Melestarikan Nilai-Nilai Hijrah

(intisari Khutbah Jum’at tanggal, 03 Februari 2006 M / 04 Muharam 1427 H)

 Oleh : Drs.H. Zulkifli Rahman, SH,MH 

Saat ini kita memasuki Tahun Baru Hijriyah ke 1427, dengan datangnya tahun baru Islam ini, teringatlah kita dengan peristiwa hijrah Rasulullah SAW bersama para sahabat dari kota Makkah ke Yatsrib. Peristiwa hijrah ini mengandung banyak nilai yang perlu kita kenang dan kita kembangkan dalam rangka pembinaan diri dan pembangunan umat sekarang dan yang akan datang.Bilamana kita telusuri kejadian demi kejadian serta suasana ketika berlangsungnya hijrah, kita bersua dengan nilai-nilai indah dan mengagumkan.

Nilai-nilai yang perlu dijadikan mau’izhah yang sangat berharga, ialah antara lain : 

1.    Bahwa hijrah itu berlangsung atas izin Allah :

Allah SWT berfirman :وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَartinya “Dan ingatlah ketika orang-orang kafir Quraisy memikirkan daya upaya terhadapmu untuk  menangkap dan memenjarakanmu/membunuhmu/mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS. 8 Al-Anfal 30) 

Menurut Ibnu Abi Hatim berdasarkan keterangan dari Ibnu Abbas bahwa ayat 30 surat Anfal tersebut  berkenaan dengan hasil rapat Pleno seluruh suku Quraisy yang bersepakat untuk membunuh Nabi Muhammad. Maka datanglah Jibril kepada Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk tidak tidur di tempat tidurnya yang biasa, dan memberitahukan tentang rencana perbuatan makar kaum kafir Quraisy. Maka Rasulullah SAW pada malam itu tidak tidur di rumahnya, dan Allah memerintahkan/memberi izin untuk meninggalkan kota Makkah ke Yatsrib. 

2.    Peranan Generasi Muda Islam.

Peran Ali bin Abi Thalib dalam skenario Hijrah sesuai perintah dan izin Allah itu besar sekali peranannya. Ali yang masih muda belia memiliki keberanian luar biasa, ikhlas, berani mati, meng­gantikan Nabi Muhammad SAW tidur di rumah yang dikepung kafir Quarisy yang sudah merencanakan pembunuhan terhadap pengikut Nabi, dan beliau selamat. Sesudah Ali menyelesaikan urusan-urusan tersisa seperti menyerahkan beberapa barang titipan milik orang lain, ia menyusul Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar ke Yastrib dengan berjalan kaki seorang diri yang berjarak + 425 km.Menurut DR Husaim Haikal dalam buku Hayaatu Muhammad”, pada siang hari Ali bersembunyi dari kejaran musuh, pada malam harinya ia berjalan kaki melalui batu-batu cadas yang runcing dan padang pasir luas, 15 hari baru tiba di Quba, dan beberapa hari saja terlambat dari Rasulullah. 

3.    Membangun Masjid Yang Pertama Dalam Islam.

Bangunan yang pertama-tama didirikan Rasulullah ketika tiba di Quba + 17 km dari Madinah ialah sebuah masjid yang sampai dengan sekarang diziarahi oleh setiap jama’ah haji dan umroh dari berbagai pelosok dunia, 4 hari setelah itu Rasulullah dan rombongan meneruskan perjalanan ke Yastrib (Madinah sekarang) dan mendirikan pula Masjid Nabawi yang sangat terkenal di Madinah. Jadi yang pertama-tama dibangun oleh Nabi bukanlah rumah beliau atau istana yang megah, tetapi masjid tempat beribadah kepada Allah SWT. Dalam membangun masjid itu, Nabi turut bekerja dengan tangannya sendiri, bersama-sama kaum Muhajirin dan Anshor. Masjid tersebut merupakan sebuah ruangan terbuka yang luas, hanya sebagian beratap dengan daun dan pelepah korma dan sebagian lagi dibiarkan terbuka.Selesai masjid dibangun barulah dibangun pula rumah tempat tinggal Nabi bersama keluarganya yang serba sederhana, tetapi dari masjid dan rumah sederhana itulah memancarkan cahaya kemuliaan, kesucian rohani dan kehebatan kekuatan iman yang dapat menaklukkan Timur dan Barat di kemudian hari, makanya kota tersebut dinamakan Madinatul Munawaroh.

 4.    Ukhuwah Islamiyah

Nilai keempat yang patut kita renungkan dari peristiwa hijrah itu ialah dipersaudarakannya kaum Muhajirin yang hijrah dengan membawa penderitaan, kemiskinan dan kesusahan dengan kaum Anshor yang dengan segala keichlasannya membantu saudara-saudaranya (Muhajirin). Dari kedua potensi Muhajirin dan Anshor inilah masyarakat Islam berkembang ke pelbagai pelosok dunia yang bertolak belakang sekali dengan kenyataan kaum Muslimin beberapa abad kemudian. Ukhuwah Islamiyah itu secara pelan-pelan telah berubah menjadi barang langka, menjadi semakin asing dan yang tinggal hanyalah permainan kata yang tidak mempunyai makna sama sekali, silang sengketa, pergeseran tajam, permusuhan bahkan peperangan sesama muslim telah sering terjadi. Seolah-olah petunjuk dari ayat-ayat sebagai persaudaraan Islam serta fakta historis yang telah dibangun Rasulullah ini disepelekan, diletakkan ke pinggir di bawah kepentingan yang bermacam-macam.

 5.    Pembangunan Masyarakat Islam

Nilai ke-5 yang kita peroleh dari peristiwa hijrah ialah pembangunan rohani, mental dan iman yang kokoh menghadapi berbagai penderitaan selama 13 tahun di Mekkah, dilanjutkan dengan babak baru di Madinah.Aspek imani yang dibina di Mekkah seperti ; sabar, tawakkal, ikhlas, percaya diri sendiri serta keyakinan tauhid kepada Allah dan sesudah tiba di Madinah diwujudkan secara nyata di dalam pergaulan kemasyarakatan. Aspek-aspek iman semakin diperdalam, aspek-aspek social, ekonomi, politik, budaya dan HANKAM mulai ditata rapi menurut tuntunan Allah, sehingga terwujudlah bangunan masyarakat Islam yang pertama di Madinah. 

Itulah sebagian kejadian yang berlangsung disekitar peristiwa hijrah Rasulullah SAW yang menjadi historis perjuangan Nabi dan para sahabat, serta menjadi teladan umatnya di kemudian hari sampai dengan kini. Tapi apakah saat-saat seperti pergantian tahun Hijriyah ini hanya cukup diperingati dengan mengagung-agungkan kesuksesan/kegemilangannya pada zaman Nabi itu. Walaupun terasa tahun demi tahun, demi syi’ar Islam, masyarakat tambah meriah menyambut tahun hijriyah ini bahkan mereka peringati dengan spanduk-spanduk, ucapan-ucapan, berpesta riya hingga meniru-niru perayaan pergantian tahun baru pada agama lain. Tentunya, bukan itu maksud kita memperingati pergantian tahun Hijriyah itu.

Perintah hijrah kepada Nabi SAW merupakan titik pemisah antara masa Mekkah dan masa Madinah, dan sebagai awal perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan Islam. Sebab 13 tahun di Mekkah baru sedikit sekali jumlah yang mengikuti agama Islam, barulah berkembang di Madinah. Oleh karena itu titik pemisah antara Mekkah dan Madinah bisa diartikan pula sebagai titik pemisah antara yang Bathil dan yang Haqq, antara syirik dan tauhid, antara umat jahiliyah dan umat berhidayah. Di sinilah makna mendalami kalender Hijriyah itu.

Dalam Hijriyah itu sendiri tidak bisa dipungkiri adanya 2 hal : Hijriyah lahiriyah dan hijriyah batiniah/rohaniah. Kalau lahiriyah artinya hijrah secara fisik yang menurut Nabi sudah tidak ada lagi. Yang diperlu sekali pada saat-saat seperti sekarang ini demi menyelamatkan diri pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa adalah hijrah batiniah. Katakanlah kita sudah mengadakan reformasi, tapi sayangnya reformasi seolah hanya berhenti di situ saja, mengapa ? Karena reformasi yang kita usung tidak disertai semangat hijrah secara batiniah yakni semangat untuk menanggalkan hal-hal buruk kearah yang lebih baik.

Semangat untuk tidak mementingkan diri sendiri, tidak mementingkan keluarga/kelompok, tapi lebih mementingkan kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat untuk tidak berkorupsi, tapi semangat untuk terus ikhlas mengabdi, semangat untuk tidak mendengki tapi semangat untuk lebih bertoleransi, semangat untuk tidak malas, tapi harus bekerja keras.

Firman Allah dala Surat Al-Muddatsir 74 : 5, وَالرُّجْزَفَاهْجُرْ , artinya : “Dan dari apa-apa yang dosa, kotor, maksiat dan segala yang jelek harus hendaklah kamu berhijrah”. Artinya hijrah secara non fisik dengan nurani yang paling dalam.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: