Kejujuran Cermin Ketaqwaan

(Intisari Khutbah Jum’at Tanggal 16 September 2005 M / 12 Sya’ban 1426 H)

 Oleh : Drs.KH. Nuril Huda 

Allah SWT berfirman yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS. 3 Ali Imran 102).Setiap Jum’at pasti kita mendengar kalimat taqwa, di dalam Al Qur’an banyak sekali kita menemukan kalimat taqwa, memang kalimat taqwa ini kata sifat, pelakunya dinamakan muttaqin, yakni orang yang senantiasa memelihara hubungan baik kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas). 

Maka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus bertaqwa kepada Allah tidak hanya dititik beratkan kepada seorang pemimpin saja, melainkan juga kita semua. Mari kita kembali membuka lembaran sejarah pada zaman Saidina Umar r.a. beliau seorang Khalifah di Madinah. Ketika itu Madinah dilanda krisis ekonomi, sehingga Saidina Umar membuat PERDA/­Peraturan Daerah.

Satu di antara lain isinya adalah, seorang penjual susu dilarang mencampuri susunya dengan air biasa, supaya tidak merugikan konsumen. Tetapi Saidina Umar belum yakin, apakah peraturan ini berlaku ataukah tidak, Saidina Umar pada suatu malam melakukan sidak dikawal oleh seorang sahabatnya yang bernama Aslam.Mari Aslam, kita lihat perbuatan rakyat kita, apakah tunduk kepada peraturan ataukah tidak.

Alangkah terkejutnya pada jam tiga malam, mendengar suara seorang ibu memerintahkan kepada seorang anak perem­puan­­nya berkata demikian, “wahai anakku campurlah air susu itu dengan air biasa”, besok pagi kita akan jual di pasar, sehingga tiga liter menjadi delapan liter, lalu anaknya berkata, “wahai ibunda di negeri ini ada peraturan daerah, seorang penjual susu dilarang mencampuradukkan susunya dengan air biasa, karena akan merugikan konsumen”. Kata ibunya, wahai ananda, alangkah bodohnya engkau, kita segera akan menjadi orang kaya, kita bisa menumpuk harta melimpah ruah, sehingga merasakan kebahagiaan di dunia ini, alangkah bodohnya engkau tidak ingin menjadi orang kaya.

 Anaknya menjawab, “wahai ibunda memang malam yang gelap gulita seperti ini tidak seorangpun mengetahui perbuatan kita tapi di mana Allah”. Allah pun akan tahu, kapanpun Allah akan meminta pertanggungan jawaban kita dihadapanNya!.

Jawaban anak muda ini didengar oleh Saidina Umar di luar rumah. Kata Saidina Umar wahai pengawal catat rumah ini besok kita panggil untuk menghadap ke istana.Maka paginya dipanggilah wanita itu oleh Saidina Umar, kata Saidina Umar, wahai ibu! berapa anakmu. Lalu dijawabnya, bahwa saya hanya mempunyai seorang anak wanita. Aku mau ambil menantu putrimu kata Saidina Umar.Ooo Saidina Umar tidak seimbang, saya seorang ekonomi lemah, sedangkan tuankan seorang Khalifah Peguasa negara, sahut si ibu. Kata Saidina Umar, saya tidak tertarik dengan itu, saya tertarik anakmu seorang anak yang bertaqwa dan shalehah.

Negeri kita punya slogan negeri yang berbudaya, tapi kenyataannya kejujuran sudah mulai hilang, baik dikalangan para pemimpin maupun dikalangan rakyatnya.Kita ambil contoh lagi dari satu kisah pemimpin yang bertaqwa kepada Allah dan bertindak adil, yaitu pada masa Umar bin Abdul AzizMesir itu salah satu Propinsi dari Madinah, diangkatlah seorang Jendral di Mesir pada waktu itu, yang bernama Amru Bin Ash, seorang panglima angkatan bersenjata untuk menjadi gubernur di Mesir.

Setiap Jum’at Masjid di Mesir itu penuh sesak, tidak muat orang Jum’atan. Maka terbetik di hati Sang Gubernur; masjid ini perlu dilebarkan, dibangun kembali supaya menjadi masjid yang besar, yang bisa memenuhi hasrat umat Islam. Di samping kiri kanan masjid ada dua hektar tanah, setelah diurus bahwa yang punya tanah ini adalah orang Yahudi, dipanggilah Yahudi tersebut oleh Amru bin Ash.

Apakah benar di samping masjid itu tanah saudara, titah gubernur. Benar, sahut si Yahudi. Tolong kami beli demi kepentingan umat Islam untuk meluaskan masjid ini, kata gubernur. Apa kata orang Yahudi, ya pemimpin umat, bahwa tanah ini tidak akan kami jual, tanah ini warisan sejak zaman nabi Musa a.s, Apa kata Sang Gubernur; saudara Yahudi, boleh atau tidak saya beli, memang kecendrungan seorang penguasa dalam memberikan keputusan sering memaksa kepada orang lain.Lalu dibelilah tanah seluas dua hektar tersebut, kendati si Yahudi tidak rela.

Buntutnya orang Yahudi ini jalan kaki ke Madinah mau mencari keadilan kepada Saidina Umar bin Khathab sebagai Pimpinan Negara. Setelah bertemu dengan Saidina Umar, si Yahudi ini melapor tentang kejadian yang dialami oleh dirinya. Setelah Saidina Umar mendengarkan ceritanya, lalu berkata; baik saudara saya menangkan, saya ini pimpinan negara, tidak pandang bulu, apakah Islam, apakah Yahudi, tidak saya pikir, yang saya pikir adalah mengayomi seluruh rakyatku. Saudara Yahudi! kapan saudara pulang ke Mesir? kata Saidina Umar, kalau hendak pulang tolong mampir ke sini dulu.

Pada sore hari datanglah Yahudi itu ke Saidina Umar, ya Amirul Mukminin saya akan pulang ke Mesir. Kata Saidina Umar, tolong sampaikan pesan saya kepada saudara Gubernur, yang kedua tolong surat ini bawa dan sampaikan kepadanya. Setelah sampai di Kairo si Yahudi menghadap Gubernur, apa kata orang Yahudi, saudara gubernur saya minta maaf, perbuatanmu memaksa saya untuk menjual dua hektar tanah membuat saya kesal, lalu saya laporkan kepada atasan saudara dan ini jawabannya.

Alangkah terkejutnya setelah surat itu dibuka, Amru bin Ash seorang panglima angkatan bersenjata menangis. Si Yahudi berkata; Saudara gubernur, engkau adalah seorang pejuang, satria dalam pertempuran, mengapa engkau menangis? Kata sang gubernur, Ooo saudara Yahudi, perbuatan saya salah, memaksa tanah saudara saya beli itu salah, perintah Saidina Umar, kembalikan tanah itu kepada yang punya, kata Amru bin Ash. Oleh karena itu hai yahudi saya minta maaf, dan tanah itu akan saya kembalikan kepadamu. Orang Yahudi berlinang air matanya dan berkata, Ooo sang gubernur, alangkah hebatnya atasanmu, punya bawahan yang bersalah tetap akan dihukum sesuai denga hukum yang berlaku di negeri ini.

Kata sang gubernur, memang Yahudi, agama kami agama Islam, saya ini seorang pejabat tidak gampang-gampang, tanggung jawab saya di dunia sampai di akhirat, bukan hanya di DPR dan MPR saja, kata Amru bin Ash. Sebab Allah SWT menciptakan manusia seluruh amal perbuatanya ditulis di Lauhil Mahfuzh, apakah yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi, semua dikeluarkan dan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Dan di hari itu tidak seorangpun yang bisa mengelak dan tidak seorangpun yang akan membelanya. 

Inilah sebabnya saya mohon maaf, saya kembalikan tanah ini kepadamu, kata gubernur. Lalu termangu-mangulah orang yahudi. Kata orang yahudi, alangkah hebatnya agamamu, memang agama kami adalah rahmatan lil‘alamin, sahut gubernur.  Akhirnya orang yahudi berkata, wahai sang gubernur, saya tertarik kepada keadilan agamamu, alangkah hebatnya agamamu bisa memberikan maaf kepada seorang rakyat seperti saya ini, bolehkah saya masuk agamamu, boleh kata Amru bin Ash, lalu berjabatan tangan dan membaca dua kalimah syahadat, dan orang Yahudi itu masuk Islam.

Setelah orang Yahudi masuk Islam beliau berkata; ya Amirul Mukminin dua ribu dinar yang kemarin engkau berikan kepada saya sebagai pembeli tanah dua hektar, akan saya kembalikan kepada sang gubernur, dan terimalah ini dan dua hektar akan saya kembalikan untuk perluasan mesjid.           Kalau di Mesir ada masjid yang luasnya dua hektar itu adalah wakaf dari seorang yahudi, setelah masuk Islam, karena orang-orangnya bertaqwa kepada Allah.

Inilah sebabnya, setahun sekali Ramadhan datang mengajak kita bersama, sebagaimana firman Allah, semoga kalian menjadi orang yang bertaqwa, semoga negara kita dipimpin oleh orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, rakyatnya bertaqwa, pemimpinnya bertaqwa kepada Allah, kalau selama kedua ini tidak sama, sampai hari Kiamat nanti negara kita tidak akan ada kebaikan lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: