Tahukah Anda Siapa Pendusta Agama?

(Intisari khutbah jum’at tanggal, 10 Februari 2006 M / 11 Muharam 1427 H)

 Oleh : Prof. DR. H. Nazaruddin Umar, MA

Akhir-akhir ini kita banyak menyaksikan pemandangan yang sangat memilukan hati, pemandangan yang sangat tidak menggembirakan kita sebagai umat, misalnya; bulan-bulan ini kita melihat dipemberitaan anak-anak SMP dan SMU bunuh diri dengan menggantung diri, hanya karena tidak dapat memenuhi kebutuhan sekolahnya. Sampai-sampai ada seseorang yang ingin menjual ginjalnya sebelah, hanya untuk menolong saudaranya yang sangat butuh, dia tidak tega untuk menjadi tukang minta-minta.

Di perbatasan Kalimantan, kita juga mem­baca, ada beberapa ibu yang begitu tega menjual bayinya kepada tetangganya, alasannya sederhana; mungkin anak itu akan lebih baik jika dipelihara orang lain ketimbang dirinya yang sudah tidak mampu membiayai seluruh kebutuhan hidupnya. Bukan rahasia lagi, banyak sekali orang tua membiarkan anak-anaknya mencari dana sendiri, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sehari-harinya, kebutuhan sekolahnya, dan kebutuhan diktatnya.

Jumlah aborsi semakin tahun semakin bertambah bahkan sudah jutaan, seseorang peneliti menerangkan bahwa penyebab aborsi itu, paling banyak karena kekhawatiran pembiayaan anak, ada lagi kiat-kiat tertentu yang dilakukan orang, misalnya memperbanyak berpuasa, sudah bukan Senin Kamis lagi tapi puasa Nabi Daud, untuk mengecoh perutnya supaya mampu bertahan, karena yang hendak dimakan sudah tidak ada lagi. Semakin banyak murid-murid yang drop out, semakin banyak orang yang sakit tapi tidak sanggup untuk pergi ke rumah sakit, paling banter dia mencari dukun yang sangat murah.

Kita menyaksikan di mana-mana semakin meluas saudara-saudara kita yang mengemis di pinggir jalan, kriminalitas juga semakin bertambah, begitu juga prostitusi, modus operandi kejahatan, penipuan sekarang ini juga semakin merajalela berkembang, pada umumnya adalah umat kita.Sangat ironisnya karena pada saat yang bersamaan di tengah-tengah kejadian tadi, busung lapar dan lain sebagainya merajalela, ternyata ada sebuah informasi yaitu hotel-hotel kita yang berbintang lima di Jakarta ini, membuang makanannya setiap hari tidak kurang dari lima truk, sementara, hotel bintang itu mempunyai peraturan yaitu tidak boleh membawa pulang makanan oleh para karyawannya dan katering juga mempunyai aturan tersendiri, sehingga makanan yang begitu segar harus dibuang setiap malam.

Mal-mal swalayan yang kita saksikan setiap hari, banyak sekali penjual roti, penjual makanan sampai jam dua belas malam makanan tersebut sebenarnya masih layak makan akan tetapi itu harus dibuang, itupun bertruk-truk juga, tidak mungkin dijual pada esok harinya. Stok makanan dan minuman yang ada di gudang-gudang, berkontener-kontener harus dibuang karena kadaluarsa, padahal kalau kita lihat seminggu sebelum kadaluarsa apa salahnya dimanfaatkan kepada mereka yang butuh, semua itu masuk di tong sampah, sebetulnya itu masih layak untuk dikonsumsi karena masih begitu banyak orang yang sekarang makan nasi basi lalu dikeringkan dan dimasak lagi.

Saya ingin mengetuk hati kita semua pada kesempatan ini, mari kita mengintrospeksi diri kita masing-masing, merenung, dan mengingat apa yang ada di rumah kita masing-masing. Rata-rata kita punya gudang di rumah, banyak sekali barang-barang yang tidak terpakai lagi, itu sangat berarti bagi orang lain, di situ ada radio, TV, jam berbagai macam bentuknya, sound system, komputer yang model lama, dan lain-lain sebagainya. Sebenarnya alat-alat elektronik itu bisa kita manfaatkan dan bisa kita jual, kita mempunyai garasi tapi isinya perabotan-perabotan yang tidak dipakai lagi dibiarkan seperti itu, alat-alat olah-raga bekas dan sepeda-sepedaan anak-anak, sampai kepada buku-buku, anak kita sudah tidak ada SD dan SMP lagi, isi kardus yang ada di rumah mungkin sangat berarti bagi umat kita yang berada di pedesaan dan mainan anak-anak yang begitu banyak.

Buka lemari pakaian kita sekalian, ada beberapa baju sudah bertahun-tahun yang belum tersentuh, sirkulasi barang-barang bekas, sirkulasi penjualan barang-barang itu asetnya sangat dahsyat sekali, kalau barang-barang bekas itu kita kumpulkan, diorganisasikan oleh masjid luar biasa. Di negara-negara Barat tradisi menumpuk tidak seperti di negara kita ini, piring-piring berlusin-lusin yang hanya dipakai satu tahun satu kali atau dua kali, sementara banyak orang yang membutuhkan, banyak barang-barang yang tergantung di situ, bertahun-tahun tidak pernah dipakai, itu semua bisa bernilai uang, kita tidak sadar bahwa di rumah kita banyak sekali harta yang nganggur di tengah penderitaan orang lain.

Sehubungan dengan itu saya akan menguraikan ayat yang dibacakan di depan tadi Al-Qur’an surat 107 Al Ma’un ayat 1, اَرَءَ يْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّيْن . Surat ini diawali dengan kalimat bertanya. Dalam kaidah, apabila Allah memulai ayat-ayat dengan bertanya, pasti di situ ada sesuatu yang Allah akan tekankan pada diri kita : “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?” siapa yang beragama secara palsu, siapa yang berkamuplase beragama, siapa yang tidak ada artinya beragama, yaitu mereka yang tidak konsen terhadap nasib anak yatim atau orang-orang yatim”.

Di dalam kamus besar bahasa Arab, yang dimaksud al-yatim adalah, adanya keterputusan antara satu sama lain, karena anak yatim itu terputus dengan kedua orang tuanya. Dalam kamus itu juga dijelaskan, siapapun yang membutuhkan bantuan itu adalah yatim, termasuk dalam sumber itu disebutkan laki-laki dan perempuan yang belum sempat kawin itu juga masih layak disebut dengan yatim, karena membutuhkan bantuan pada kodratnya setiap makhluk Tuhan itu adalah berpasang-pasangan.

Kalau yang dimaksud yatim adalah keterputusan kasih sayang, jangan sampai anak kandung kita menjadi yatim, karena kita tidak memberi­kan kasih sayang kepadanya. Saya ingin mengingatkan kepada kita semua, dua puluh tiga kali Al-Qur’an menyebut­kan kata yatim, yakni pasti sangat penting. Sangat memilukan hati kalau hati kita tidak tergetar menyaksikan pemandangan di media, siapa tahu kita orang yang termasuk celaka, kita percuma beragama menurut ayat ini.

Banyak cara untuk mengatasi kemiskinan antara lain seperti apa yang saya sebutkan tadi, mungkin masjid kita yang tercinta ini perlu mengadakan pembaharuan managemen masjid, saya mengingatkan masjidnya Rasulullah SAW, di mana masjid Rasulullah bukan hanya dipergunakan untuk azdan dan shalat saja, tapi mengontrol dapur-dapur mana yang tidak berasap dan dapur-dapur mana yang selalu berasap, pasti yang berasap ada kelebihan dan yang tidak berasap pasti ada kekurangan.

Masjid berfungsi untuk mendekatkan si kaya dan si miskin. Kalau kita membuka isi gudang kita, Masjid Istiqlal masih punya cara, bagaimana menyalurkan kepada yang tepat, saya yakin kita bisa karena buktinya, ketika saudara-saudara kita di timpa tsunami di Aceh, berton-ton kontener barang-barang menumpuk di gudang masih belum dapat dibagikan, begitu banyaknya pakaian bekas, padahal itu bisa bernilai uang, omset penjualan barang bekas luar biasa.

Kalau nganggur tidur di dalam gudang, di tengah-tengah penderitaan orang lain, ingatlah ayat ini, “celakalah dalam shalat”, siapa yang celaka dalam shalat, apalagi tidak shalat, yang shalatnya itu tidak disiplin, sering ompong, malas, alfa, yang lain dari sāhun itu adalah, lawan dari pada disiplin, mestinya orang yang rajin shalat itu memelihara kedisiplinan, disiplinnya orang beriman seperti disiplinya matahari bulan dan bintang, beredar di atas relnya tidak pernah mengalami kemunduran sehingga dalam satu tahun tidak pernah bergeser satu detikpun, karena mereka disiplinnya berthawaf di atas rel yang ditentukan oleh Allah.

Kita sering shalat diakhir waktu, sepertinya tidak displin, tidak konsisten, tidak istiqamah. Orang yang begitu tega mendemontrasikan kemewahanya di atas kehancuran yang demikian itu enggan memberikan bantuan padahal mereka mempunyai potensi. Marilah kita mengintrospeksi diri kita masing-masing, kalau perlu kita mengurangi khutbah dan kita ganti dengan perbuatan, semua ini pasti punya kelebihan.

Saya himbau sekali lagi, kalau kita pulang nanti, kita buka lemari kita, pakaian yang tidak kita butuhkan mengapa harus mengambil tempat dan buku-buku yang kita tidak butuhkan lagi mengapa tidak kita berikan kepada mereka yang membutuhkan biar bangsa ini lebih cerdas dan semuanya bisa bermanfaat.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: