Dampak Negatif Dari Kedurhakaan

Intisari Khutbah Jum’at, Tanggal, 27 Mei 2005 M / 18 Rabi’ul Akhir 1426 H

Oleh : Drs.KH. Abdurrahim Yashuri 

Khutbah kali ini kita ketengahkan yang berjudul “Pengaruh negatip disaat ada problem Kedurhakaan” yang membawa akibat kesialan dan kemalangan hidup bagi manusia. Dosa senantiasa membawa manusia sengsara, maksiat mendatangkan laknat, menentang kebenaran dan musti saja akan mengakibatkan kehancuran. Oleh karena itu Allah berfirman dalam Al-Qur’an : وَذَرُوْاظَاهِرَاْلإِثْمِ وَبَاطِنَهُ إِنَّ الَّذِينَ يَكْسِبُونَ اْلإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَاكَانُوْا يَقْتَرِفُونَ ,  artinya : “Jauhkanlah, hindar¬kan¬lah oleh kamu sekalian dosa lahir maupun yang bathin, dosan yang secara demostratif maupun sembunyi-sembunyi, sesungguhnya orang-orang yang malakukan hal itu, Allah akan membalasanya bisa segera, bisa juga ditunda” (QS. 6 Al An’am : 120). 

Sudah menjadi kebiasaan dari orang-orang kalangan Salafus sholihin, apabila mereka mendapatkan suatu ujian dari Allah misalnya; tertimpa bencana, dan kesulitan dalam masalah keduniaan, selalu saja orang yang sholeh kembali kepada dirinya untuk segera mengadakan introspeksi, kemudian dia berkata ; kemalangan, kesialan, marabahaya yang terjadi ini tentu karena aku telah berbuat dosa atau karena aku tidak memenuhi hak Allah atau karena aku telah bebuat sesuatu yang keliwat batas di sisi Allah. Atau barangkali bencana kehidupan ini disebabkan aku telah menzhalimi salah seorang di antara hamba-hamba-Nya. Atau mungkin aku telah melalaikan kewajiban yang diberikan oleh Allah. Atau mungkin karena telah melanggar apa-apa yang diharamkan oleh Allah SWT.  

Sudah menjadi kebiasaan orang-orang yang sholeh sebagai syi’ar agamanya, apabila mendapatkan kesulitan hidup dan kesengsaraan hidup. Bencana yang menimpa dirinya dia kembali kepada Allah untuk mengetuk pintu rahmat-Nya sambil bertaubat dan memohon ampunan-Nya, seraya mengucapkan yang seperti diucapkan oleh bapak Adam AS dan ibunda Siti Hawa, yang artinya : “Wahai Robb kami, kami telah menzhalimi diri kami dan sekiranya Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, kami akan termasuk di dalam hamba-Mu yang merugi”. (QS. 7 Al A’raaf : 23).  

Begitulah syi’ar orang sholeh apabila mengalami sesuatu yang tidak diingininya, yang biasa disebut musibah, sebagaimana dinyatakan di dalam Al Qur’an, surat Al-Anbiya ayat 87 yang diucapkan oleh Nabi Yunus AS ketika berada di kegelapan, gelapnya di dalam perut ikan. Ketika dia pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, dia menyangka bahwa Allah tidak akan mempersulit, ketika itu dia berdo’a yang artinya : “Sesungguhnya Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zhalim”.  

Begitu juga orang-orang yang sholeh disaat melihat sesuatu yang baik, mendapatkan kenikmatan, dia akan mengembalikan kepada dirinya mengembalikan semua anugerah nikmat dan karunia-Nya, kepada sumbernya yaitu Allah SWT, sebagaimana yang diajarkan oleh baginda Rasul ketika melihat yang menyenangkan “Beliau berucap Alhamdulilah”, segala puji dan dengan segala nikmatNya dan segala kebaikan menjadi sempurna”, Orang-orang yang shaleh ketika mendapatkan anugErah dan balasan dengan ridha dan surga-Nya mereka berucap yang artinya : “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk pada kami ini, sekiranya saja Allah tidak  melebihkan kami, niscaya kami tidak akan mendapatkan petunjuk” (QS. 7 Al-A’raaf : 43).  

Demikianlah yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW bagi setiap orang yang sholeh, yang senantiasa mengembalikan segala rintangan, kesulitan, penderitaan, kepada dirinya sendiri, tetapi setiap kesenangan dan kesuksesan selalu dia puji, dan dikembalikanya kepada sumber dari segala kenikmatan. Di mana Nabi sabdakan yang artinya : “Barang siapa yang mendapatkan kebaikan, pujilah Allah, barang siapa yang mendapatkan tidak seperti yang dikehendakinya jangan salahkan siapa-siapa, apalagi menyalahkan orang lain, karena hatinya telah tertanam”.  Begitulah Allah firmankan وَمَابِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ ثُمَّ إِذَامَسَّكُمُ الضُّرُّفَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ  : , artinya : “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu maka dari Allah-lah datangnya dan bila kamu ditimpa kemadharatan maka hanya kepada-Mulah aku meminta pertolongan”. (QS.16 An Nahl : 53).

Allah telah memberikan tugas kepada Malaikat dalam surat Ar-Ro’ad ayat 11, yang artinya : “Bagi manusia ada Malaikat-Malaikat yang silih berganti menjaga mereka, sesuai perintah Allah dari depan dan dari belakang, bahkan ada Rakib dan Athid di kanan kiri kita, sesungguhnya Allah tidak akan merubah pada diri kaum, keadaan suatu bangsa, hingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka, bila Allah menghendaki sesuatu yang buruk, bencana misalnya pada suatu kaum, tidak ada yang bisa menolaknya, dan tidak ada yang dapat menolong mereka kecuali Allah SWT”.  

Layak dicermati apa yang dikomentari oleh para sahabat Nabi, yang mengatakan bahwa tidak ada bencana kecuali karena ulah, dosa dan durhakamu, dan bencana itu tidak bisa ditolak dan dielakkan kecuali dengan bertaubat kepada Allah. Dengan tegas Allah berfirman dalam surat An-Kabut ayat 40 yang maksudnya : “Masing-masing mereka kami siksa di dunia karena dosa-dosa mereka, di antara mereka yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada di antara mereka Kami timpa dengan suara keras mengguntur, ada yang kami benamkan ke dalam tanah, ada yang kami tenggelamkan ke dalam laut, sekali-kali bukan karena Allah ingin menganiaya mereka namun karena menganiaya diri mereka sendiri”.  

Apakah penghuni negeri-negeri ini masih merasa dengan datangnya siksaKu, yang kami datangkan kepada mereka di waktu malam ketika mereka sedang asik tidur, apakah penghuni-penghuni negeri ini dengan datangnya siksaKu yang Aku datangkan di waktu sepenggala matahari naik, mereka sedang bermain-main, apakah mereka masih ada yang berani merasa aman dengan kedatangan siksa Allah, yang datangnya tidak terduga, tidak ada yang berani berbuat seperti itu, kecuali orang-orang yang merugi. Nabi Muhammad SAW bersabda di dalam salah satu hadisnya riwayat Ibnu Majah Nasa’i dan Ibnu Hibban yang artinya : “Hukuman yang diberlakukan di dunia itu akan lebih baik, bagi penghuni bumi daripada hujan turun 40 hari terus menerus”.

Hadits ini memberi ketegasan bagi umat Islam, kalau memberlakukan hukuman bagi orang yang layak untuk dihukum, dan setelah memenuhi sarat-saratnya itu adalah lebih baik dan lebih berhak bagi bumi dan penghuninya, dari pada hujan turun selama 40 pagi, sebab tidak ada baiknya jika hujan turun dari langit, bumi menjadi subur dan tanaman menjadi tumbuh, kemudian buah dipanen lalu dinikmati dan dimakan oleh para penzina, pemabok dan perampok, pencuri dan para penjahat, serta mereka yang berbuat kezaliman di muka bumi ini.  

Jika hukum tidak diberlakukan dan tidak ditegakkan, dan jika semua orang menelantarkan hukuman yang sesuai dengan ketetapan syari’at, maka hukuman dari langit pasti akan turun kepada manusia. Hukuman dari langit adalah hukuman yang pasti dari Allah, dan hukuman alam akan turun kepada semua manusia. Sedangkan hukuman yang telah ditetapkan oleh syari’at hanya berlaku bagi orang yang melanggarnya saja.  Sahabat Ibnu Abbas memberikan kesimpulan dari keterangan ini dengan kesimpulan sebagai berikut : “Sesungguhnya kebaikan itu akan menimbulkan keceriaan diwajah manusia, cahaya di dalam hati, keluasan di dalam rizki, kekuatan pada badan dan kecintaan dalam hati rakyat dan manusia banyak.

Sebaliknya kejahatan, keburukan adalah akan membuat manusia menjadi benci, kekuatan menjadi lemah, muka menjadi muram. Kemudian hati menjadi pekat, pada akhirnya kehidupan akan semakin sulit”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: