atas badan; lantaran rohani atau jiwa telah disucikan dan dicerahkan dengan nilai-nilai luhur Ramadhan. Semangat untuk berorientasi kepada yang suci itu diharapkan selalu memimpin perilaku sehari-hari kita. Bukan sebaliknya, dimana sepak terjang kehidupan kita justru sekedar menuruti dan dipandu oleh nafsu-nafsu jasmaniah belaka.  

Itulah sebabnya mengapa lagu kebangsaan kita juga mengamanatkan “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!” Hal itu tidak lain karena manakala jiwa seseorang adalah jiwa yang sehat, maka dengan sendirinya akan membuahkan berbagai kebaikan. Namun manakala yang sehat itu hanya badannya, maka banyak contoh betapa para penjahat dan koruptor, baik kelas teri maupun kelas kakap, pada umumnya adalah orang-orang yang sehat jasmaninya.  

Dan, marilah kita camkan kembali bahwa Bapak TNI kita, jenderal Soedirman, ketika memimpin perang gerilya jasmani beliau dalam keadaan tidak sehat, paru-paru beliau tinggal separuh. Namun jiwa beliau sangat sehat dan mencerminkan jiwa seorang satria sejati. Di bawah kepemimpinan beliau yang dari segi jasmani tidak sehat itu TNI berhasil membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia tetap eksis sekalipun digempur oleh tentara Belanda dengan menggunakan persenjataan yang jauh lebih modern melalui Aksi Polisionil ke I tahun 1947 dan Aksi Polisionil II tahun 1948. 

Hari raya yang menandai berakhirnya ibadah puasa Ramadhan disebut ‘Idul Fithri yang berarti “kembali kepada kesucian”. Hal itu adalah karena siapa saja yang berhasil melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan mawas diri (iimaanan wahtisaban), maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu, sehingga seolah-olah ia kembali menjadi bayi yang suci bersih tanpa dosa, sebagaimana sabda Nabi SAW, artinya : “Bahwa setiap bayi itu dilahirkan dalam keadaan suci…”

Jika direnungkan secara mendalam ternyata memang bayi itu memiliki sifat-sifat yang patut dicontoh oleh orang dewasa. Sifat bayi yang menonjol paling tidak ada lima :

v    Bayi itu sifatnya suci, maka perilaku bayi senantiasa mengundang rasa kasih sayang bagi siapa saja yang memandangnya. Bahkan dalam Hadist yang lain Nabi menyatakan bahwa baunya bayi itu adalah bagian dari wewangian surga.

v    Bayi itu tidak membeda-bedakan, sekalipun ibunya miskin dan wajahnya jelek si bayi tetap lebih cenderung lengket dengan ibunya daripada dengan orang lain meskipun lebih kaya dan cantik.

v    Bayi itu senantiasa jujur. Dia akan menangis manakala lapar atau haus dan akan diam manakala kenyang. Tidak pernah sebaliknya !

v    Bayi tidak punya rasa dendam. Meskipun bayi menangis sejadi-jadinya tatkala ditinggal ibunya untuk suatu keperluan, tetapi begitu ibunya kembali si bayi langsung menyambut kehadiran sang ibu dengan penuh kegembiraan. Tidak menyimpan dendam lantaran tadi sang ibu telah meninggal­kannya.

v    Bayi itu tidak serakah. Bayi hanya makan dan minum sekedar sesuai keperluan. Bayi tidak pernah menyedot susu ibunya lebih dari yang dibutuhkannya. Kelima sifat bayi tersebut di atas kiranya perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari agar kita benar-benar termasuk “Minal ‘Aidin wal Faizin”, yakni termasuk golongan orang-orang yang “kembali kepada kesucian” dan “memperoleh kemenangan” dalam berperang melawan hawa nafsu. 

Nilai yang terkandung dalam peringatan Hari Pahlawan, jika ditambah dengan hikmah yang terpancar dari ‘Idul Fithri, sungguh merupakan kekayaan kultural dan spiritual dalam kehidupan kita. Itu semua makala diaktualkan dalam kehidupan sehari-hari dapat dipastikan akan menjadi sumbangan semakin berkualitasnya perwujudan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Atas dasar itu semua marilah dengan hikmah ‘Idul Fithri dan Hari Pahlawan, kita perbaharui tekad kita untuk berbuat dan memberikan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: