Kejujuran Versus Kecurangan dan Korupsi

(Intisari Khutbah Jum’at 9 Desember 2005 M / 7 Dzulqa’dah 1426 H)

Oleh : Drs.KH.M. Adnan Harahap

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an : وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَ ةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ, artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. 98 Al-Bayyinah 5).

Ibadah wajib dengan hati yang ikhlas tanpa riya atau munafiq, semata-mata ikhlas karena Allah. Ikhlas/jujur menurut Islam adalah benar dalam perkataan dan amanah dalam perbuatan dan menjaga muru’ah, apa yang tersirat dalam hati, sama dalam perbuatan lahir serta jauh dari kebohongan, riya’, dan kemunafikan. اَوْصَانِى رَبِّى بِتِسْعِ أُوْصِيْكُمْ بِهَا , Allah SWT berwasiat kepada Nabi Muhammad SAW dalam hadits Qudsy, yang diwasiatkan Nabi kepada umatnya :

1. Jujur lahir bathin أَوْصَانِى بِاْلإِخْلاَصِ فِىالسِّرِّوَاْلعَلاَنِيَةِ2. Adil terhadap kawan dan lawan

وَاْلعَدْلِ فِىالرِّضَا وَاْلغَضَبِ3. Hidup bersahaja baik waktu kaya maupun miskin وَاْلقَصْدِ فِىاْلغِنَى وَاْلفَقْرِ

4. Pemaaf terhadap yang sudah menganiayanya وَأَنْ أَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَنِى

5. Menolong orang yang pernah merugikannya

وَأُعْطِىَ مَنْ حَرَمَنِى6. Bersilaturrahmi dengan orang yang memutuskan silaturrahmi kepadanya

وَأَصِلَ مِنْ قَطَعَنِى7. Ucapannya dijadikan dzikir, وَأَنْ يَّكُوْنَ صُمْتِى فِكْرًا8. Diamnya dijadikan fikir, dan وَنُطْقِى ذِكْرًا

9. Pandangannya dijadikan ‘itibar وَنَظَرِى عِبْرًا

Dampak kejujuran dalam kehidupan :

1. Efisiensi pekerjaan dan pembiayaan

2. Penghematan yang maksimal

3. Keberanian yang penuh tanggung jawab

4. cepat dan tepat mengambil solusi

5. Berani berkata apa adanya

6. Kepemimpinan yang amanah

7. Mena’ati proses yang ditetapkan

8. Kepastian prilaku personal (integritas)

9. Tidak bercampur yang hak dengan yang bathil

10. Ketenangan lahir dan bathin

11. Berani mengambil tindakan tegas.

Labelitas Muslim adalah : 1) Kejujuran, 2) Kesederhanaan, dan 3) Keadilan.وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ , artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. 41 Al-Fushilat 33)Mengacu pada nilai yang terkandung dalam ajaran ibadah :

1. Syahadat; statetmen dan commitment pribadi kepada Allah SWT

2. Sholat; melahirkan manusia tertib dan teratur, bersih dan terbentengi dari perilaku keji dan segala kemaksiatan.وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَ ةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ , artinya : “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjaka” (QS. 29 Al-Ankabut 45).

3. Puasa; melahirkan manusia; Jujur, penuh kasih sayang, dan penuh persaudaraan.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ , artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. 2 Al-Baqarah 183).

4. Zakat; melahirkan menusia sosial dan dirinya terbentengi dari faham materialisme.خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا , artinya : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (QS. At-Taubah 103).

5. Haji; melahirkan manusia global yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia di atas landasan ketaqwaan, menjadi manusia terbaik (mabrur). اَلْحَجُّ اْلمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءُ اِلاّ َاْلجَنَّةِ (الحديث)Labelitas Muslim adalah catatan sejarah lahir dan berkembangnya Islam bukan terletak pada kekuatan persenjataan dan kejayaan material, tapi adalah integritas setiap Muslim yang hidup berprilaku jujur, bersahaja dan adil. Sekarang prilaku ini yang dituntut dan sekaligus menjadi tantangan, karena Islam tidak bermakna bagi orang yang pintar, kaya dan berkuasa, apabila tidak didasari kejujuran, kesederhanaan dan keadilan. Itulah sebabnya sering kita mendengar ucapan-ucapan yang menyakitkan umat Islam, mereka berucap : Shalat, puasa dan berhaji berulang-ulang, tapi korupsi pun terus? Na’uzubillah

Tuduhan sinis yang dialamatkan kepada orang yang melakukan rutinitas beribadah yang tidak mempengaruhi perilakunya dalam arti ibadahnya nampaknya baik, tapi perilakunya tidak berubah menjadi baik. Karena itu pulalah orang ada yang berpendapat, yang penting asal dia berbuat baik saja sudah cukup.Pandangan ini tumbuh, karena agama dibanggakan sebagai syi’ar atau simboliknya, padahal agama adalah pedoman hidup lahir dan bathin yang melahirkan manusia “Khairo Ummah”.Allah SWT berfirman : كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ , artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. 3 Ali Imran 110).

Hukum Islam Menjawab Tantangan Zaman

Oleh : Prof.DR.H. Abudin Nata, MA

(Intisari khutbah Jum’at, 02 Desember 2005 M / 29 Syawwal 1426 H)

Judul khutbah kita ini adalah mengenai “Hukum Islam menjawab tantangan zaman”. Ada beberapa hal terkait dan menarik.  Yang pertama adalah bahwa manusia menginginkan suatu kehidupan yang aman, tertib, nyaman, penuh keserasian / kerukunan, dan suatu hidup yang penuh ketertiban dan seterusnya.Dari kehidupan tersebut telah memungkinkan manusia dapat beraktivitas dalam seluruh kehidupan­nya, dalam bidang ekonomi budaya dan lain sebagainya manusia membutuhkan situasi yang seperti itu.

Karena itulah harus ada aturan, dan aturan itu sifatnya harus kokoh, harus kuat dan harus berasal dari yang menciptakan manusia, yaitu Allah SWT, yang dielaborasi, diuraikan, dijelaskan oleh Rasululoh SAW dan kemudian dijabarkan lebih lanjut oleh berbagai peraturan pemerintahan. Di sinilah Al-Qur’an surat Annisa ayat 59 يَآأَيُّهَا الَّذِينَ أَمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ    artinya : “Wahai orang –orang yang beriman taatlah kamu sekalian kepada Allah (yakni kepada Al Qur’anulkarim), dan taatlah kamu sekalian kepada Rasul (kepada sunnahnya atau kepada hadistnya termasuk kepada sunah nabawiyahnya) dan kepada orang yang menguasai perkara…” .Imam Al Maruki di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ‘Ulil amri terbagi dua :

a.    ‘Ulil amri fiddin adalah para Ulama, yang harus kita taati dan,

b.    Penguasa di dunia yaitu umaro’,

Hubungan ulama dan umaro adalah hubungan yang sangat penting dan sekaligus yang harus kita taati. Manusia memerlukan hukum atau aturan, karena manusia di samping memiliki sifat yang positif, juga memiliki sifat fujur (negatif). Di dalam berbagai ayat Al-Qur’an, manusia juga terkadang bersifat zhaluman, dia berbuat aniaya baik kepada dirinya maupun kepada orang lain. Manusia juga terkadang ber­sifat jahulan, dia membodohi dirinya sendiri ataupun orang lain, manusia terkadang bersifat kafuron, manusia terkadang bersifat enggan memberi, enggan mematuhi peraturan, manusia terkadang bersifat baaghin, melanggar, sifat-sifat lainnya yang negatif harus ditekan, harus dikendalikan dan untuk mengen­dali­kan­nya perlu peraturan. 

Dalam kaitan ini hukum adalah menjadi peranan penting, agar berbagai sifat negatif yang berada di diri manusia tidak muncul dipermukaan dan dia diganti dengan sifat-sifat yang positif, diganti dengan akhlak mahmudah, ahklakul karimah, sebagai pengganti akhlak al majmumah.Selanjutnya Imam Asy-Syathibi di dalam kitabnya Muwafaqoh, Beliau ketika menjelaskan hubungan agama dengan hukum, menyebut ada lima aspek yang harus dilindungi, adalah :

v   Untuk memelihara jiwa, memelihara kelangsungan hidup manusia, oleh karena manusia tidak boleh dibunuh atau membunuh diri.

 v   Hizbuddiin, memelihara agama, mengexpresikan agama untuk beribadah kepada Allah SWT, atau kepada Tuhan-Tuhan dalam agama lain.

v   Hizbul‘aqil (akal), untuk memelihara akal fikiran, karena akal adalah merupan suatu potensi yang luar biasa, manusia bisa merancang masa depan, manusia bisa setback, memikirkan masa lalu dan manusia bisa melakukan perubahan-perubahan  yang sangat besar, karena adanya suatu potensi intelektual dan ini harus dijaga, dan untuk menjaga itulah maka manusia dilarang untuk melakukan sesuatu yang bisa merusak akal, seperti; berjudi, minum-minuman keras, narkoba, dan lain sebagainya yang dapat merusak akal dan bisa melakukan hal-hal yang negatif.

v   Agama; agama untuk memelihara harta, harta dalam perspektif Islam adalah sesuatu yang diperlukan, sesuatu yang netral bahkan sesuatu yang sesungguhnya bersih, sebagai indikasi dalam beribadah, bahwa kita menggunakan pakaian, menggunakan masjid dan lain sebagainya ini adalah suatu harta benda, Hadits Rasulullah SAW menyatakan, artinya : bahwa “orang yang baik, bukan orang yang meninggalkan akhirat hanya duniawi saja dan juga meninggalkan duniawi hanya akhirat saja, orang yang baik adalah orang yang meraih keduanya, bukanlah yang terbaik di antara kamu yang meninggalkan dunia hanya akhirat saja dan juga meninggalkan akhirat hanya dunia saja tetapi harus keduanya”.

v   Agama mengatur keturunan, dalam kaitannya adalah maka suatu proses pertumbuhan manusia di dalam kandungan itulah sesuatu yang harus dilindungi dan tidak boleh dibunuh dan karena itu berbagai tindakan seperti aborsi misalnya, adalah merupakan suatu pelanggaran-pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.

Lima hal ini jauh sebelum dunia merumuskan, jauh sebelum declaration of the human right, jauh sebelum revolusi Prancis, jauh sebelumnya ada dokumen perundang-undangan lainnya. Islam dengan Al Qur’annul Karim telah mencapai satu tingkat kemampuan untuk mengungkapkan hal-hal yang fundamental bagi kehidupan manusia yang disebut dengan maqosidus syar’iyah, tujuan daripada agama yang Madani.

Hukum yang dibuat oleh Islam mengarah ke sana, mengarah untuk memelihara kelima hal tersebut yang merupakan hak asasi manusia.Semangat ini perlu ditangkap secara terus menerus dan jika kita ingin eksistensi dan peran fungsi hukum Islam  dalam masyarakat berbagai bangsa dan bernegara, maka problemanya harus terus ditangkap sehingga dia secara jelas dan kontributif mampu memberikan sumbangan yang besar dalam berbagai masalah.

Keadaan sifat hukum yang ekstelitas ini telah banyak dikaji, dan disitulah hukum Islam dapat ber­langsung dan berguna sepanjang zaman, namun suatu yang penting adalah ijtihad, suatu kemampuan untuk menggali mengerahkan segenap kemampuan untuk mengistimbat hukum, tentu di sini diperlukan kemampuan berbahasa Arab, kemampuan mengusai kaidah-kaidah hukum seperti; usuluddin, memahami sejarah arab, memahami leteratur lainya yang terkait, dan dalam kontek masyarakat Indonesia di mana Undang-Undang Dasar kita yang berdasarkan Pancasila dan UUD ‘45 dan berbagai peraturan lainya.

Ada lima hal yang perlu dipertimbangkan :

1)   Hukum Islam harus berdasarkan wawasan Islam, wawasan Islam yang integrated, Islam yang memadukan antara dimensi iman dan aqidah, secara simultan, dan utuh.

2)   Hukum Islam yang berwawasan Indonesia, problema yang dihadapi Indonesia berbeda, dan kita dapat menduga apabila para ulama di masa lalu seperti Abu Hanifah dan Imam Malik, Imam Syafi’I, Ibnu Hambal berada di Indonesia, maka produk-produk hukum akan disuaikan dengan perkembangan masyarakat Indonesia.

3)   Harus memiliki wawasan ilmiyah, hukum Islam yang berdasarkan hukum yang sangat berkaitan dengan kehidupan sosial kemasyarakatn kita, dimulai bangun tidur sampai kita dipanggil oleh Allah selalu berhubungan dengan hukum Islam. Di dalam kitab-kitab fiqih mulai dari yang rendah, mulai dari fathul qorib sampai fathul mu’in, selalu dimulai dengan bab thoharoh, dan disitu dibahas dengan berbagai aspek, ini menunjukakan bahwa hukum Islam berkaitan dengan berbagai kehidupan. Untuk pengembangannya maka diperlukan ilmu sosial, diperlukan bantuan konsep-konsep pendidikan, konsep ekonomi, konsep pertanian, konsep kebudayaan, dan lain sebagainya, karena produk hukum tersebut akan berkaitan dengan masalah tadi.

4)   Hendaknya juga selalu mempunyai visi kemoderenan. Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah SAW adalah ajaran yang membawa kita ke masa depan dengan tidak melupakan masa lalu, kita harus memiliki pandangan ke depan. Dan dari pandangan ke depan, kita akan melihat berbagai masalah yang mungkin  muncul dan dalam kaitan ini hukum Islam harus mengantisipasinya kalau tidak, maka dia akan ditinggalkan

5)   Harus berwawasan kemanusian, yaitu suatu wawasan yang sifatnya lintas budaya, lintas agama, lintas bangsa dan seterusnya, ketika misalnya kita berada di jalan raya menemukan orang tertabrak, maka kita harus tolong dengan tidak mempertanyakan siapa dia, ini aspek kemanusian yang sifatnya universal. Maka dengan memperhatikan visi misi tadi, maka insya Allah hukum Islam akan tetap aktual, akan mampu menjawab tantangan zaman, sekaligus memberikan konstribusi bagi terciptanya ketentraman kerukunan, kedamaian, kesentosaan, ketertiban dan seterusnya.   

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita dan dapat mengajarkan amalan yang mulia ini.

Pemuda Muslim Berkualitas Sebagai Harapan Umat

(Intisari Khutbah Jum’at 18 Nopember 2005 M / 16 Syawwal 1426 H)
Oleh : Drs.H. Muchtar Ali, M.Hum     

Perubahan dan pergantian zaman merupakan sunnatullah. Oleh karena itu dalam kehidupan kita ini terjadi pergantian generasi dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Masa depan agama, bangsa dan negara salah satunya ditentukan pada hari ini, karena itu setiap kita punya tanggung jawab menghadapi hari esok, yang bisa jadi zamannya sangat berbeda dengan zaman yang kita alami, bahkan tantangan masa depan bisa jadi amat berbeda dengan yang kita hadapi sekarang. Oleh karena itu agama Islam memerintahkan agar kita mempersiapkan generasi atau pemuda dengan sebaik-baiknya.

Rasulullah SAW, memiliki banyak sahabat yang lebih muda dari beliau, bahkan banyak yang jauh lebih muda dari beliau. Ali bin Abi Thalib salah satu pemeluk Islam yang paling awal. Beliau memeluk Islam atas keinginannya sendiri ketika berusia 8 tahun, Beliau senantiasa berada di samping Rasulullah. Beliau juga menyertai Rasulullah SAW pada saat bertemu dengan 40 pemuka Quraisy, yang merupakan tokoh-tokoh paling berpengaruh di masyarakat pada waktu itu. Pada pertemuan itu Rasulullah menyeru mereka untuk masuk Islam, tetapi mereka menolak seruan tersebut. Pada saat itu Ali ra. berdiri di sisi Rasulullah sembari memandang kepada semua yang hadir, kemudian berkata : “Aku beriman kepadanya, dan aku menjadi penolongnya”. Arqam bin Abi Arqam, Usman bin Umair dan sebagainya. Ja’far bin Abi Thalib yang berani berdiri di depan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia) untuk mewakili dan membela kaum muslimin, padahal ketika itu ia baru berusia 20 tahun. Masih banyak lagi contoh pemuda pemudi muslim yang mampu memberikan konstribusi yang besar kepada Islam dan berprestasi tinggi semata-mata mencari ridha Allah SWT. 

Perhatian Islam yang besar terhadap generasi muda menunjukkan bahwa masa muda merupakan masa yang sangat penting dan masa yang paling berharga. Generasi muda merupakan rahasia kekuatan suatu umat, tiangnya kebangkitan, kebanggaan dan kemuliaan. Di atas pundak merekalah masa depan umat terpikul, karena pemuda memiliki keistimewaan tersendiri, baik dari segi keberanian, kecerdasan, semangat, maupun dari kekuatan jasmaninya.

“Berikan 10 orang pemuda dan aku akan mampu memindahkan sebuah gunung dan berikan aku 100 orang pemuda maka aku akan dapat menggerakkan dunia” pernyataan populer tersebut ditegaskan Bapak Proklamator Republik Indonesia Bung Karno mengenai arti pentingnya posisi pemuda.

Sosok pemuda mempunyai nilai sejarah tersendiri. Peran pemuda Indonesia senantiasa ada pada lini terdepan dalam sejarah bangsa. Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamsi Kemerdekaan R.I 1945, Perubahan dari Orde Lama ke Orde Baru 1966, dari Orde Baru ke Orde Reformasi 1988. Bahkan masyarakat Internasional menyadari arti penting dan nilai strategis pemuda sebagai agen perubahan (agent of change) dalam pembangunan.

Pada periode lahirnya syari’at Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, generasi muda memegang peranan yang sangat penting dalam menyebarluaskan dakwah Islamiyah, karenanya jangan lewatkan masa muda untuk hal-hal yang tak ternilai di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita untuk menghasilkan generasi Islam yang berkualitas Islami.

Paling tidak, ada empat hal yang menjadi kriteria dari profil pemuda muslim yang berkualitas, yaitu :
Pertama, Pemuda yang memiliki aqidah yang benar. Akidah Islam tegak berdasarkan peng-Esaan kepada Allah, mengakui-Nya sebagai Tuhan, penguasa, pencipta, pemberi rizki, pemilik langit, bumi dan seisinya serta satu-satunya Zat yang akan menghidupkan kembali yang akan memberikan balasan kepada hamba-hamba-Nya, dan inti dari akidah adalah Tauhid. 

Tauhid menjadi misi utama para nabi dan rasul serta para shalih terdahulu yang tidak boleh dilupakan. Apa yang dilakukan oleh Yaqub as ketika hampir wafat, patut kita teladani dalam mempersiapkan pemuda sebagai generasi penerus. Waktu itu, Yaqub bertanya kepada anak-anaknya, “Apa yang akan kalian sembah sepeninggalanku?” semua anak-anaknya menjawab, kami akan menyembah Tuhanmu, Tuhan bapak-bapakmu-Ibrahim, Ismail, Ishak yakni Allah SWT dan kami berserah diri kepada-Nya (kisah ini diabadikan dalam QS. 2 Al Baqarah : 133).

Demikian pula pengajaran Lukman kepada anaknya yang diabadikan dalam Al-Qur’an yang artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. 31 Lukman : 13).

Dasar pendidikan akhlak bagi seorang pemuda adalah akidah yang benar, karena akhlak tersarikan dari akidah dan pancaran darinya. Oleh karena itu jika seorang pemuda berakidah dengan benar, niscaya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika akidahnya salah dan melenceng, maka akhlaknya pun akan tidak benar.Dalam satu hadits Rasulullah SAW bersabda : اَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا “Mukmin yang sempurna imannya, adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Turmudzi dari Abi Hurairah).

Ciri Kedua, menempa diri dengan memiliki ilmu dan tsaqafah Islam. Kita semua terutama pemuda hendaklah senantiasa menempa diri dan secara terus-menerus mencari ilmu dan mengamalkannya. Tanpa ilmu pemuda akan tertinggal. Islam mengajak manusia untuk menguasai ilmu, dalam ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang artinya : “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. 96 Al-‘Alaq : 1-4).

Betapa pentingnya ilmu bagi seorang pemuda, Rasul yang mulia senantiasa memotivasi umatnya untuk belajar dan membaca. Ada baiknya kita menelaah kembali kisah seorang pemuda yang usianya belum genap tiga belas tahun berjalan mendekati barisan pasukan muslim dengan membawa sebilah pedang ia mendatangi Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, aku membaktikan hidupku kepadamu. Izinkan aku untuk pergi bersamamu dan memerangi musuh-musuh Allah di bawah panji-panjimu”.

Rasulullah yang mulia memandang anak tersebut dengan penuh kekaguman dan menepuk pundaknya. Beliau memuji keberaniannya, tetapi menolaknya untuk bergabung dengan pasukan muslim. Anak muda itu (Zaid bin Tsabit ra.) Rasulullah pun kemudian memberikan tugas kepadanya. “Zaid pergilah belajar tulisan Yahudi”. Zaid kemudian belajar bahasa Ibrani. Maka kemudian ia sangat fasih berbahasa Ibrani dan menjadi sekretaris Rasulullah SAW. Rasulullah juga memerintahkan Zaid untuk belajar bahasa Syria. Demikian Zaid mempunyai fungsi penting ketika Rasulullah berunding dan berkomunikasi dengan bangsa-bangsa yang tidak bisa bahasa Arab.

Ketiga, dari ciri pemuda yang diharapkan di dalam Islam adalah memiliki keterampilan dalam berbagai hal untuk dimanfaatkan dalam kebaikan dan kebenaran dalam upaya mencapai kemajuan diri, keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan negara. Pada masa Rasulullah SAW para sahabat telah menunjukkan kemampuan yang terampil dalam berbagai hal, ada yang terampil dalam berdagang, berperang dan sebagainya yang semua ini tentu saja amat berguna.

Kepada mereka yang memang terampil, Rasulullah SAW sendiri tidak segan-segan memberi penghargaan dan amanah guna mengembangkan keterampilannya itu. Maka ketika Usamah bin Zaid telah menunjukkan keterampilannya yang luar biasa dalam berperang, beliau tidak segan-segan mengangkatnya menjadi panglima perang meskipun umurnya baru 17 tahun, sementara Mush’ab bin Umair yang terampil dalam dakwah, ditugaskan beliau untuk dakwah ke Yatsrib (Madinah).

Ciri keempat, memiliki tanggung jawab, Di antara bukti kebenaran dan kemuliaan nilai-nilai Islam adalah adanya tuntutan tanggung jawab dari setiap individu atas semua perbuatannya. Diferensiasi yang hakiki antara manusia adalah dengan mengukur rasa tanggung jawab serta kemauan untuk menanggung akibat dari perbuatan yang dilakukan.

Prinsip tanggung jawab ini merupakan salah satu prinsip yang ditetapkan dalam Al Qur’an dalam sejumlah ayatnya :كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ. “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (QS. 74 Al Mudatsir : 38).

Pada prinsipnya tanggung jawab ini mencakup kepada tiga hal, yaitu; tanggung jawab pemuda sebagai seorang individu, tanggung jawab sebagai anggota masyarakat, tanggung jawab sebagai bagian dari umat. Menunaikan kewajiban terhadap umat Islam yang tersebar di seluruh belahan dunia dan dalam setiap bidang kehidupan. Ketiga, tanggung jawab tersebut dengan segala cakupannya menurut DR. Ali Abdul Halim Mahmud mantan Syeikh Al Azhar dalam kitabnya At-Tarbiyah al-Khuluqiyah dengan edisi Indonesia “Akhlak mulia” menegaskan bahwa meninggalkan ketiga kewajiban ini merupakan keburukan yang dicela oleh Islam. Ketiga tanggung jawab tersebut sangat sesuai dengan nilai-nilai kemasyarakatan dan nilai-nilai kemanusiaan atau humanisme.

Untuk mewujudkan pemuda yang berkualitas itu, maka paling tidak ada tiga institusi yang mempunyai pengaruh sangat efektif, yaitu :
a. Keluarga, dalam pengertian sempit mencakup kedua orang tua, saudara dan kerabat. Dalam pengertian luas mencakup teman, tetangga, masyarakat secara keseluruhan.
b. Masjid, memberi pengaruh yang baik bagi jiwa orang-orang dalam berhubungan dengan sang Pencipta.
c. Sekolah, meliputi unsur-unsur yang ada di dalamnya, buku, peralatan, methode, gedung dan hal-hal yang mempengaruhi murid.

Para pemuda sangat dituntut untuk mempersiapkan dirinya guna menyongsong masa depan agama, bangsa dan negara yang cerah, dan mempersiapkannya memerlukan perhatian dan kerja sama yang serius.  

Dengan Hikmah Idul Fitri dan Hari Pahlawan,Kita Tingkatkan Kebersamaan Bangsa

(Intisari khutbah Jum’at tanggal, 11 November 2005 / 09 Syawal 1426 H)

Oleh : Prof.DR.H. Bambang Pranowo 

Mengawali khutbah Jum’at ini pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan inayah-Nya jugalah pada hari ini kita dapat menunaikan shalat Jum’at di Masjid Istiqlal ini, dalam suasana yang masih diliputi perayaan ‘Idul Fithri 1426 H, dan sekaligus kemarin kita baru saja memperingati Hari Pahlawan 10 November 2005. 

Setiap kali kita memperingati Hari Pahlawan, setiap kali itu pula kita diingatkan dengan peristiwa yang sangat heroik yang terjadi pada tanggal 10 November 1945. Pada saat itu tentara Belanda berusaha menguasai kembali Indonesia dengan memanfaatkan kehadiran tentara sekutu yang akan mengambil alih kekuasaan atas Kepulauan Nusantara ini dari pihak Jepang yang baru saja mengalami kekalahan dalam perang dunia ke II setelah Hirosima dan Nagasaki dihancurkan dengan bom atom oleh Amerika.  

Rakyat Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya tiga bulan sebelumnya, yakni pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan sendirinya tidak dapat menerima kehadiran tentara sekutu yang diboncengi tentara Belanda tersebut. Dengan persenjataan yang serba sederhana tetapi dengan semangat yang tinggi untuk mempertahankan kemerdekaan para pejuang melancarkan perlawanan habis-habisan terhadap tentara sekutu yang menyerbu Surabaya dengan persenjataan yang jauh lebih modern, baik dari laut, udara maupun darat.

Fatwa para ulama Jawa Timur yang menyatakan bahwa perang untuk mengusir penjajah adalah jihad fi sabilillah mengobarkan semangat tempur para pejuang. Ribuan arek-arek Surabaya gugur dan menjadi syuhada’ dalam pertempuran itu. Namun pertempuran tersebut telah membuka mata dunia internasional bahwa bangsa Indonesia yang berdaulat masih ada dan putra putri Indonesia telah bertekad bulat untuk mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan. 

Memperingati Hari Pahlawan, berarti mengenang kembali pengorbanan para pejuang yang telah rela mempertaruhkan jiwa dan raganya demi mempertahankan kemerdekaan dan tetap tegaknya Republik Indonesia. Secara fisik memang mereka sudah tiada namun secara spiritual mereka seolah masih hadir di tengah-tengah kita. Dalam kaitan ini patut kiranya kita merenungkan firman Allah SWT

: وَلاَ تَقُوْ لُوْا لِمَنْ يُقْتَلُ فِى سَبِيْلِ اللهِ اَمْوَاتٌ بَلْ اَحْيَاءُ وَلَكِنْ لاً تَشْعُرُوْنَ , artinya : “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (Al Baqarah : 154). 

‘Idul Fithri pada hakekatnya merupakan perayaan atas kembalinya supremasi rohani atas jasmani, jiwa atas badan; lantaran rohani atau jiwa telah disucikan dan dicerahkan dengan nilai-nilai luhur Ramadhan. Semangat untuk berorientasi kepada yang suci itu diharapkan selalu memimpin perilaku sehari-hari kita. Bukan sebaliknya, dimana sepak terjang kehidupan kita justru sekedar menuruti dan dipandu oleh nafsu-nafsu jasmaniah belaka.  

Itulah sebabnya mengapa lagu kebangsaan kita juga mengamanatkan “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!” Hal itu tidak lain karena manakala jiwa seseorang adalah jiwa yang sehat, maka dengan sendirinya akan membuahkan berbagai kebaikan. Namun manakala yang sehat itu hanya badannya, maka banyak contoh betapa para penjahat dan koruptor, baik kelas teri maupun kelas kakap, pada umumnya adalah orang-orang yang sehat jasmaninya.  

Dan, marilah kita camkan kembali bahwa Bapak TNI kita, jenderal Soedirman, ketika memimpin perang gerilya jasmani beliau dalam keadaan tidak sehat, paru-paru beliau tinggal separuh. Namun jiwa beliau sangat sehat dan mencerminkan jiwa seorang satria sejati. Di bawah kepemimpinan beliau yang dari segi jasmani tidak sehat itu TNI berhasil membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia tetap eksis sekalipun digempur oleh tentara Belanda dengan menggunakan persenjataan yang jauh lebih modern melalui Aksi Polisionil ke I tahun 1947 dan Aksi Polisionil II tahun 1948. 

Hari raya yang menandai berakhirnya ibadah puasa Ramadhan disebut ‘Idul Fithri yang berarti “kembali kepada kesucian”. Hal itu adalah karena siapa saja yang berhasil melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan mawas diri (iimaanan wahtisaban), maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu, sehingga seolah-olah ia kembali menjadi bayi yang suci bersih tanpa dosa, sebagaimana sabda Nabi SAW, artinya : “Bahwa setiap bayi itu dilahirkan dalam keadaan suci…”

Jika direnungkan secara mendalam ternyata memang bayi itu memiliki sifat-sifat yang patut dicontoh oleh orang dewasa. Sifat bayi yang menonjol paling tidak ada lima :

v    Bayi itu sifatnya suci, maka perilaku bayi senantiasa mengundang rasa kasih sayang bagi siapa saja yang memandangnya. Bahkan dalam Hadist yang lain Nabi menyatakan bahwa baunya bayi itu adalah bagian dari wewangian surga.

v    Bayi itu tidak membeda-bedakan, sekalipun ibunya miskin dan wajahnya jelek si bayi tetap lebih cenderung lengket dengan ibunya daripada dengan orang lain meskipun lebih kaya dan cantik.

v    Bayi itu senantiasa jujur. Dia akan menangis manakala lapar atau haus dan akan diam manakala kenyang. Tidak pernah sebaliknya !

v    Bayi tidak punya rasa dendam. Meskipun bayi menangis sejadi-jadinya tatkala ditinggal ibunya untuk suatu keperluan, tetapi begitu ibunya kembali si bayi langsung menyambut kehadiran sang ibu dengan penuh kegembiraan. Tidak menyimpan dendam lantaran tadi sang ibu telah meninggal­kannya.

v    Bayi itu tidak serakah. Bayi hanya makan dan minum sekedar sesuai keperluan. Bayi tidak pernah menyedot susu ibunya lebih dari yang dibutuhkannya. Kelima sifat bayi tersebut di atas kiranya perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari agar kita benar-benar termasuk “Minal ‘Aidin wal Faizin”, yakni termasuk golongan orang-orang yang “kembali kepada kesucian” dan “memperoleh kemenangan” dalam berperang melawan hawa nafsu. 

Nilai yang terkandung dalam peringatan Hari Pahlawan, jika ditambah dengan hikmah yang terpancar dari ‘Idul Fithri, sungguh merupakan kekayaan kultural dan spiritual dalam kehidupan kita. Itu semua makala diaktualkan dalam kehidupan sehari-hari dapat dipastikan akan menjadi sumbangan semakin berkualitasnya perwujudan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Atas dasar itu semua marilah dengan hikmah ‘Idul Fithri dan Hari Pahlawan, kita perbaharui tekad kita untuk berbuat dan memberikan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Menjadikan Idul Fitri sebagai Momentum Indonesia Bangkit

(Intisari Khutbah ‘Idul Fithri, Kamis 4 November 2005 M / 1 Syawal 1426 H)

 Oleh : Prof.DR.H. Imam Suprayogo, MA

(Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang) 

Menghayati inti ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan menyadari persoalan bangsa yang pada saat ini sedang mendapatkan ujian dari Allah SWT serta memperhatikan bagaimana perjuangan Rasulullah dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera melalui ajaran Islam, maka dalam suasana Idul Fitri ini akan tepat kiranya jika kita gunakan sebagai momentum untuk membangun Indonesia ke depan yang lebih cerah. Akan tetapi, Puasa dan Idul Fitri akan benar-benar berhasil dijadikan sebagai momentum untuk membangun gerakan kebangkitan bangsa ke depan, jika paling tidak ibadah ini melahirkan beberapa hal sebagai berikut : 

Pertama, puasa dan Idul Fitri yang kita rayakan hari ini seyogyanya mampu melahirkan persepsi dan kesadaran yang benar terhadap persoalan bangsa yang sesungguhnya. Persoalan bangsa Indonesia yang kita hadapi sekarang ini sesungguhnya, bukanlah sebatas menyangkut bidang ekonomi atau apalagi sebatas kekurangan sembako, melainkan lebih mendasar dan luas dari sebatas itu. Ada sementara pandangan yang mengatakan bahwa jika masyarakat sudah berhasil memenuhi kebutuhan ekonominya, maka persoalan kehidupan telah selesai.  

Memang membangun ekonomi adalah penting, akan tetapi pemenuhan ekonomi bukanlah segala-galanya. Bangsa yang berperadaban tinggi selalu dibangun di atas dasar keyakinan (iman yang kukuh), jiwa atau spritualitas yang dalam, ilmu yang luas, serta akhlaq yang luhur. Keadaan ekonomi yang kurang baik, di tengah-tengah negeri yang subur seperti Indonesia, sesungguhnya merupakan akibat dari lemahnya iman, spritualitas, keterbatasan ilmu dan akhlaq yang disandangnya. Betapa pentingnya aspek-aspek ini untuk membangun peradaban, maka ayat-ayat Al Qur’an Al-Karim pada fase awal yang diterimakan kepada Rasulullah adalah menyangkut ilmu pengetahuan (yakni dalam bentuk perintah membaca), larangan berbuat angkara murka; dan sebaliknya beliau diperintah untuk membangun akhlaq yang mulia. 

Kedua, Puasa dan Idul Fitri harus mampu membangkitkan jiwa optimisme yang kuat terhadap kehidupan hari esok yang lebih baik. Akhir-akhir, muncul dari kalangan luas rasa pesimisme yang berkelebihan terhadap keadaan negeri ini. Barangkat dari suasana pesimisme itu, bangsa ini dilabeli dengan identitas yang sedemikian rendah, seperti disebutnya sebagai bangsa yang terpuruk, bangsa korup, bangsa yang carut marut, bangsa yang berada pada titik nadir dan istilah-istilah lain yang kurang menguntungkan. Istilah-istilah seperti itu bisa jadi akan melahirkan mental bangsa yang inferior, tidak percaya diri dan selalu berharap pada uluran pertolongan bangsa lain.  Oleh karena itu merendahkan identitas bangsa dengan istilah-istilah seperti itu sesungguhnya tidak menguntungkan, apalagi jika hal itu dikaitkan dengan upaya menumbuh kembangkan kebanggaan anak bangsa yang bermatabat ke depan. Bangsa Indonesia sesungguhnya tidak semalang itu.

Sebaliknya, bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang beruntung, memiliki tanah kepulauan yang luas lagi subur, samudera dan lautan yang luas, aneka tambang, serta penduduk berjumlah besar. Semua itu adalah karunia Allah, yang seharusnya selalu disyukuri dan dijadikan modal untuk membangun kemakmuran bersama. Puasa dan Idul Fitri harus mampu menumbuh-kembangkan sikap optimisme itu. 

Ketiga, puasa dan Idul Fitri agar bermakna terhadap upaya menjadikan Indonesia bangkit, harus mampu melahirkan sikap solidaritas sosial atau kemauan berjuang dan berkorban yang tinggi. Membangun bangsa tidak akan berhasil jika tidak terdapat orang-orang yang rela berjuang dan berkorban. Sejarah bangsa ini membuktikan secara jelas tentang hal itu. Indonesia berhasil meraih kemerdekaan dari penjajah, adalah sebagai buah dari adanya kesediaan para pejuang yang ikhlas mengorbankan apa saja yang ada padanya. Demikian pula, Rasulullah Muhammad SAW tidak akan mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani yang damai dan berperadaban jika tidak ditempuh melalui perjuangan dan pengorbanan yang berat. 

Keempat, puasa dan hari raya Idul Fitri, selayaknya melahirkan sifat-sifat profektif, seperti shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah. Sifat-sifat itu sangat diperlukan untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan maju. Lebih daripada itu, puasa dan Idul Fitri seharusnya berhasil melahirkan suasana batin yang pndai bersyukur, ikhlas, tawakkal dan istiqamah. 

Kelima, hal yang sangat penting lainnya adalah melalui puasa dan Idul Fitri ini mampu melahirkan pandangan tentang betapa pentingnya posisi pendidikan dalam membangun bangsa ke depan. Selanjutnya, berbicara tentang pendidikan, tidak lepas dari peran-peran strategis wanita di tengah-tengah masyarakat. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa sebuah bangsa akan baik jika para wanitanya mampu memposisikan diri secara benar dan tepat, yakni sebagai pendidik bangsa. “Seorang ibu adalah laksana sebuah sekolah, jika engkau mempersiapkannya dengan baik, berarti engkau mempersiapkan suatu bangsa yang tangguh dan kukuh”. Jika cara pandang dan nilai-nilai puasa dan Idul Fitri ini berhasil ditumbuh-kembangkan, setidak-tidaknya oleh kita yang baru menjalankan ibadah ini, maka insya Allah akan berdampak pada kehidupan masyarakat secara luas. Selanjutnya, gerakan uswah hasanah sebagai pendekatan strategis  yang telah dipilih oleh Rasulullah, seharusnya dapat dikembangkan untuk membangun bangsa ini. 

Sebagai contoh sederhana, misalnya dalam bidang ekonomi, bagaimana masyarakat bawah, diberikan contoh atau bimbingan, agar bisa bekerja secara aman dari ancaman pesaing-pesaing yang tidak seimbang kekuatannya; untuk mengembangkan pertanian diberikan uswah hasanah bagaimana tanah yang kosong segera ditanami kembali; begitu pula bagaimana hutan yang telah gundul dan sudah terlanjur mengakibatkan sungai-sungai mengering dapat segera dilebatkan kembali.  Bagaimana para buruh berhasil mendapatkan pekerjaan yang imbalannya seimbang dengan keringat yang dikeluarkannya. Ini semua dapat dilakukan, jika jiwa besar dan ruh kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara berhasil ditumbuhkan dan diperkukuh.  

Ajaran-ajaran Ramadhan

Oleh : KH. Ma’ruf Amin     

Beberapa hari lagi bulan Ramadhan akan berlalu, ada di antara kita ada yang menyikapinya dengan penuh kegembiraan karena merasa telah melaksanakan ibadah puasa dan amalan-amalan lainya di bulan Ramadhan dengan harapan akan memperoleh balasan dari Allah dan diterima oleh Allah dan diterima amal yang dilakukannya selama di bulan Ramadhan, tapi ada juga yang menyikapinya dengan rasa sedih, karena bulan Ramadhan yang mubarak  yang penuh dengan kebaikan dan kebaikan didalamnya dilipatkan Allah, taat didalamnya diterima Allah, do’a- do’a diistijabah, dosa-dosa diampunkan saat itu akan berlalu, seperti apa yang dikatakan oleh Rasululoh SAW yang artinya:

“Andaikata umatku tahu apa yang ada di dalam bulan Ramadhan dengan apa segala kebaikan yang ada di dalamnya, pasti mereka akan mengharapkan Ramadhan itu penuh selama satu tahun.“

namun demikian apapun  sikap kita terhadap kepergian bulan Ramadhan, hendaknya apa yang kita peroleh selama kita latihan di bulan ramadhan, terus melekat pada kita selama kita ibadah puasa dan amalan lainya di dalam bulan Ramadhan ini.     

Terutama sekali prinsip ibadah puasa yang pada dasarnya adalah dimaknai dengan menahan diri, hendaknya terus menjadi sikap hidup kita, hendaknya kita menahan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh ajaran agama, hendaknya kita mampu menahan diri dari melakukan penyimpangan-penyimpangan terhadap ajaran agama, terutama yang menyangkut prinsip-prisip akidah, ibadah, mu’amalah, dan lain-lainnya.    

Hendaknya kita tidak terpengaruh ajakan-ajakan yang menyimpang dari akidah Islamiyah yang pada akhir-akhir ini makin banyak  aliran-aliran yang tidak benar, aliran-aliran yang sesat, mulai mengembangkan sayapnya di berbagai wilayah di Indonesia. Kita juga jangan sampai terjebak dengan bujukan untuk tidak mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah, dengan mendatangi orang-orang  yang mengaku mengetahui ramalan sesuatu, orang-orang yang mengaku sebagai kahin (dukun) ataupun sebagai paranormal.

Rasulullah SAW mengatakan yang artinya: “Siapa yang datang pada paranormal, menanyakan sesuatu, maka tidak akan diterima solatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Siapa yang datang pada dukun atau paranormal, kemudian dia membenarkan ucapanya, maka dia telah kafir, terhadap apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.  Kita juga hendaknya tidak melakukan suatu yang menyimpang dari tuntunan Rasululoh dalam masalah ibadah, masalah ibadah adalah merupakan hak prirogatif atau sesuatu yang diajarkan oleh Rasululloh SAW, apa yang kita lakukan semata-mata adalah taukisi, sehinga jangan ada diantara kita yang malakukan penyimpangan-penyimpangan, seperti yang dilakukan oleh beberapa pihak dan yang menyimpang dari tuntuan Rasulullah SAW.     

Juga kita seharusnya tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan di bidang mua’amalah, prinsip sepenuhnya memang diberikan kepada kita, oleh karena itu ada kaidah yang berbunyi yang artinya: “Muamalah pada pokoknya adalah dibolehkan apa saja, untuk dikembangkan dalam mua’amalah.” Transaksi-transaksi di dalam perniagaan dalam ekonomi itu dibolehkan pada kita untuk membuat upaya-upaya dalam mensejahterakan hidup kita, akan tetapi Allah memberikan rambu-rambu, memberikan pedoman-pedoman, supaya kita tidak melakukan pelanggaran itu.

Oleh karena itu para ulama telah memberikan tuntunan, agar kita dalam upaya-upaya mengembangkan ekonomi mengikuti apa yang diajarkan oleh syara’ sebagai wasilah syar’iyah, dan karena itu dewasa ini sedang dikembangkan apa yang disebut dengan ekonomi syari’ah, atau lembaga keuangan syari’ah, dan perbankan syari’ah, supaya kita tidak menjalankan ajaran islam hanya aspek akidah atau aspekl i’badah tetapi juga aspek mu’amalah.

Prinsip ekonomi syari’ah adalah prinsip yang memadukan antara hidayah Robaniyyah dan hailah insaniyah, memadukan petunjuk ke-Tuhan-an dan upaya-upaya manusia, ekonomi syari’ah adalah merupakan perpaduan. “ini adalah jalanKu yang lurus karena itu hendaknya kamu ikuti.” (alQur`an) dan prinsip “kamu adalah lebih tahu tentang duniamu.” Merupakan rambu-rambu yang diajarkan oleh agama, bahwa dalam kegiatan ekonomi kita, termasuk perbankan kita, didalamnya tidak boleh ada gharar atau manipulasi, tidak boleh ada maisir, gambling atau judi, tidak boleh ada riba.

Masalah riba adalah masalah yang paling prinsip dan para ulama menyikapati bahwa bunga adalah merupakan riba, Imam Al Jasad dalam tafsirnya mengatakan yang artinya: “Diketahui bahwa riba jahilliyah adalah hutang yang ditangguhkan dengan adanya tambahan yang dipersyaratkan dan tambahan itu merupakan masa dari tenggang itu, itulah riba jahiliyyah, karena itu riba jahiliyyah diharamkan Allah, dan dibatalkan oleh Allah.” Forum pembahasan di al Azhar mengatakan yang artinya: “Bunga dalam segala bentuk hutang semuanya diharamkan, bunga seperti itu tidak ada beda keharamannya baik yang merupakan konsumtif maupun yang sifatnya produktif.” begitu pembahasan dari ulama-ulama dari 30 negara islam yang diadakan pada tahun 1965 di Kairo.   

Pada sepuluh tahun kemudian forum “Fiqih Islam” di Jeddah, juga menyatakan hal yang sama yang diadakan oleh negara-negara OKI, pada tahun yang sama juga diadakan oleh forum  “Ulam-ulama A’lam Islami” yang mengatakan bahwa majma’, yang artinya ; Bunga itu adalah haram yang nyata, yang telah jelas keharamnya di dalam kitab Al Qur’an, Sunnah dan ijma’. Karena itu Syeih Yusuf Al Qordowi mengatakan, bahwa keharaman bunga adalah ijma’ul  majaami’, kesepakatan forum-forum ulama Islam sedunia. Dan beliau menyusun suatu buku “Bungan Bank itu Adalah Haram yang Nyata “. Majlis Ulama sendiri menetapkan keharaman bunga pada akhir 2003 yang lalu.     

Perkembangan Bank Syariah dewasa ini, sekalipun cepat tapi masih jauh dibandingkan dengan potensi market, potensi pasar yang mestinya lebih dari itu. Pertumbuhan yang sekarang ini baru 2,13 % dari pangsa pasar, menunjukan bahwa kaum muslimin belum menggunakan sistim itu menjadi dari bagian kehidupan ekonomi dan kegiatan mu’amalahnya. Karena itu umat Islam jangan hanya patuh kepada tuntuan syari’ah, hanya dalam masalah-masalah akidah, masalah-masalah ibadah, tetapi juga harus patuh pada masalah muamalah. 

Selepas bulan ramadhan hendaknya kita mampu menahan diri tidak menggunakan sistim  apapun yang menjauhkan kita dari prinsip-prinsip yang menjauhkan diri kita dari agama. Kitapun juga diharap untuk mampu  menahan diri, agar kita tidak terjerembab pada perilaku  negatif , prilaku yang tidak baik, prilaku yang tidak sesuai dengan tuntuan agama. Para ulama menyebutkan ada empat yang harusnya  kita hindari, yaitu:    

 Pertama adalah prilaku bahimiyyah, prilaku kebinatangan, prilaku yang tidak mengenal halal dan haram, tidak mengenal haq dan bathil, prilaku yang hanya menurutkan hawa nafsunya.     

Kedua, prilaku subu’iyyah yaitu prilaku kebinatangan, yang hanya menurutkan hawa nafsunya dan menjadi orang yang emosional. Islam sendiri tidak menginginkan agar emosi itu dimatikan, karena itu adalah sifat manusiawi, hanya saja Islam menghendaki agar kita mampu mengendalikan dan meredam sifat-sifat emosi itu yang belakangan ini semakin mengejala terutama di kota-kota besar.      

 Ketiga, sifat Syaithani yaitu  sifat kesyetanan. Kecendrungan syetan adalah mengadu domba, mempropokasi, memutarbalikan keadaan, membuat keadaan menjadi tidak nyaman, itulah prilaku-prilaku yang selalu membuat propokasi-propokasi untuk tidak terjadi kerukunan dan menjadinya sumber terjadinya komplik baik vertikal maupun horisontal.     

 Keempat, sifat Robbaniyah yaitu sifat ke-Tuhan-an, sifat yang ingin dipuja dan di puji, sifat ingin dibesarkan, sifat ingin tinggi, ia ingin menjadi Tuhan. Memang manusia sebenarnya memiliki “potensi-potensi” Tuhan, kalau dia mempunyai kekuasaan yang berlebihan dia menjadi diktator, tapi kalau dia lebih dari pada itu ,dia dapat saja mengaku dirinya Tuhan, seperti apa yang dilakukan oleh Fir’aun.     

Oleh karena itu kita berharap kepada Allah, selepas Ramadhan, kepatuhan kita kepada syari’ah, kepada tuntuan agama, kemampuan kita meredam dan menguasai diri kita untuk tidak  melakukan yang bertentangan dengan syari’ah, yang berprilaku buruk dan negatif, menjadi bagian kehidupan kita, mudah-mudahan Allah SWT mema’afkan kesalahan kita pada masa-masa yang lalu dan mema’afkan kesalahan orang tua-orang tua kita, kesalahan-kesalahan pemimpin-peminpin kita, mudah-mudahan kita selalu berada di jalan Allah dan didalam tuntuan Allah.  

Kedekatan Hamba Dengan Allah SWT

(Intisari Khutbah Jum’at 21 Oktober 2005 M / 17 Ramadhan 1426 H)

 Oleh : KH. Cholid Fadhullah, SH 

Allah SWT berfirman :

 وَاِذَاسَأََلَكَ عِبَادِىعَنِّىفَاِنِّىقَرِيْبٌ ,

 artinya : “Dan apabila hamba-hamba bertanya kepada­mu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat…”  Rasulullah SAW sebagai rasul dan pembina umat, telah mewariskan kepada kita pedoman dan tuntunan praktis yang lengkap berupa Kitabullah dan sunnah Rasul.Dalam rangka mengaktifkan dan menyuburkan hubungan kita dengan Khalik, Rasulullah berpesan kepada kita, “Perhambakanlah dirimu kepada Allah seakan-akan  engkau melihat-Nya. Dan jikalau engkau tidak dapat melihatNya dan memang tidak dapat sadarilah bahwa, sesungguhnya Dia (senantiasa) melihatmu” (Hadits Riwayat Muslim)

Menyadari dan merasakan senantiasa akan kehadiran Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang, bukan saja di waktu kita beribadah, tetapi kapanpun dan dimana saja kita berada menjadi “sumber harapan” baru bagi kita dalam suka dan duka. Alangkah sejuknya hati kita sebagai hamab Allah bila kita dalam keadaan yang sulit rumit umpamanya, dapat menanggapi bisikan Ilahi.Merasakan bahwa “Allah dekat beserta kita” menjadi sumber kekuatan dan ketabahan bagi setiap orang yang sedang berjuang mencapai cita-cita yang luhur 

لاَتَحْزَنْ اِنَّ الله مَعَنَا ,

, artinya : “…Jangan kuatir, Allah beserta kita…” (QS. 9 At-Taubah 40). Begitu bisikan Rasulullah SAW kepada teman seperjuangannya, Abu Bakar As Sidiq, di waktu mereka berdua berada di tempat persembunyiannya (Gua Hira), sedangkan pemuda-pemuda Quraisy sudah berada di pintu gua, hendak membinasakan mereka, yakni di waktu sedang berhijrah dari Mekah ke Madinah.

“Dan Allah dimana ?” begitu reaksi seorang anak gembala kambing yang buta huruf sambil menantang mata Khalifah Umar bin Khatab, ketika Khalifah Umar yang ditemani oleh Abdullah bin Dinar secara incognito, pura-pura membujuk pengembala itu supaya menjual seekor kambing kepadanya secara diam-diam, tanpa sepengetahuan majikan yang punya ternak. “Dan Allah dimana?” jawabnya  وَهُوَمَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ , artinya : “Dan Dia (Allah) besertamu dimanapun kamu berada dan melihat apa yang kamu perbuat” (QS. 57 Al Hadid 4). 

Selengkapnya suara hati nurani yang tersimpul dalam ucapan anak gembala itu “Fa ainallah” sebagai penolakkan yang tegas atas rayuan untuk berlaku curang, untuk mengkhianati amanah yang telah diterimanya. Sekalipun amanah itu hanya beberapa puluh ekor kambing saja. Kesadaran bahwa “Allah senantiasa bersamanya dan senantiasa mengetahui apa yang diperbuatnya” Kesadaran yang intentif inilah sumber kekuatan bagi anak gembala itu untuk mengendalikan diri dari perbuatan menyeleweng.

Sekalipun dia berada di tengah-tengah padang pasir, tak mungkin dilihat oleh orang lain, tak ada polisi yang akan menangkap atau penguasa yang akan menuntut. Demikianlah seseorang yang dekat dengan Allah, merasa dirinya dilindungi, merasa dibimbing, diawasi, diperhatikan dan disayang oleh Allah SWT. 

Peristiwa lain yang menunjukkan hamba yang dekat dengan Allah SWT, yaitu peristiwa ketika Khalifah Ali pada suatu kali kehilangan baju besinya. Setelah beberapa waktu kelihatan olehnya baju besinya itu ada pada seorang penduduk beragama Nasrani. Lalu dimintanya baju besi itu dengan perantaraan hakim pengadilan yang bernama Syureh. Dihadapan hakim orang itu berkata, “Mana bukti amirul Mukminin bahwa baju besi ini memang anda yang punya”, Khalifah Ali berkata, “Sesungguhnya Aku tidak mempunyai bukti”.  

Hakim memutuskan baju besi itu tetap kepunyaan orang Nasrani itu, selama tidak ada yang membuktikan sebaliknya. Khalifah Ali tunduk kepada keputusan hakim, tak ada sedikitpun terlintas dihatinya untuk menggunakan kekuasaan sebagai penguasa, mengambil saja barangnya itu kembali tanpa hukum, atau mempengaruhi hakim untuk menguntungkan dirinya. 

Inilah peristiwa teladan yang menggambarkan kedekatan hamba dengan Allah SWT. sebagai hasil dari didikan / latihan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Karena itu, marilah jama’ah jum’at rakhimakumullah kita laksanakan puasa Ramadhan dengan sebaik-baiknya  sesuai dengan petunjuk Al Qur’an dan As sunnah, jangan sampai kita beribadah puasa hanya mendapat haus dan dahaga saja, sebagaimana yang disinyalir oleh Rasulullah SAW.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.