Keterpurukan Bangsa

(Intisari Khutbah Jum’at, Tanggal 8 Juli 2005 M / 1 Jumadil Akhir 1426 H) 

Oleh : KH. Soetrisno Hadi, SH

Amat banyak ciri yang melekat dalam diri seorang yang bertaqwa. Satu di antaranya adalah orang yang bertaqwa adalah orang yang dalam kesehariannya selalu menjadikan Al-Qur’an sebagai acuan utama dan sumber inspirasi yang kuat dalam melakukan kegiatannya. Hal itu, sejalan dengan Firman Allah dalam awal surat Al-Baqarah, “هُدًىِللْمُتَّقِيْنَ”, Al-Qur’an itu menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Petunjuk yang dapat dipetik dari kitab suci mulia itu. Imam Nawawi mengatakan bahwa dalam Al-Qur’an akan didapati banyak informasi tentang aqidah, syari’at, akhlak, dan sejarah.

Sejarah-sejarah tentang bangsa-bangsa masa lalu (al-akhbar ‘an al-umam al-khaliyah) yang dapat dijadikan bahan kajian dan renungan bagi bangsa yang datang kemudian. Dalam kajian sejarah itu, kita akan banyak mendapatkan hal penting tentang keberhasilan orang-orang masa lalu (al-Su’ada) seperti para nabi dan rasul, juga keterpurukan bangsa zaman lampau (al-Asyqiya) seperti kaum “Ad, Tsamud, Fir’aun, Bani Israil, dan masih banyak lainnya. Dalam surat al-Fajr, Allah SWT mengingatkan Rasulullah SAW dan semua manusia betapa dulu Allah SWT telah memperbuat terhadap kaum ‘Ad (Al-Fajr 89:6-8).

Prof. Wahbah al-Zuhayli dalam tafsirnya mengatakan : “Tidakkan kamu tahu wahai sekalian manusia, bagaimana Allah SWT telah membinasakan “qabilah ‘Aad”. Mereka sekalian adalah anak cucu ‘Aad bin Hawsh bin Iram bin Sam bin Nuh as (generasi kelima setelah Nabi Nuh as).  Yang tinggal di Iran, daerah yang terletak antara Amman dan Hadhramaut, mereka adalah bangsa yang maju dalam tekhnologi arsitektur dan bangunan. Mereka berhasil membangun bangunan-bangunan yang tinggi dengan tiang yang kokoh kuat. Yang belum pernah dibangun seperti itu di negeri lain pada masa itu (Al-Fajr 89 : 7-8).

Bangsa ‘Aad binasa, padahal mempunyai ilmu dan amal yang hebat karena ketiadaan iman, dan sikap durhaka terhadap Tuhannya (Allah SWT). Begitu juga, bangsa Tsamud yang memotong-motong batu-batu besar di lembah (Al-Fajr 89:9) . Lembah (al-Wadi al- Qura) itu terletak di bagian utara jazirah Arab, antara kota Madinah dengan Syam. Mereka memotong-motong batu gunung untuk membangun gedung-gedung tempat tinggal mereka dan ada pula yang melubangi gunung-gunung untuk tempat tinggal mereka dan tempat berlindung.

Bangsa Tsamud adalah kaum Nabi Shaleh As. Mereka celaka dan binasa karena mendustakan rasulnya dan bersikap melampaui batas (As Syams 91:11). Kecemerlangan ilmu pengetahuannya, namun tidak ditopang oleh kesadaran berketuhanan yang tinggi mengakibatkan perilaku yang mendustakan kebenaran dan membangkang terhadap ketetapan Allah SWT. Demikian pula, kaum Fir’aun (bangsa Mesir) yang mempunyai pasak-pasak (tentara-tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab (Al Fajr 89:10-13).

Pelajaran yang dapat diangkat dari kisah ini adalah kekuasaan yang besar dilengkapi dengan kekayaan yang berlimpah serta kekuatan pasukan yang hebat bila tidak disertai dengan kesediaan untuk menundukkan diri (compliances) kepada Tuhan (Allah SWT), maka kehancuranlah yang akan diperoleh. Mencermati semua kejadian sejarah di masa lalu itu, barangkali kita semua bersepakat. Tidak ada satupun di antara kita, bangsa Indonesia yang menginginkan hidup seperti mereka. Hidup terpuruk, hina, dan binasa. Banyak hal yang membuat kita perlu merasa prihatin dengan kondisi bangsa kita.

Betapa banyak saudara-saudara kita di tanah air ini yang hidup menderita, disamping tentu saja mewah, mereka adalah sebagian besar kaum muslimin Indonesia. Mereka menderita busung lapar, lumpuh layu, gizi buruk, kepala besar, kaki gajah, muntaber, demam berdarah, dan masih banyak lagi kesulitan yang dialami anak bangsa ini yang mayoritas adalah umat Islam. Sementara belum selesai dihadapkan dengan musibah besar seperti badai Tsunami, gunung meletus, dan lainnya, kini kitapun dihadapkan pada berbagai pesoalan lainnya seperti kelangkaan energi BBM. 

Lalu, apa yang salah pada bangsa ini. Mengapa hal itu harus terjadi dan menimpa bangsa yang mayoritasnya adalah muslimin?. Apanya yang salah pada bangsa ini. Mengapa justru bukan kita yang semestinya hidup dalam negara yang “baldatun thayyibun wa rabbun ghafur”. Untuk menjawab itu, semua ada baiknya bila kita memperhatikan bagaimana Rasulullah SAW dulu mengingatkan “warning”nya pada kita dengan bersabda :

“Ada lima hal yang mengiringi lima hal lainnya; Jika banyak kaum yang melanggar janji (amanat yang dipikulkan kepadanya), pasti Allah akan kirimkan kepada mereka orang-orang yang memimpin justru musuh mereka (orang yang bukan dari kalangan mereka sendiri). Apabila mereka memutuskan hukum tidak mengikuti apa yang diturunkan Allah (tidak sesuai dengan rasa keadilan), pasti akan tersebar kemiskinan dan dan kesengseraan.  Apabila perbuatan-perbuatan keji (seperti : zina, aurat, judi, korupsi, manipulasi, kolusi, dan sebagainya), maka akan tersebar di mana-mana kematian yang tragis. Apabila banyak orang yang tidak lagi benar dan jujur dalam menimbang dan menakar, maka Allah akan menahan tumbuhnya tanaman-tanaman serta minyak dan bahan bakar bagi kesejahteraan manusia. Apabila banyak orang yang tidak lagi mau membayar zakat maka Allah SWT akan mencegah turunnya hujan dari langit” (H.R.Thabrani dari Ibnu Abbas) (Wahbah al-Zuhayli, Juz 30,1991 : 115). 

Bagaimana kita bisa selamat dari yang demikian itu, kata kuncinya adalah seperti difirmankan Allah : اِنَّ رَبَّكَ لَبِاالْمِرْصَادِ artinya : “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” (QS. 89 Al-Fajr 14). Kesadar­­an bahwa Tuhan selalu mengawasi perbuatan kita, akan menghasilkan ketaatan dan kesediaan kita untuk mau menyelaraskan setiap prilaku perbuatan kita dengan “kehendak Allah SWT”, jika ini terjadi maka akan tercipta suasana ketaqwaan dalam negeri yang akan menghasilkan keberkahan dari langit maupun dari bumi, seperti : وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىءَامَنُواْوَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَاعَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ , artinya : “Jika seandainya mereka beriman dan bertaqwa, pastilah Kami bukakan pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi” (QS. 7 Al-“Arraaf 96).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: