Keteladanan Nabi Ibrahim As dan Nabi Isma’il As Dalam Melaksanakan Perintah Allah SWT

( Intisari khutbah Jum’at tanggal, 31 Desember 2006 M)

 oleh : Prof. Dr. Nazaruddin Umar

 Salah satu dimensi kebesaran Nabi Ibrahim ialah besarnya pengorbanan yang ditunjukkan kepada Allah melalui ketulusannya dalam mengorbankan putra kesayangannya. Nabi Isma’il lahir setelah melalui penantian yang cukup panjang dari keluarga ini.Kisah keluarga Nabi Ibrahim sarat akan pesan-pesan moral. Nabi Ibrahim adalah simbol bagi manusia yang rela mengorbankan apa saja demi mencapai keridhaan Tuhan, rela menyembelih anaknya, bahkan rela mengorbankan diri dalam kobaran api.

Setiap orang mempunyai kelemahan terhadap sesuatu yang dicintainya. Kelemahan Ibrahim terletak pada anak kesayangannya yang sudah lama didambakannya, dan dari sini pula kembali diuji Tuhan berupa godaan setan, tetapi Nabi Ibrahim lulus dari ujian itu. Ia secara tulus dan ikhlas mau mengorbankan putra kesayangannya.Nabi Isma’il adalah simbol bagi sesuatu yang paling dicintai dan sekaligus berpotensi melemahkan dan menggoyahkan iman, simbol bagi sesuatu yang dapat membuat kita enggan menerima tanggung jawab.

Simbol bagi sesuatu yang dapat mengajak kita untuk berpikir subyektif dan berpendirian egois. Tegasnya, simbol bagi segala sesuatu yang dapat menyesatkan kita.Mari kita  mengintrospeksi  dan mengukur diri kita masing-masing. Seandainya kita adalah figur “Ibrahim”, sudahkah kita memperoleh iman setangguh  beliau? Sudahkah kita menunjukkan pengorbanan yang optimal ke jalan-jalan yang diridhai Tuhan?

Jika kita misalnya berada di puncak karir, sudah relakah kita mengorbankan segalanya demi mempertahankan prinsip-prinsip ajaran yang dianut?“Nabi Isma’il” simbol bagi sesuatu yang amat kita cintai, sudah barang tentu kita semua memiliki sesuatu yang dicintai. Boleh jadi “Isma’il-Isma’il” kita berbentuk harta kekayaan, semisal kendaraan baru, rumah mewah, jabatan penting, deposito, atau kekayaan lainnya. Apakah kita sudah rela mengorbankannya untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu mencapai ridha Tuhan?

Jika kita sebagai suami, sudah sanggupkah kita meniru ketangguhan iman Nabi Ibrahim, mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, demi mengamalkan perintah Tuhan? Jika kita sebagai istri, sudah sanggupkah kita meniru ketabahan dan ketaatan Hajar, merelakan suaminya menjalankan perintah Tuhan dan menghargai jiwa besar anaknya? Jika kita sebagai anak, sudahkah kita memiliki idealisme yang tangguh setangguh Nabi Isma’il yang rela menjadi korban untuk suatu tujuan mulia?

Kisah-kisah yang ditampilkan Al-Qur’an sangat patut menjadi pembelajaran buat kita semua. Nabi Ibrahim melahirkan anak paling sejati dalam Al-Qur’an (Q.S. 37. al-Shaffat : 102). Ia bukan hanya anak biologis, melainkan sekaligus anak spiritual. Bandingkan dengan putra Nabi Nuh, meskipun ia seorang putra biologis Nabi, tetapi ia menjadi pembangkang dan kufur. Itulah sebabnya ia dicap hanya sebagai anak biologis, tetapi bukan anak spiritual ayahnya (Q.S.11. Hud : 46).

Fir’aun adalah sosok manusia paling angkuh yang tersebut dalam al-Qur’an, tetapi isterinya mendapatkan pujian sebagai isteri salehah yang beriman (Q.S. 66 At-Tahrim : 11). Bandingkan dengan istri paling pengkhianat dalam Al-Qur’an ternyata istri Nabi Luth dan Nabi Nuh (Q.S. 66 At-Tahrim : 10). Ini merupakan pelajaran penting buat kita bahwa kehebatan atau kelemahan sosok figur dalam keluarga bukan jaminan bagi keluarga lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Semoga anak keturunan kita tidak hanya menjadi anak keturunan biologis kita, tetapi sekaligus anak keturunan spiritual kita. Semoga istri/suami kita bukan hanya istri/suami biologis kita, melainkan sekaligus istri/suami spiritual kita.Hari raya Idul Adha ini juga momentum yang baik untuk mempersiapkan generasi milenium ketiga, suatu generasi yang betul-betul terpilih (the chosen people) atau umat pilihan (khairu ummah) menurut istilah Al-Qur’an (Q.S. 4 Ali Imran : 110).

Al-Qur’an memberikan warning bagi kita agar tidak meninggalkan generasi lemah dan tidak punya daya saing : وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah… “ (Q.S.  An-Nisa : 9)Sebaliknya, Al-Qur’an memberikan dorongan untuk mempersiapkan generasi yang betul-betul professional, memiliki kemampuan kompetisi yang handal, generasi yang kuat dan terpercaya, sebagaimana dilukiskan dalam al-Qur’an : إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِينُ

….sesungguhnya generasi yang paling baik yang kamu pilih untuk bekerja ialah generasi yang kuat lagi dapat dipercaya” (Q.S. 28 Al-Qashash : 26)

Generasi al-qawiyy al-amin menurut ulama Tafsir ialah generasi yang sehat jasmani dan rohani, serta memiliki berbagai kecerdasan, keterampilan, dan keunggulan, di samping kejujuran dan amanah. Dengan demikian, generasi untuk milenium ketiga ialah generasi al-qawiyy al-amin, yakni generasi tangguh dan terpercaya.Prasyarat untuk mencapai umat ideal (khairu Ummah) ialah terbentuknya pribadi-pribadi utuh dan keluarga-keluarga tangguh sebagai cikal bakal warga umat.

Sulit membayangkan umat yang ideal tanpa pribadi utuh dan keluarga yang sakinah. Itulah sebabnya Al-Qur’an dan hadis lebih  banyak berbicara tentang pembentukan pribadi dan keluarga, bukannya banyak berbicara tentang masyarakat dan negara.Keluarga sakinah sebagai cikal bakal umat dan warga bangsa yang ideal merupakan obsesi Al-Qur’an.

Keluarga sakinah hanya dapat diwujudkan melalui institusi perkawinan sah dan Allah SWT melarang keras perzinahan. Itulah sebabnya perkawinan dalam Islam, menurut Imam syafi’i, bukan sekedar kontrak sosial (‘aqd al tamlik), melainkan juga memiliki makna sakral (‘aqd al ‘ibadah). Institusi perkawinan menuntut berbagai syarat dan ketentuan agar rumah tangga yang terbentuk kelak melahirkan generasi-generasi pilihan. Keluarga dan rumah tangga yang normal dan utuh berpotensi melahirkan generasi yang tangguh, sebaliknya keluarga dan rumah tangga yang berantakan berpotensi melahirkan generasi yang lemah.

Wajarlah kiranya jika Rasulullah pernah mengingatkan bahwa, “Sesuatu yang halal tetapi paling dibenci Allah ialah perceraian” Perceraian adalah lambang kegagalan sebuah rumah tangga.  

Al Qur’an dan Al Sunnah Mencerahkan Kehidupan Manusia

( Intisari khutbah Jum’at tanggal, 24 Nopember 2006 M / 03 Dzulqa’dah 1427 H ) 

Oleh : DR.H. Hidayat Nurwahid 

Hari-hari ini kita kembali menyaksikan, merasakan dan melihat karunia Allah yang hadir terus menerus dan tidak akan berhenti  kepada kita umat Islam khususnya  umat Islam di Indonesia. Kita kembali betapa satu dari sekian banyak syari’ah Allah bila dilaksanakan ketika kita melihat sebahagian saudara-saudara kita akan dan sebahagian sudah berangkat kembali untuk melaksanakan ibadah haji. Tentu saja karunia Allah yang sangat besar ini kita maknai  sebagai bagian dari karunia-karunia yang memang telah dihadirkan oleh Allah, agar kita dapat mensyukurinya, dengan mengambilnya sebagai pelajaran yang penting. 

Ibroh yang paling utama salah satu diantarnya, bahwa kita dari salah satu umat Islam, termasuk umat Islam di indonesia , oleh Allah SWT selalu diberikan sarana, agar tidak pernah lupa dengan Baitullah, tak pernah lupa dengan Sya’arullah, tidak pernah lupa kita melaksanakan hak-hak sebagai hamba Allah, siapapun kita, bahkan kita adalah kelompok masyarakat yang dimudahkan oleh Allah  untuk mendapatkan kemampuan, mempunyai kekuatan untuk kemudian  karenaNya untuk bisa melaksanakan  kewajiban berhaji. 

Kemampuan terkait dengan pelaksanaan kekuatan, terkait dengan masalah ekonomi, kesehatan, kesempatan, rizki, keberkahan, Allah SWT memberikan kepada kita satu sarana, agar kelebihan-kelebihan yang diberikan kepada kita tidak membuat kita menjadi lupa kepada Allah SWT, lupa ajaran Allah / pada Syari’ahNya,  justru kita kembali diberikan Allah suatu bukti dan satu sarana bahwa karunia Allah yang diberikan kepada kita baik berupa harta, kedudukan, kesempatan, ternyata bisa dipergunakan  oleh saudara-saudara kita untuk merialisasikan ubudiyah kepada Allah dengan melaksanakan ibadah haji.  

Satu hal yang mudah-mudahan kita selalu teringat, akan fatwa syukur kepada Allah SWT,  hal yang amat menjadi penting hari inipun kita di sisi yang lain, masih merasakan betapa banyak kegetiran betapa banyak yang pahit, betapa banyak hal yang menyusahkan kehidupan kita sebagai bangsa, sebagai umat, belum selesai problema dengan lumpur di Sidoarjo, kembali kemarin terjadi ledakkan yang mengakibatkan bukan saja lubernya lumpur, tapi terjatuhnya korban saudara-saudara kita yang bertugas dan mereka pasti tidak berdosa.

Dan kemarin pun kita melihat dan membaca berita bagaimana seorang suami menembak seorang istrinya sendiri, kemudian ia berupaya untuk bunuh diri, tapi ajal belum sampai kepada dia, dan jadilah dia sekarang pesakitan.   Begitu banyak masalah-masalah yang seolah-olah kemudian membawa kita kepada lingkaran syaetan, krisis yang seolah-olah karenanya tidak memberikan harapan kepada kita untuk bangkit keluar dari lingkaran syaetan ini. Dari dua kondisi yang telah saya sampaikan, kita sebagai umat yang beragama, apalagi yang penduduknya mayoritas beragama Islam ini.

Tentulah kita tidak boleh terjebak berlama-lama termangu, seolah-olah tidak mempunyai pedoman, seolah-olah kita berada di tengah-tengah gelap gulitanya kegelapan dan kezholiman. Sesungguhnya Allah telah memberikan suatu panduan kehidupan amat sangat yang mencerahkan yaitu Al Islam, dengan Al Qur’an, panduan yang kongkrit yaitu As Sunnah.  Kita akan mendapatkan bahwa kehidupan memang tidaklah selamanya terang benderang, cerah mencerahkan, mudah seperti apa yang kita bayangkan, bahkan sesungguhpun apabila jamaah haji kita akan berangkat ke Makkah dan Madinah, mereka akan menadapat satu kondisi Makkah dan Madinah  dan apalagi kalau mereka membaca siroh Nabawiyah, perjuangan Nabi Muhammad SAW,

sejarah diturunkan Al Qur’anul Karim kepada beliau kita akan mendapatkan Nabi dan Islam, hadir ditengah kekosongan budaya tidaklah hadir ditengah masyarakat yang tidak mempunyai interes-interes yang kemudian menghadirkan beragam tragedi, problema, termasuk juga untuk meredupkan upaya agama Allah, cahaya Al Qur’an.  Tidak mengetahui bagaimana masyarakat Makkah, bagaiman kejahiliyahannya begitu luar biasa, seperti digambarkan dengan bagus oleh Umar bin Khathab ra, ketika beliau sudah menjadi Kholifah, didapatkan oleh seorang umat beliau sedang menangis dan tertawa, umat ini kemudian bertanya, wahai Kholifah apa yang terjadi, baginda tadi menangis kemudian tertawa, 

Khalifah Umar RA kemudian menjawab, aku teringat dengan masa pra Islam, dengan masa jahiliyyah dahulu, aku menagis betapa zholimnya masyarakat, mereka mempunyai anak perempuan, anak yang sudah lama mereka nantikan, tapi begitu mereka datang kemudian mematikan dan dikubur hidup-hidup.  Menangislah aku, betapa rendahnya kwalitas kemanusian di waktu itu, tetapi aku tertawa mengingat ketika masa jahiliyah pra Islam dahulu, betapa bodohnya kami, pada waktu itu kami membuat tuhan dari tepung-tepung yang kami kumpulkan, kemudian kami bentuk menjadi tuhan-tuhanan, kemudian kami sembahlah tuhan yang dibuat sendiri dan kemudian setelah selesai prosesi penyembahan, tuhan yang kami bentuk itu kami menyantapnya dan memakannya, betapa amat menggelikanya. 

Itulah kondisi pra Islam, kondisi pra hijrahpun amat sangat menyesakkan, sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah Al Munawaroh, satu kota yang akan dikunjungi oleh saudara-saudara kita para jamaah haji, mereka ziarah ke Madinah Al Munawaroh, ke masjid An Nabawi, sebelum Rasulullah berhijrah ke sana, al Madinah adalah satu kota yang disebut dengan Yastrib, satu ungkapan yang sangat berdekatan maknanya dengan segala yang menghadirkan kerusakan, kerugian, kehancuran, yang tidak harmonis itulah yang terjadi.  

Begitulah masyarakat Madinah pra hijrah, komplik terus menerus yang dipropokasikan oleh komunitas Yahudi yang menghadirkan hegemoni tunggal atas kehidupan di Madinah, mereka menguasai kehidupan perokomian di Madinah, dan menguasai dalam seluruh setratanya, baik dalam stratanya ekonomi, sosial, politik, tehnologi, airpun mereka kuasai, kebunpun mereka kuasai, pasar mereka kuasai, opini mereka kuasai, bahkan mereka tidak cukup dengan itu, dalam rangka mengokohkan hegemoni yang mereka miliki,.

Mereka terus-menerus melemahkan faktor pesaing yang ada di Madinah yang berada dikalangan Arab, dan untuk itulah mereka melakukan upaya untuk mengadu domba antara orang-orang Arab yang berada di Madinah, antara Haoz dan Khazraj, menyebarkan fitnah dan informasi, melakukan beragam cara agar orang-orang Arab itu bisa dilemahkan dan karena hegemoni Yahudi tidak bisa diganggu gugat.  Terjadilah salah satunya perang Bu’at, 40 tahun lamanya, Haoz dan Khazraj terjebak perang di antara mereka, kita bisa bayangkan bagaimana kondisi warga bangsa yang terjebak dalam perang yang permanen, dikipas terus menerus oleh bangsa yang lebih besar yaitu orang-orang Yahudi, tapi itu memang kondisi Yastrib pra Hijrah.  

 Seperti juga kondisi Makkah pra Hijrah, kondisi yang amat sangat menyesakkan, seolah-olah tidak ada masa depan, seolah-olah yang ada adalah kegelapan dan kegelapan. Tetapi yang terjadi kemudian adalah Allah menghadirkan Al  Islam , menghadirkan Saiyyidina Muhammad SAW, sebagai nabi dan sebagai rasul, kemudian masyarakat dikeluarkan dari kegelapan keterang benderang, segala bentuk kegelapan itu, segala bentuk kezholiman itu, kepada cahaya Al Islam dan kemudian munculah masyarakat yang baru, masyarakat yang madani, masyarakat yang membawa kerahmatan lilalamin. 

masyarakat yang sangat unggul, yang dinilai oleh para ulama termasuk Said Jamaluddin Ahwani dalam salah satu kitabnya Aroddu Adahriyin, ia mengatakan adalah salah satu dari kemu’zizatan Islam adalah selain hadirnya Al Qur’an, selain hadirnya Rasululoh SAW dengan segala kemu’zizatanya, salah satu kemu’zizatanya adalah kemukzizatan sosial, dimana dalam salah satu waktu yang pendek telah hadir salah satu komunitas yang baru, masyarakat yang sama sekali yang berbeda , masyarakat yang sukses, masyarakat yang menghadirkan peradaban yang baru, peradaban yang sangat manusiawi,

masyarakat yang mencerahkan, masyarakat yang akan hadirnya umat manusia dalam waktu yang sangat pendek, peradaban ini bisa menyebar, bukan hanya terbatas di Jazirah Arabia bahkan kemudian mengikuti tulisan  Ibnu Robbi dalam tulisannya  Asl Ibdu Farid dalam abad pertama Hijriyahpun Al Islam telah sampai ke bumi Nusantara kekerajaan Sriwijaya, telah diadakan surat menyurat antara Khulapa Daula Ummayah, di Damaskus termasuk juga dengan Khalifah Ar Rosyid  Umar Abdul Azis,  

Saya menegaskan sekali lagi bahwa apa yang kita dapatkan sekarang ini dalam dua demensi adalah sebagai Allah tegaskan dalam surah Al Muluk

: الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُmaksudnya: “Allah menghadirkan ini seluruhnya adalah sebagai ibtila sebagai ujian, agar Allah bisa mendapatkan suatu bukti siapa yang diantar kita yang paling baik amalnya” (Al Muluk : 2) tentulah dikarenanya dengan pendekatan ini, mengambil salah satu hikmah dari yang hadir sebagai salah satu ujian agar kita menjadi salah satu pihak yang berlomba-lomba menghadikran kebaikan, lomba yang menghadirkan yang lebih baik, lomba pelajaran yang unggul dari peristiwa yang ada  

Mudah-mudahan keberangkatan jamaah haji kita akan membawa kepada kita semuanya pembelajaran yang penting dan sekaligus mengingatkan kepada mereka agar mereka memaksimalkan keberangkatan mereka untuk menjadikan diri mereka sebagai haji yang mabrur dan dengan kemabruranya akan membawa kepada kita semangat baru untuk terus menerus menapaki kebaikan dari pada Al Islam,

dengan kemabruran mereka mudah-mudahan akan selalu membawa kepada kita kader-kader umat dan kader-kader bangsa yang tidak pernah berhenti untuk beramal sholeh, mudah-mudahan doanya dikabulkan Allah dan mudah-mudahan doanya itu diantaranya adalah agar umat dan bangsa kita segera bangkit keluar dari krisisnya, para pimpinannya, umatnya dan siapun juga supaya betul-betul menjadi umat dan masyarakat yang muttaqun. (ds) 

Pandangan Hidup Muslim

(Intisari Khutbah Jum’at tanggal, 12 Mei 2006 M / 14 Rabiul Akhir 1427 H)

Oleh : Prof.DR.H.A. Bachmid 

v   Tujuan hidup seorang Muslim.

Jarang orang merumuskan tujuan hidupnya. Merumuskan apa yang dicari dalam hidupnya, apakah hidup­nya untuk makan atau makan untuk hidup. Banyak orang sekedar menjalani hidupnya, mengikuti arus ke­hidup­an, terkadang berani melawan arus, dan menyesuaikan diri, tetapi apa yang dicari dalam melawan arus, menyesuaikan diri dengan arus atau dalam pasrah total kepada arus, tidak pernah dirumuskan se­ca­ra serius. Ada orang yang sepanjang hidupnya bekerja keras mengumpulkan uang, tetapi untuk apa uang itu baru dipikirkan setelah uang terkumpul, bukan dirumuskan ketika memutuskan untuk mengumpulkannya.

Ada yang ketika mengeluarkan uang tidak sempat merumuskan tujuannya, sehingga harta­nya terhambur-ham­bur tanpa arti. Ini adalah model orang yang hidup tidak punya konsep hidup. Sesungguhnya secara fithri, terutama ketika melakukan sesuatu untuk kebutuhan dasarnya selalu ingat tuju­an. Ketika seseorang ingin menjadi insinyur dia masuk Fakultas Tehnik, bila ingin menjadi Dokter maka ia ma­suk Fakultas kedokteran, bila ingin jadi ahli ekonomi maka masuk Fakultas Ekonomi, dan bila ingin menjadi pe­mim­pin maka ia harus mengadakan manuver politik mencari legitimasi dari kaum muslimin atau masyarakat.

Rumusan tujuan hidup yang didasari oleh ajaran agama menempati posisi sentral, yakni orang yang hormat dan tunduk kepada nilai-nilai agama yang diyakininya, melalui figure Ulama Kharismatik, atau menurut kitab suci. Menurut ajaran Islam, tujuan hidup manusia ialah untuk menggapai ridha Allah, ibtigha mardhatillah. Firman Allah  

: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِـغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ وَاللهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ ,

arti­nya : “Dan di an­tara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Pe­nyan­tun kepada hamba-hamba-Nya” (QS. 2 Al Baqarah : 207). Ridha artinya senang. Jadi segala pertimbangan tentang tujuan hidup seorang Muslim, terpulang kepada apakah yang kita lakukan dan apa yang kita gapai itu sesuatu yang disukai atau diridhai Allah SWT atau tidak. Jika kita berusaha memperoleh ridha-Nya, maka apapun yang diberikan Allah kepada kita, kita akan mene­ri­ma­­­nya dengan ridha (senang) pula, ridha dan diridhai (radhiyatan mardhiyah). 

Kita bisa mengetahui sesuatu itu diridhai atau tidak oleh Allah. Tolok ukur pertama adalah syariat atau atu­r­an agama, sesuatu yang diharamkan Allah pasti tidak diridhai; dan sesuatu yang halal pasti diridhai, sekura­ng­ -kurang­nya tidak dilarang. Selanjutnya nilai-nilai akhlak akan menjadi tolok ukur tentang kesempurnaan, misal­nya memberi kepada orang yang meminta karena kebutuhan adalah sesuatu yang diridhai-Nya; tidak memberi tidak berdosa tetapi kurang disukai. 

Indikator ridha Allah juga dapat dilihat dari dimensi horizontal, Nabi bersabda : “Bahwa ridha Allah ada bersama ridha kedua orang tua, dan murka Allah ada bersama murka kedua orang tua”. Semangat untuk mencari ridha Allah sudah barang tentu hanya dimiliki orang-orang yang beriman, sedang­kan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal agama, maka boleh jadi pandangan hidupnya dan prilakunya sesat, tetapi mungkin juga pandangan hidupnya mendekati pandangan hidup orang yang minus beragama, karena toh setiap manusia memiliki akal yang bisa berfikir logis dan hati yang di dalamnya ada nilai kebaikan. 

Metode untuk mengetahui Tuhan juga diajarkan oleh Nabi dengan cara bertanya kepada hati sendiri, istifti qalbaka. Orang bisa berdusta kepada orang lain, tetapi tidak kepada hati sendiri. Hanya saja hati orang berbeda-beda. Hati yang gelap, hati yang kosong, dan hati yang mati tidak bisa ditanya. Hati juga kadang-kadang tidak konsisten, oleh karena pertanyaan paling tepat kepada hati nurani, Nurani berasal arti kata nur, cahaya. Orang yang nuraninya hidup maka ia selalu menyambung dengan ridha Tuhan. Problem hati nurani adalah cahaya nurani sering tertutup oleh keserakahan, egoisme, dan kemaksiatan. 

v   Tugas Hidup Seorang Muslim

Rumusan tugas hidup seorang muslim bisa dibuat berdasarkan citarasa sebagai manusia yang hidup di tengah realita objektip, oleh karena itu rumusan tugas hidup dapat berbeda-beda. Menurut ajaran Islam, tugas hidup manusia, sepanjang hidupnya hanya satu tugas, yaitu menyembah Allah, Sang Pencipta, atau dalam bahasa harian disebut ibadah. Disebutkan dalam Al Qur’an bahwa tidaklah Tuhan menjadikan Jin dan Manusia kecuali untuk menyembah kepada-Nya. Menjalankan ibadah bukanlah tujuan hidup, tetapi tugas yang harus dikerjakan sepanjang hidupnya.

Ibadah mengandung arti untuk menyadari dirinya kecil tak berarti, meyakini kekuasaan Allah Yang Maha Besar, Sang Pencipta, dan disiplin dalam kepatuhan kepada-Nya. Oleh karena itu orang yang menjalankan ibadah mestilah rendah hati, tidak sombong, dan disiplin. Itulah etos ibadah. Ibadah ada yang bersifat mahdhah/murni, yakni ibadah yang hanya memiliki satu dimensi, yaitu dimensi vertikal, patuh tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa, seperti shalat, puasa, ada ibadah yang bersifat material-sosial seperti; zakat dan sadaqah, ada ibadah bersifat fisik seperti ibadah haji. 

Ibadah juga terbagi menjadi dua klasifikasi; ibadah khusus dan ibadah umum. Ibadah khusus adalah ritual yang bersifat baku yang ketentuannya langsung dari wahyu atau dari Nabi Muhammad SAW, sedangkan ibadah umum adalah semua perbuatan yang baik, dikerjakan dengan niat baik dan dilakukan dengan cara yang baik pula. Ibadah khusus seperti shalat lima waktu sehari semalam adalah tugas, taklif dari Allah SWT yang secara khusus diperuntukkan kepada orang-orang mukmin yang telah baligh. Puasa, Zakat (zakat fitrah, zakat mal) bagi yang telah memenuhi syaratnya, dan ibadah haji bagi yang mampu, memotong hewan kurban bagi yang mampu semuanya adalah taklif. 

Dan ibadah ghairu mahdhah, seperti berbisnis, karena inti dari berbisnis adalah membantu mendekatkan orang lain dari kebutuhannya. Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat besar nilainya asal dilakukan dengan niat baik dan cara yang baik pula. Bahkan menunaikan syahwat seksual yang dilakukan dengan halal (suami isteri) dan dilakukan dengan cara baik (ma’ruf) adalah ibadah. Dengan demikian kita dapat melakukan tugas ibadah dalam semua aspek kehidupan kita, sesuai dengan bakat, minat, dan profesi kita. Perbedaan pandangan hidup akan menghasilkan perbedaan nilai dan persepsi.

Orang yang tidak mengenal ibadah, mungkin sangat sibuk dan lelah mengerjakan tugas sehari-hari, tetapi nilainya nol secara vertikal, sementara orang yang mengenal ibadah, mungkin sama kesibukannya, tetapi cara pandangannya berbeda dan berbeda pula dalam mensikapi kesibukan, maka secara psikologis/kejiwaan ia tidak merasa lelah karena merasa sedang beribadah. 

v   Peran dalam pentas kehidupan

Dalam hal ini manusia memiliki dua peran utama; pertama sebagai hamba Allah, dan peran kedua seba­gai khalifah Allah di muka bumi. Sebagai hamba Allah manusia adalah kecil dan tidak memiliki kekuasaan, oleh karena itu tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya. Namun, sebagai khalifah, manusia diberi fungsi, peran yang sangat besar, karena Allah Yang Maha Besar maka manusia sebagai wakil Allah di muka bumi memiliki tanggungjawab dan otoritas yang sangat besar. Sebagai khalifah manusia diberi tugas untuk mengelola alam semesta ini untuk kesejahteraan manusia. 

Dari ketiga dimensi tersebut; Tujuan Hidup seorang muslim, tugas hidup, dan peranannya dalam kancah kehidupan dunia, dapat kita sarikan dalam sifat-sifat moral yang harus dimiliki seorang muslim adalah: Beramal shaleh, menghindari dosa, menyuruh berbuat baik, melarang berbuat munkar (amar ma’ruf nahi munkar), jujur dan mencela kebohongan, bersikap sederhana dan menjauhi pemborosan. Dalam segala hal, adil, lemah lembut dalam berbicara, menghindari perkataan yang buruk dan fitnah, sedia memaafkan, menghindari keangkuhan dan kesombongan, sabar, mengendalikan diri dan waspada, tidak kejam, sedia bertindak sebagai penengah dan pembuat perdamaian, berpegang teguh kepada keimanan, setia, dermawan, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada seluruh tetangga dan kerabat, sederhana, melaksanakan sumpah, menghindari sumpah palsu, dan sifat paling mulia adalah taqwa

 إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ أَتْقَاكُمْ  “Orang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling taqwa” (QS. 49 Hujurat : 13) 

Taubat Semisal Pelampung dan Timah Pemberat

(Intisari khutbah Jum’at, 07 April 2006 M / 08 Rabi’ul Awal 1427 H)

Oleh :.DR.KH. Masyhuri Na’im, MA


Khotbah yang ingin saya sampaikan hari ini saya awali dengan dua ayat :

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ اْلأَلِيْمُ. , artinya : Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih” (QS.15 Al Hijr 49-50).

Ada dua pengertian yang paradox bisa kita tangkap dari ayat tersebut, yaitu :

Pertama, siksa dan azab Allah SWT sangat pedih

Kedua, Allah SWT sangat Pengasih dan Penyayang lebih daripada siapa saja yang berhati kasih sayang, dan pasti akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya betapapun besarnya jika ia mau bertaubat.

Dan ini yang paling dominan dalam ayat tersebut, karenanya didahulukan penyebutannya, apalagi kalau dilihat dari أَسْبَابُ اْلنُّزُوْلِ , yaitu : “Rasulullah SAW melewati sekelompok sahabatnya yang sedang tertawa ber­sen­da gurau, beliau menegurnya : اَتَضْحَكُوْنَ وَذَكَرَ الْجَنَّةَ وَالنَّارُ بَيْنَ اَيْدِيْكُمْ “Kalian tertawa dan menyebut-nyebut sorga, padahal neraka berada di depan kalian ?”, Kemudian datanglah Jibril dan berkata : Wahai Muhammad sungguh Allah SWT berfirman : “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang …”.

Ayat tersebut memberikan optimisme dan harapan kepada kita, bahwasanya tidak ada dosa betapapun besarnya – kecuali syirik – yang tidak akan terampuni jika kita mau bertaubat, apalagi penjelasan dan janji Allah ter­sebut diperkuat oleh hadits-hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW, seperti, artinya : “Ketika Allah menciptakan makhluk. Ditulisnya sebuah tulisan di atas singgasana-Nya : sungguh rahmat-Ku mendahului kemarahan-Ku. Dalam sebuah riwayat disebutkan : Sungguh rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku”

Sesuai dengan firman Allah

قُلْ لِّمَنْ مَّا فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ قُلْ ِللهِ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ َ , artinya : “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang …” (QS.6 Al-An’am 12).

Jadi, salah dan dosa adalah sesuatu yang wajar terjadi, dan itu dengan tegas disampaikan oleh Rasulullah SAW sebagaimana dalam hadits di bawah ini yang artinya : “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kalian semua tidak ada yang berbuat dosa, niscaya kalian semua akan dibinasakan kemudian akan diciptakan suatu bangsa yang berbuat dosa, tapi, kemudian mohon ampun kepada Allah SWT, dan Allah mengampuni mereka” (HR. Muslim).

Hadits di atas menyadarkan kita, bahwa dosa adalah sesuatu yang wajar terjadi, yang terpenting adalah upaya menyadari kesalahan dan bertaubat.

Rasulullah SAW bukan hanya bisa menyuruh, tapi beliau juga memberi contoh dan melakukannya, sebagaimana hadits ini

يَآأيُهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلىَ اللهِ فَإِنِّي اَتُوْبُ إِلَيْهِ ِفي الْيَوْمِ مِأَتَة مَرَّة , artinya : “Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sungguh saya bertaubat kepada-Nya seratus kali setiap harinya” (HR. Muslim). “Karenanya, yakinlah bahwa Allah SWT pasti mengampuni dosa-dosa kita dengan rahmat dan belas kasih-Nya, dan itu modal masuk surga”.

Sampai di sini kita bisa memahami bahwasanya taubat dan harapan adalah semisal pelampung dan timah pemberat. Pelampung agar kita tidak tenggelam kedalam kepesimisan dan keputus-asaan, sementara timah pemberat akan menyelamatkan kita dari kesombongan yang itu adalah bentuk lain dari dosa dan kemaksiatan, dan dengan kesombongan membuat Iblis terlaknat selamanya. Untuk itu Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah sabdanya, yang artinya : “Amal seseorang tidak akan mengantarkannya masuk surga, tidak Anda ya Rasulullah ? Kata sahabat. Beliau menjawab : tidak juga saya, kecuali Allah meliputi dan memenuhiku dengan ampunan dan rahmat” (Muttafaq alaih).

Ya Allah, semoga Engkau ampuni Dosa-dosa kami dan terimalah ibadah kami, kemudian masukkanlah kami ke dalam surga-Mu dengan rahmat dan kasih sayang-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi sangat Penyayang lebih dari siapa saja yang berhati pengasih dan penyayang. Amin

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.