Dzikir Melahirkan Akhlak yang Mulia

(Intisari Khutbah Jum’at tanggal, 05 Agustus 2005 M / 29 Rabiul Akhir 1426 H)

 Oleh: H. Moh. Arifin Ilham  

Kita hidup Senantiasa dalam kesaksian, setiap kita diberi hati oleh Allah dan di dalam hati itu ada nur, partikel hidayah terkecil diberikan kepada kita. Dari situlah kita bisa mengenal diri kita tanpa harus bertanya kepada orang yang terdekat sekalipun. Hati nurani itu akan menjelaskan bahkan menceritakan dengan apiknya, semua kejadian-kejadian dengan lengkap.

Perbuatan maksiat apa yang kita lakukan yang lalu atau tadi malam, hati nurani itu merekan dan tidak ada yang tidak dicatat. Firman Allah :إِنَّ اْلإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ , artinya : “Sungguh manusia itu benar-benar ingkar / kufur kepada Allah” (QS. 100 Al-Aadiyat : 6). 

Karena dia melakukan maksiat dalam kesaksian dirinya, ketika tangan menerima sesuatu yang tidak halal, sadar ini tidak halal, tapi tidak sanggup untuk menolaknya, ketika kaki melangkah ke tempat yang tidak terpuji, sadar ini jalan kemungkaran, tapi tidak sanggup menghetikan walau kaki sendiri atau ketika mulut ghibah, fitnah, dusta, ini dosa besar, lagi-lagi tidak bisa mengendalikan walau mulut kia sendiri.

Inilah hati yang sudah diraksuki oleh hawa nafsu, sehingga nur yang ada dihati itu digelapkan, ditutupi dengan perlakuan kita kepada diri kita sendiri.  Sebenarnya ketika kita melakukan kezaliman, kita lebih dahulu menzalimi diri kita, dan tatkala kita mendustai orang lain, kita lebih dahulu didustai, jangan pernah bangga mendustai orang lain.

Malaikat-malaikat senantiasa menyaksikan perbuatan kita. “Kiroman Katibin ya’lamuna maalaata’lamun”, tidak ada yang tidak dicatat oleh para malaikat. Allah berfirman,مَايَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّلَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيدٌ , artinya : “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. 50 Qaaf : 18).  Keimanan kita kepada kalam Allah ini membuat kita berhati-hati setiap tutur kata, apalagi cerita dalam hidup ini, karena Rasulullah SAW bersabda : قُلْ خَيْرًااَوْلِيَصْحُتْ , “Berkatalah baik dan benar, kalau tidak diam”.

Inilah ciri khas hamba-hamba Allah yang beriman, bukan hanya menyampaikan, tapi sampai pada pilihan yang tepat. Dari semua perkataan-perkataan dimuka bumi yang diucapkan oleh mahluk Allah dalam hitungan detik, dari perkataan sejak lahir atau aqil baligh diklaripikasikan dari semua kata-kata dari mulut. Kata-kata yang paling disukai Allah dan para malaikat dzikir kepada Allah SWT.

Di dalam berda’wah Allah SWT telah berfirman ; وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّنْ دَعَاإٍلَى اللهِ, artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah…” (QS.41 Fushilat : 33).  Perkataan mengajak kejalan Allah itulah perkataan yang disukai oleh para malaikat. Kemudian yang ketiga, alam semesta ini merekam, mencatat segala aktivitas kita, jangan dianggap benda mati dalam hukum alam, tapi berlaku hukum sunnatullah.

Bahwa alam ini hidup bergerak mencatat segala lakon yang kita buat, langkah demi langkah kehidupan kita, bekas-bekas semua dihimpun oleh Allah dan akan menjadi saksi apa-apa yang kita perbuat. Alam semesta, matahari, bulan, bintang, partikel, sel. Allah tegaskan dalam Al-Qur’an, sungguh bertasbih kepada Allah yang Maha perkasa Allah lagi Maha bijaksana.  Alam semesta ini sangat sayang, sangat cinta kepada hamba-hamba Allah yang senantiasa berdzikir kepada Allah, dari dzikirnya lahirlah akhlaq yang mulia, kemudian puncak dari segala saksi adalah Allah yang menggerakkan semua saksi.

Kalau kita terus dalam kesaksian, hati ini menyaksikan kita, dan Allah puncak dari segala saksi yang menyaksikan kita, bagaimana mungkin kita melakukan maksiat, bagaimana kita bisa berbuat zholim, inilah ihsan buah keimanan kita dari Allah SWT.  Karena itulah, hamba Allah yang beriman yang senantiasa disaksikan oleh Allah hadir pada dirinya sifat teragung, al ikhlas, percaya dirinya hanya untuk Allah, ia lakukan semua karena Allah dan ia hidup dalam syariat Allah.

Dari mahkamah kesadaran bahkan keyakinan dalam kesaksian inilah melahirkan kekuatan aqidah, ibadah dengan khusyu’ dengan deraian air mata, hati yang terjaga berdzikir kepada Allah, tetapi sudah melahirkan kekhusyu’an, merasakan ni’mat dalam tatapan Allah dan akhlaknyapun mulia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: