Profesionalisme dan Amanah Akan Melahirkan Kesejahteraan

(Intisari khutbah Jum’at, 31 Maret 2006 M / 01 Rabi’ul Awal 1427 H)

Oleh : Prof.DR.H. Didin Hafiduddin

Banyak orang yang menduga bahwa kemakmuran dan kesejahteraan merupakan akibat dari tingkat kesuburan. Semakin subur suatu negeri, maka akan semakin makmur dan sejahtera masyarakatnya. Pendapat ini tentu tidak semuanya salah, tetapi juga tidak semuanya benar. Dalam realitas kehidupan, ada negeri dan daerah yang subur kemudian masyarakatnya makmur dan sejahtera, tetapi ada pula negeri dan daerah yang tidak subur rakyatnya makmur dan sejahtera. Sebaliknya, adapula negeri dan daerah yang subur tetapi rakyatnya miskin.Kalau kita memperhatikan Al-Qur’an, maka faktor utama kesejahteraan dan kemakmuran adalah perilaku yang baik, yang sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Walaupun negerinya subur, tetapi pemimpin dan rakyat­nya durhaka, maka yang terjadi adalah kehancuran dan keterpurukan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an : وَضَرَبَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيْهَارِزْقُهَارَغَدًامِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ فَأَذَاقَهَااللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَاكَانُوا يَصْنَعُوْنَ

Artinya : “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah ; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS. 16 An-Nahl 112).

Dalam sebuah hadits, riwayat Imam Thabrani dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda :خَمْسٌ بِخَمْسٍ : مَانَقَضَ قَوْمٌ الْعَهْدَ, إِلاَّسُلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوُّهُمْ , وَمَاحَكَمُوْا بِغَيْرِمَا أَنْزَلَ اللهُ , إِلاَّ فَشَا فِيْهِمُ الْفَقْرَ وَلاَظَهَرَتْ فِيْهِمُ الْفَاحِشَةُ إِلاَّفَشَافِيْهِمُ الْمَوْتُ وَلاَ طَفَّفُوْا الْمِكْيَالَ إِلاَّ مُنِعُوْا الْنَبَاتَ وَأُخِذُوْابِالسِّنِيْنَ, وَلاَ مَنَعُوْا الزَّكَاةَ إِلاَّحُبِسَ عَنْهُمُ الْقُطْرُ

Artinya : “Rasulullah SAW bersabda : “(Ada) lima perbuatan (yang akan mengakibatkan) lima malapetaka :1. Tidaklah suatu bangsa mudah mengingkari janji, kecuali akan dikendalikan oleh musuh-musuh mereka, 2. Tidaklah mereka berhukum dengan sesuatu yang bukan diturunkan Allah, kecuali akan tersebar kekafiran,3. Tidaklah merajalela di suatu tempat perzinahan, kecuali akan merajalela pula penyakit yang membawa kematian, 4. Tidaklah mereka mempermainkan takaran / timbangan atau kwalitas suatu barang, kecuali akan dihambat tumbuhnya tanaman, dan akan disiksa dengan kemarau panjang, dan5. Tidaklah mereka mengeluarkan zakat, kecuali akan dihambat turunnya hujan yang membawa keberkahan” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas). Sebaliknya, dengan keimanan dan ketaqwaan yang tercermin perilaku keseharian, akan menyebabkan turunnya keberkahan.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :وَلَوْأَنَّ أَهْلَ الْقُرَىامَنُوْاوَاتَّقَوْالَفَتَحْنَاعَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْافَأَخَذْنَاهُمْ بِمَاكَانُوا يَكْسِبُوْنَ.Artinya : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. 7 Al-‘Araf 96).

Perilaku yang baik ini, yang harus dimiliki oleh masyarakat dan bangsa, terutama para pemimpinnya ada­lah amanah, jujur dan terpercaya. Di samping memiliki keahlian dalam bidangnya masing-masing. Orang yang amanah pasti akan mendapatkan rizki dan kesejahteraan dalam hidupnya. Sebaliknya, khianat, culas dan korup akan melahirkan kefakiran. Dalam sebuah hadits, riwayat Imam ad-Dailamiy, Rasulullah SAW bersabda :اَْلأَمَانَةُ تَجْلِبُ الرِّزْقَ وَالْخِيَانَةُ تَجْلِبُ الْفَقْرَ , artinya : “Sifat amanah itu akan menarik (mendatangkan) rizki, dan sifat khianat itu akan menarik (melahirkan) kefakiran” (HR. Ad-Dailamiy).

Ada suatu kisah yang menarik dalam Al Qur’an, yaitu kisah Nabi Yusuf AS, yang mampu membawa kese­jah­teraan masyarakatnya, dan masyarakat di sekitar negeri Mesir, karena beliau dan pejabat di negeri Mesir ketika itu memiliki sifat hafidzun, alimun, yaitu amanah, terpecaya dan ahli atau profesional dalam bidangnya. Dalam hal ini perhatikan firman Allah dalam Al-Qur’an: قَالَ اجْعَلْنِي عَلىَ خَزَائِنِ الأَرْضِ إِنِّي حَفِيْظٌ عَلِيمٌ , artinya : “Berkata Yusuf : “Jadikanlah Aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya Aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan” (QS. 12 Yusuf : 55).

Dalam sejarah Islam pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz yang tidak lama, hanya + 22 bulan, ternyata tidak ada orang yang menjadi mustahiq zakat dengan sebab kejujuran dan keadilan dalam segala bidang yang dilakukan oleh beliau dan pemerintahannya.Amanah dan profesionalisme akan menumbuhkan etos kerja yang tinggi; Akan menumbuhkan etika kerja yang kuat; Akan menyebabkan orang berlomba-lomba dalam mempersembahkan yang terbaik dan akan menyebabkan tumbuhnya ta’awun dan rasa solidaritas sosial yang tinggi antara sesama anggota masyarakat. Kalau sudah begitu, maka akan lahirlah masyarakat yang adil, masyarakat yang makmur, dan masyarakat yang sejahtera di bawah naungan ridha Ilahi.

Lima Dasar Pembinaan Ummat Unggulan

(Intisari khutbah Jum’at tanggal, 24 Maret 2006 M / 24 Shaffar 1427 H)

Oleh : KH. M. Nadjid Mukhtar, MA Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 110, Allah SWT menyatakan tingginya kedudukan ummat Islam di tengah masyarakat lainnya, yaitu sebagai ummat terbaik, ummat unggulan atau Khairu ummah. Firman-Nya :كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ , artinya : “Kamu ada­lah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. 3 Ali Imran : 110).

Mereka pantas memperoleh kedudukan tinggi itu karena mereka selalu mempunyai keyakinan dan keimanan yang benar dan teguh akan adanya Allah SWT dan keesaan-Nya serta iman akan kebenaran semua ajaran-Nya. Mereka juga selalu melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf artinya selalu melakukan dan mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat, duniawi, dan ukhrawi. Sedang nahi munkar artinya selalu menolak dan mencegah segala hal yang dapat merugikan, merusak, dan merendahkan nilai-nilai kehidupan masyarakat.

Hal ini juga diungkapkan Allah pada ayat sebelumnya, artinya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS. 3 Ali Imran : 104). Rasulullah juga bersabda, yang artinya : “Siapapun di antara kamu melihat kemunkaran maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangan (kekuasaan-Nya), kalau dia tidak mampu (tidak memiliki kekuasaan) maka dengan lidah / ucapannya, kalau (yang inipun) dia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman” (Al-Hadits)

Tiga ciri ini, yaitu berkeimanan, beramar ma’ruf, dan bernahi munkar merupakan syarat bagi lahirnya suatu masyarakat unggulan / ummat terbaik; yaitu suatu masyarakat yang di dalamnya berlangsung tata ke­hidupan yang manusiawi, tata kehidupan yang sendi-sendinya didasarkan atas persaudaraan, kesetiakawanan, saling percaya, kejujuran dan keadilan.

Dalam kondisi ini, setiap warga akan terpenuhi kebutuhan lahiriahnya dan batiniahnya, duniawinya dan ukrawinya, yang oleh Imam Ghazali disebut masyarakat “Maslahah” yang senantiasa didambakan oleh setiap muslim dalam do’a: رَبَّنَآأَتِنَاِفىالدُّنْيَاحَسَنَةً وَِّفىاْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَاعَذَابَاالنَّارِ , artinya : “Tuhan kami, ka­runia­kanlah kepada kami di dunia ini kebaikan dan di akhirat (nanti) kebaikan (pula) dan hindarkanlah kami dari siksa neraka” (QS.2 Al Baqarah : 201). Dan firman Allah,بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُوْرُ , artinya : “Negeri yang thayyib (sentosa) dan Tuhan yang senantiasa memberikan ampunan” (QS. 34 Saba : 15).

Untuk mewujudkan masyarakat unggulan yang semestinya mampu dilakukan oleh ummat Islam seperti dinyatakan Allah di atas, maka setiap muslim dalam kedudukan dan dalam profesi apapun, terutama sebagai pemimpin; baik pemimpin rumah tangga, masyarakat dan bangsa harus menghiasi dirinya dengan nilai-nilai dasar terpuji yaitu nilai terpuji yang menghiasi pribadi Rasulullah SAW panutan kita. Ada lima nilai dasar terpuji yang dirumuskan oleh para ulama antara lain sebagai berikut :

1. اَلصِّدْقُ (Kejujuran, kebenaran, kesungguhan, dan keterbukaan).Bentuk pengamatan shidq ini adalah jujur dalam pikiran, kata-kata, dan perbuatan. Orang yang shadiq ataupun yang menjadikan sifat shidq sebagai ciri khasnya sehingga dapat disebut sebagai shiddiq, ia akan mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah bersama para Nabi dan syuhada. Mereka inilah yang selalu menga­ta­kan yang sebenarnya diketahui, tidak menutupi kesalahan, baik yang dilakukan dirinya, maupun oleh kawannya, serta menjaga satunya kata dengan perbuatan, menjauhi kebohongan, termasuk jujur dalam berdiskusi dan bermusyawarah.

2. الأَمَانَةُ (Selalu menepati janji dan bertanggung jawab dalam melaksanakan hal-hal yang dipercayakan kepada­nya)Orang-orang pengemban amanah ini senantiasa memegang teguh amanat. Amanat kepada Tuhan dengan menyadari tugas kekhalifahannya di bumi sehingga ia selalu menjadi al-mushlih (yang memperbaiki), bukan sebagai al-mufsid (yang merusak). Amanat kepada keluarga dengan membimbing dan mendidik mereka kepada tuntunan ilahi, serta tidak memberikan nafkah kecuali yang halal lagi baik; Amanat kepada sesama anggota masyarakat dengan selalu mengajak dan berwashiyat (tawâshau) kepada kebaikan (al-khair) atau al-ma’ruf serta kepada kesabaran dan amanat kepada diri sendiri dengan menghindarkan segala yang haram baik dalam profesi maupun konsumsinya. Rasulullah bersabda لاَدِيْنَ لِمَنْ لاَاَمَانَةَ لَهُ , artinya : “Tidaklah ada agama bagi orang yang tidak amanah” (HR. Addailami).

3. اَلْعَدَالَةُ (Bersikap dan berlaku adil)Ini mengandung pengertian berpihak dan berpegang kepada yang benar, tidak sewenang-wenang, bertin­dak sepatutnya dan tidak berat sebelah. Bentuk pengamalannya selalu bersedia untuk saling tawashau, saling mengingatkan antara sesamanya, saling menyuarakan kebenaran dan sikap kesabaran, serta saling menghar­gai pendapat yang lain, tidak memaksakan kehendaknya sendiri tanpa mau memahami kepentingan dan kehen­dak pihak lain. Kebenciannya terhadap seseorang atau satu kelompok tidak menjadikannya menahan hak-hak mereka, baik berupa harta ataupun penghargaan prestasi.

Sebaliknya, kasih dan sayangnya tidak membutakan matanya untuk bersikap tegas dalam memberi hukuman. Karena sesungguhnya sifat adil inilah yang selalu men­dekatkan orang kepada ketakwaan. Allah berfirman : اِعْدِلُوْاهُوَاَقْرَبُ ِللتَّقْوى  “Adillah karena ia lebih dekat kepada takwa” (QS.5 Al Maaidah : 8)

4. اَْلأُخُوَّةُ والتَّعَاوُن Menjaga persaudaraan dan persatuan serta saling membantu sesamanya.Untuk itu, setiap muslim harus menyadari bahwa dia bersaudara dengan orang lain, baik sesama muslim (ukhuwwah islâmiyah), sesama bangsanya (ukhuwwah wathoniyah), maupun sesama manusia (ukhuwwah basyariyah). Ketiga macam ukhuwah tersebut tidak perlu ditentangkan, tetapi harus diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi. Hal ini akan menciptakan rasa kebersamaan, bukan memperuncing perbedaan.

5. الإٍسْتِقَامَةُ  (Berlaku konsisten, ajeg dan senantiasa berada dan mengikuti jalan kebenaran menurut Allah) Imam Ghazali menyatakan, artinya : “Tidak baiknya suatu kebajikan yang tidak konsisten, bahkan keburukan yang sesekali dilakukan lebih baik daripada kebajikan yang tidak konsisten / ajeg”.Islam selalu menganjurkan umatnya untuk memiliki sifat istiqomah dalam kebajikan. Bagi mereka yang selalu istiqomah dijamin akan terhindar dari kerisauan, kekhawatiran dan ketakutan (di hari kiamat), baik dalam kehidupan di dunia ini maupun pada hari kiamat nanti, bahkan mendapat berita gembira dengan janji dan jaminan masuk surga.

Ingatlah Selalu Peringatan Allah

(Intisari khutbah Jum’at tanggal, 17 Maret 2006 M / 17 Shafar 1427 H)

 Oleh : KH. Masyhuri Syahid, MA 

Manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Di mana Islam mengajarkan kepada hambanya untuk saling mengingatkan kepada sesamanya dengan pedoman Al Qur’an dan Hadits Nabi secara komprehensif. Makanya kami selalu mengingatkan dalam pelbagai pertemuan majlis taklim, masjid-masjid dan sebagainya untuk selalu mengingat dan mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam dalam aktivitas sehari-hari. Baik hubungan vertikal dengan Allah (hablun min Allah) dan hubungan horizontal dengan manusia (hablun min al-nas). Karena peringatan itu sangat bermanfaat untuk meningkatkan kadar keimanan seorang hamba.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT, sebagai berikut : وَذَكِّرِفأِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنينَ , artinya : “Dan engkau berilah peringatan, sungguh peringatan itu bermanfaat untuk orang-orang mukmin” (QS. 51, Al-Dzariyat 55). Dalam menyikapi kehidupan bangsa kita yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia, di mana-manapun umat Islam sedang mengalami ujian-ujian yang paling berat. Pesan Allah SWT dalam Al-Qur’an : وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ , artinya ;  “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya” (QS. 8, Al-Anfal 25).

Di duga akan terjadi suatu fitnah dan malapetaka, kerusuhan, bencana, akan terjadi di mana saja. Tetapi pesan Allah fitnah, bencana tidak akan tertimpa kepada orang yang berbuat salah / berbuat zhalim saja. Oleh karena itu kita diperintahkan oleh Allah SWT, diingatkan Allah SWT dari mulai yang terkecil, dari diri kita sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan yang paling besar. Maka hati-hati dan jagalah diri ini, jangan sampai ada fitnah di lingkungan kita, itu akan membawa kehancuran, sasarannya bukan pada orang-orang yang bersalah itu saja. Kita harus mawas diri kepada diri kita, keluarga dan lingkungan kita.

Pada suatu hari Rasulullah berpidato yang mensitir dari seorang intelektual, yang hidupnya bukan di zaman Rasulullah, yang namanya terpatri di dalam Al Qur’an yang disebut Lukman Al Hakim, dalam pidatonya di tengah-tengah umat : يَابُنيَّ إِعْلَمْ اَنَّ الدُّنْيَا بَحْرٌ عَمِيْقٌ yang artinya ; “Ketahuilah hidup di dunia ini kadang-kadang terjadi seperti di atas laut yang sangat tinggi gelombangnya”. Anginnya sangat kencang dan ke dalaman lautnya sangat dalam, banyak orang terhempas dan tersasar ke pantai yang lain, banyak orang-orang yang tersungkur karena badainya sangat kencang. Maka beliau berpesan tiga hal :

1)   وَلْتَكُنْ سَفِيْنَتَكَ تَقْوَى اللهِ , artinya : “Hendaknyalah bahtera yang Anda naiki itu berdasarkan taqwallah”. Dalam beberapa hadits banyak mensitir bahwa kita dalam perjalanan hidup di atas perahu yang sangat besar sekali, perahu yang berdasarkan taqwa, hati-hati, waspada dan menjaga diri, bahwa tiap individu, tiap keluarga, berpegang kepada pesan Rasulullah, maka kita tidak akan tersungkur ke dasar laut yang sangat dalam itu, tidak akan terhempas oleh badai ke pulau yang lain. Jaminan Allah bahwa وَمَنْ يَْتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا ويرزقه من حيث لايحتسبُ , artinya : “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah akan memberikan suatu jalan keluar dengan mendatang rezeki yang tidak diduga-duga” (QS.65 Al Thalaq : 2-3).

2)   Penghuni bahtera itu agar tetap berpegang teguh kepada Allah, dan 3)   Layarnya adalah tawakal kepada Allah”.Alhamdulillah kita selalu dituntun oleh Allah, kalau kita selalu berpegang teguh kepada Allah, maka Allah akan memberikan jaminan, tidak usah takut dan tidak usah khawatir, baik bagi diri sendiri maupun di lingkungan keluarga. Dalam surah Al-‘Araaf ayat 96 Allah memberikan garansi :وَلَوْأَنَّ اَهْلَ الْقُراىاَمنُوْاواتَّقَوْا لَفَتَحْنَاعَلَيْهِمْ بِرَكتٍ مِنَ السَّمَآءِ وَاْلاَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَدْ نَهُمْ بِمَاكَانُوْايَكْسِبُوْنَ ,

artinya : “Kalau pada suatu negeri orangnya beriman dan bertaqwa, maka Allah akan membukakan pintu keberkahan yang datangnya dari manapun, kalau Allah sudah memberikan keamanan, keselamatan, kedamaian, ketentraman, akan tetapi kalau umat itu berdusta atau mendustakan ayat-ayat Allah apakah langsung atau tidak langsung, maka Allah akan menyiksa penduduk negeri itu”. Akhirnya dengan ini khatib sampaikan pesan Allah dan Rasul-Nya, semoga kita diselamatkan oleh Allah dari fitnah dan bencana dunia dan akhirat. 

RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi

(Intisari khutbah Jum’at tanggal, 10 Maret 2006 M / 10 Shafar 1427 H)

Oleh : Prof.KH. Ali Musthapa Yaqub, MA 

Hari-hari ini ramai dibicarakan orang, tentang Rencana Undang-Undang tentang Pornografi dan Porno Aksi, RUU APP, banyak yang mendukung tetapi ada juga yang menolak. Yang menolak, mereka beranggapan karena undang-undang ini nantinya akan mengekang kebebasan, mengekang kebebasan berekpresi, alias melanggar hak-hak azasi manusia. Mereka juga mengusung isu-isu yang sebenarnya tidak berkaitan dengan substansi dari pada RUU APP ini, misalnya isu bahwa undang-undang ini berlawanan dengan budaya-budaya lokal karena sebagian masyarakat Indonesia sebagian masih ada yang mandi di kali tidak berpakaian dan sebahagian masyarakat Indonesia masih memakai koteka.

Inilah beberapa isu yang diangkat oleh orang-orang yang menentang RUU APP ini.Boleh jadi mereka itu belum pernah membaca teks rancangan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi, atau memang sengaja mengusung isu-isu yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan substansi rancangan undang-undang itu. Apabila RUU disahkan orang – orang itu merasa dirugikan karena sekarang ini  merekalah  yang mengeruk keuntungan dengan adanya pornografi dan pornoaksi.Rancangan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi itu, sama sekali tidak ada kaitanya dengan orang yang mandi di kali, tidak ada kaitan dengan orang yang memakai koteka, dan tidak ada kaitan dengan turis-turis yang berjemur di pantai Kute Bali.

Karena dalam pasal satu Rancangan Undang-Undang itu menye­butkan apa yang disebut pornografi. Pornografi substansinya dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan – gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan dan erotica. Jadi di sini ada dua unsur, yang pertama adalah substansi dalam media masa dan yang kedua adalah usaha mengeksploitasi sexsual, maka kalau ada orang berjemur di pantai, itu tidak termasuk dalam pengertian pornografi, kalau ada orang mandi di kali itupun tidak termasuk dalam pengertian pornografi. Kecuali kalau dia mandi tidak berbusana di tengah alun-alun dalam rangka mempertontonkan kebugilannya, itu masuk dalam pengertian pornoaksi, yaitu pasal dua yang mengatakan, pornoaksi adalah suatu perbuatan mengeksploitasi perbuatan kecabulan atau erotika di muka umum.

Sebab itu, orang yang mandi di kali tidak termasuk yang dilarang oleh undang-undang ini, begitu juga orang memakai koteka, yang dilarang adalah ada orang mandi kemudian dipotret, direkam, divideokan, kemudian videonya dipublikasikan itulah pornografi, bahkan dalam konteks ini ibadahpun bisa juga masuk dalam pornografi, hubungan intim antara suami dan isteri adalah termasuk ibadah, tetapi ketika hubungan suami isteri itu direkam dengan video atau alat-alat komunikasi, kemudian dipublikasikan maka hubungan suami isteri itu menjadi sebuah pornografi karena penyebar gambar tersebut atau suami istri melakukan hubungan sexsual di alun-alun dan dipertotonkan oleh orang banyak, maka itu termasuk pornoaksi.

Beberapa gelintir manusia mengangkat dan membesar-besarkan masalah ini, bahkan ada yang mengatakan bahwa RUU APP ini adalah wujud dari Piagam Jakarta, penerapan hukum Islam, padahal tidak ada satu huruf pun yang menyebutkan kata Islam, dan tidak satu hurufpun menyebutkan kata syari’at Islam. RUU APP memang masih jauh dari substansi hukum Islam, tetapi andai kata ini disah­kan dan diterapkan, mudah-mudahan ini dapat dipakai sebagai alat untuk mencegah kemungkaran yang semakin meraja rela. Sejak kurang lebih tujuh tahun yang lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) sering mendapatkan protes dari masyarakat, karena banyaknya tayangan-tayangan di televisi yang mengumbar aurat dan mengexploitasi kemungkaran.

MUI merespon protes-protes ini, kemudian berkonsultasi dengan pihak Kapolri, namun pihak kepolisian sulit untuk menyeret pelaku-pelakunya itu, karena belum ada undang-undang yang melarang perbuatan tersebut. MUI  akhirnya pada tahun 2001 mengeluarkan fatwa tentang keharaman pornografi dan pornoaksi, ternyata ada beberapa gelintir manusia yang akan merusak moral bangsa Indonesia dan tahun 2002 muncul tarian ngebor distasion-stasion televisi, ini jelas sekali memang ada otak intelektual yang bermain di belakangnya. Seorang yang tinggal di desa dengan modal ngebornya langsung mencuat ke arena panggung nasional bahkan kemudian ke arena internasional.

Karena itu kaum muslimin –tentunya- semuanya mendukung disahkanya RUU APP ini, beberapa organisasi wanita, seperti KOWANI, WANITA ISLAM, MUSLIMAT NAHDATUL ULAMA, PERWANAS (Perasatuan Wanita Nasional) semua telah menyatakan mendukung rancangan undang-undang ini untuk disahkan menjadi undang-undang.Kalau segelintir manusia atau organisasi perempuan yang menolak undang-undang ini atau rancangan undang-undang ini, apalagi kalau dia yang membawa organisasi bendera Islam, maka kita perlu mempertanyakan keIslaman orang tersebut, atau keIslaman organisasi tersebut.

Kita teringat satu tahun yang lalu persis tanggal 18 Maret 2005, DR. Aminah Wadud mensponsori dan melaksanakan sholat Jum’at dengan khotib dan sholat dilaksanakan oleh seorang wanita. Ternyata siapa di belakang Aminah Wadud, adalah LSM Wanita di Amerika, yang bernama Muslim Women Fredom Toor, satu organisasi LSM di Amerika yang dipimpin oleh Astroyu Mane, seorang wanita kelahiran India. Cita-cita dari Women Muslim Fredom Toor ini salah satunya yang akan diperjuangkan adalah tentang hak wanita muslimat di tempat tidur. Pada point delapan menyebutkan: “wanita muslimah tidak boleh dikenakan hukuman apapun apabila ia melakukan hubungan sexsual dengan pria dewasa atas dasar suka sama suka”.

Oleh karena itu waspadailah pada gerakan-gerakan yang membawa bendera Islam tetapi sejatinya, gerakannya adalah gerakan kafir. Waspadailah pula kalau di Indonesia ada gerakan-gerakan yang membawa bendera Islam tetapi sejatinya yang diperjuangkanya adalah hal-hal yang justru berlawanan dengan Islam.

Dambaan Keluarga Sakinah Menuju Rumahku Surgaku

(Intisari khutbah Jum’at, 3 Maret 2006 M / 3 Shaffar 1427 H)

Oleh : Drs.H. Zulkifli Rahman, SH.MH

 Setiap orang yang berumah tangga siapapun orangnya pasti menginginkan rumah tangganya menjadi keluar­ga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Inilah inti do’a yang diaminkan segenap undangan ketika juru do’a me­mimpin do’anya pada setiap walimatul ‘ursy (saat pesta perkawinan). Keluarga sakinah me­rupakan langkah awal untuk menyongsong kehidupan abadi, yaitu kehidupan surgawi di akhirat yang sakinah, hanya disedia­kan untuk orang-orang yang berjiwa sakinah dan hidup dengan sakinah. Allah SWT menggambarkan dalam Al-Qur’an :يَآأَيَّتُهَاالنَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ.اِرْجِعِي إِلَىرَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً.فَادْخُلِي ِفىعِبَادِي.وَادْخُلِي جَنَّتِي , artinya : “Wahai jiwa yang tenteram. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi. Lalu masuklah ke dalam kelompok hamba-hambaku yang shaleh dan masuklah ke dalam surga Ku” (QS. 89 Al-Fajr : 27-30).

Keluarga sakinah merupakan langkah awal membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang sakinah.  Rumah tangga merupakan unit terkecil dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Kondisi bangsa dan negara sangat ditentukan oleh kondisi rumah tangga. Karena itu rumah tangga yang rusak akan menyebabkan bangsa dan negara rusak/kacau dan terpuruk. Sebaliknya rumah tangga sakinah akan membawa kehidupan berbangsa dan bernegara yang sakinah.

Allah mengisyaratkan dalam surat 90 Al-Balad: 1-3 artinya: “Tidak begitu, Perhatikanlah negeri ini, sedang engkau sendiri bertempat tinggal di negeri ini, dan juga Bapak beserta Anak”.Keluarga sakinah bertujuan mendapatkan keturunan/generasi yang ideal; beriman, bertaqwa, cerdas, ber­akhlak karimah dan قُرَّةُ اَعْيُنْ, sebagaimana do’a yang diajarkan Allah :رَبَّنَاهَبْ لَنَامِنْ أَزْوَاجِنَاوَذُرِّيَّاتِنَاقُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَالِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا , artinya : “Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami dari pasangan-pasangan kami dan anak cucu kami sebagai penyejuk mata dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. 25Al-Furqon : 74).

Generasi seperti tersebut dalam ayat do’a di atas bertumbuh kembang dari keluarga sakinah. Generasi seperti itulah yang kini sedang kita dambakan dalam rangka mengantisipasi KRISIS DEMORALISASI yang sedang melanda masyarakat kita, terutama di kalangan generasi muda kita. Banyak berita-berita setiap hari tentang adanya masalah-masalah yang actual, yang memang disebabkan dari akibat pengaruh-pengaruh adanya PORNOGRAFI dan PORNOAKSI, bahkan konon akan terbit di Indonesia majalah PLAYBOY, kemudian adanya korban-korban NARKOBA dan lain sebagainya.

Memang ada tangan-tangan jahil yang bermaksud jahat untuk meruntuhkan bangunan Islam, dimulai dengan meng­hancurkan generasi muda/generasi pewaris. Bagaimana usaha-usaha kita, apa dibiarkan saja RUSAK dan HANCUR, generasi ini sementara menanti dan menanti RUU Anti Pornografi / Pornoaksi saja belum juga disyahkan. Menurut Harian Republika kemarin  tanggal. 2/3-06 hal. 5 bahwa RUU APP tersebut mengalami deadlock dan diduga ada kepentingan KAPITALIS GLOBAL yang mencoba menggagalkan penyusunan RUU-APP lewat perpanjangan tangannya di Indonesia.

Sebagai muslim tentu kita telusuri ajaran Islam yaitu back to basic. Karena itu untuk menciptakan keluarga sakinah itu, perlu beberapa hal sejak awal-awalnya demi menuju بَيْتِىجَنَّتِى , kata Nabi “Rumahku Surgaku” yaitu antara lain :

I)          Harus ada kesamaan aqidah suami – isteri. Oleh karena itu faktor niat untuk menikah dan memilih pasangan harus didahulukan : niat ibadah dan karena agama, sebab yang seagama, Insya Allah akan selamat, (lihat QS.2:221).

II)         Seluruh anggota keluarga harus berakhlakul karimah, terutama dalam hal berkata-kata yang benar. Karena besar sekali dampaknya dalam kehidupan berrumah tangga. Allah berfirman, artinya : “Dan berkata-katalah dengan baik / tepat. Niscaya Allah akan memperbaiki perilakumu yang sangat bermanfaat bagi kamu dan Allah mengampuni dosa-dosa kamu…” (QS. 33 Al-Ahzab : 70 – 71)

III)       Harus ada kemauan memahami dan mengamalkan syari’at Islam, terutama tentang batasan HALAL dan HARAM. Dengan demikian seluruh aktivitas yang dilakukan oleh anggota keluarga, baik di dalam maupun di luar rumah, ketika bekerja maupun sedang istirahat, ketika beribadah maupun sedang bermain-main, tidak ada yang menyimpang dari riil syari’ah. Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW: اِذَااَرَادَاللهُ اَهْلَ بَيْتٍ خَيْرًافَقَّهَهُمْ ِفىالدِّيْنِ , artinya : “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada Pembina Rumah Tangga, maka Allah akan memberikan pemahaman tentang agama kepada mereka” (HR. Bukhari).

IV)      Harus ada saling pengertian. Setiap Manusia tidak luput dari kekurangan. Demi keharmonisan Rumah Tangga, kekurangan itu harus dieliminasi dan diantisipasi sejak dini dengan menumbuhkan saling pengertian, terutama antara suami isteri. Hal ini diisyaratkan Allah dalam Surat Al-Baqarah : 228, artinya : “Perempuan (isteri) mempunyai hak seimbang dengan kewajiban-kewajiban atas mereka dengan cara-cara yang baik”.

V)       Harus ada kepemimpinan dan ketaatan kepada pimpinan. Dalam hal ini kepemimpinan dibebankan kepada laki-laki (suami), sedangkan isteri harus patuh. Namun semuanya harus dalam batas-batas ‘alal birri wat taqwâ. Allah SWT berfirman dalam Surat ke-4, An-Nisa ayat 34, artinya : “Laki-laki (suami) adalah pengurus atas perempuan (isteri), lantaran Allah telah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain, dan lantaran suami harus menafkahkan isteri dari harta-harta mereka. Maka isteri-isteri yang sholihah adalah isteri-isteri yang patuh dan menjaga diri ketika suami tidak berada di rumah dengan aturan yang telah ditetapkan Allah”.Demikianlah khutbah singkat ini, semoga Allah menjadikan kita mampu membangun Rumah Tangga kita sakinah untuk menuju “rumahku surgaku”. Amin. 

Internalisasi Nilai-Nilai Islam

(Intisari khutbah Jum’at, 24 Februari 2006 M / 25 Muharam 1427 H)

 Oleh : Prof.DR.H.Moh. Ardani 

Dalam Islam, latihan rohani yang diperlukan manusia diberikan dalam bentuk ibadah. Semua ibadah dalam Islam, baik dalam bentuk shalat, puasa, zakat, maupun haji, bertujuan untuk membuat rohani manusia agar tetap ingat kepada Allah dan bahkan merasa senantiasa dekat pada-Nya. Keadaan senantiasa dekat pada Allah Yang Maha Suci dan dapat mempertajam rasa kesucian yang selanjutnya menjadi rem bagi hawa nafsunya untuk melanggar nilai-nilai moral, peraturan dan hukum yang berlaku.Dalam ibadah terjadi kontak kegiatan jasmani dan rohani. Ibadah merupakan tanggapan batin yang tertuju kepada Allah namun dibarengi dengan amal perbuatan yang bersifat lahir, yang dilakukan oleh gerak-gerik jasmani.

Ibadah secara lahiriah dan batiniah seperti itu dapat difahami dari aspek pembawaan hidup manusia sendiri yang bersifat dualistis yang terdiri dari dua unsur jasmani dan rohani seperti disebut di atas. Kedua unsur itu menyatu dalam diri manusia.Manusia adalah jasmani yang dirohanikan; dan manusia seutuhnya adalah rohani yang telah menjasmani, maka badan manusia bukan hanya materi semata-mata atau kejasmanian saja. Seluruh jasmani manusia dan segala gejalanya tidak sama dengan jasmani binatang, karena kejasmanian manusia adalah jasmani yang dirohanikan dan di dalam jasmani itu terdapat roh yang menjasmani.

Oleh karenanya tidak mengherankan jika peristiwa-peristiwa yang dialami manusia secara jasmaniah akan mempengaruhi gerak batin dan rohaninya. Dan sebaliknya situasi rohani seseorang juga akan tercermin dalam sikap dan tingkah laku lahiriah atau jasmaniahnya.Dengan demikian manusia yang utuh diberi konsumsi ibadah yang utuh pula. Dengan berbagai ucapan dan perbuatan dalam ibadah, rasa rohaniah dan rasa moral menjadi lebih tajam. Lebih lanjut segala peristiwa rohaniah manusia berpengaruh pada jasmaninya yang menggejala dalam kehidupan lahiriahnya; dan demikian pula sebalik­nya peristiwa yang dialaminya secara jasmaniah berpengaruh pada rohaninya yang menggejala dalam kehidupan rohaniahnya.

Ibadah dalam Islam sebenarnya bukan bertujuan supaya Allah disembah seperti penyembahan yang terdapat dalam agama-agama primitif. Kata ibadah yang berasal dari ‘abada’, sekalipun dapat diterjemahkan dengan me­nyem­bah, namun terjemahan ini dipandang kurang tepat. Karena Tuhan yang disembah itu bukan saja ditakuti dan disegani, tetapi juga dikasihi dan disayangi.

Memang betul dalam surat Al Dzariat ayat 56, terdapat kata liya’ budûni dalam rangkaian ayat  وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِ نْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ.  , yang berarti “agar mereka beribadat kepada-Ku. Tetapi dalam konsep Islam, Allah adalah Dzat Yang Maha Esa, Maha Kuasa (Wâhid, Qadîr) di samping Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun (Rahmân, Rahîm dan Ghafûr), maka kata liya’budûni lebih cocok diterjemahkan dengan “agar mereka tunduk dan patuh kepada-Ku”.

Maka Allah tidak harus dijauhi dan ditakuti, tetapi Allah harus didekati dan disayangi, karena ia memang dekat dan sayang kepada manusia. Dengan demikian arti ayat tersebut ialah : “Tidak Ku-ciptakan jin dan manusia kecuali untuk tunduk dan patuh kepada-Ku”. 

Menghayati Akidah Ibadah dan Akhlak

Karena manusia mempunyai kesadaran batin, maka semua gerak tingkah lakunya, seharusnya mempunyai kontak dengan batinnya. Seperti dikemukakan terdahulu bahwa ibadah itu mengandung aspek latihan spiritual untuk mendapatkan kesucian, dan aspek latihan moral. Dengan demikian ibadah itu selain berfungsi untuk berbakti kepa­da Allah, juga membawa efek kesucian lahir batin, menjadikan orang baik yang jauh dari noda-noda kejahatan.Dengan penghayatan demikian diharapkan system nilai yang menyangkut keimanan, berpadu dengan system norma yang menyangkut syari’at yang di dalamnya termasuk ibadah.

Rupa-rupanya nilai-nilai iman yang diha­yati dengan ibadah akan menebalkan iman. Dan norma-norma syari’at yang termasuk di dalamnya ibadah, jika dihayati dengan baik, akan membawa kesucian yang berpengaruh pada moral.Betapa pentingnya aspek spiritual dalam ibadah itu, yang disebut dengan kata khusyu’ atau dzikir, seperti di­isyaratkan dalam ayat Al qur’an : قَدْأَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ.الَّذِينَ هُمْ ِفي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ.  , artinya : “Sesung­guhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalat mereka” (QS. Al-Mukminun 1-2).

Shalat yang khusyu’ adalah shalat yang disertai dengan kesadaran batin, patuh dan merendahkan diri di­hadapan Tuhan Yang Maha Agung. Sedangkan dzikir berarti ingat, sadar, dan tidak lalai.Dengan menjalin semangat ajaran antara syari’at dan tarekat dalam kegiatan ibadah, akan tercapai hakekat muslim, yang seharusnya memiliki sifat-sifat : suci hati dan perbuatannya, jujur, dapat dipercaya, tidak menyukai kemewahan, rajin bekerja, tabah, sabar, syukur, rela, menerima dan sebagainya.

Memadukan Ilmu Fikir, Dzikir, dan Ikhtiar

(Intisari khutbah Jum’at, 17 Februari 2006 M/ 18 Muharam 1427 H)

Oleh : Drs.KH. Hanafie Tamam

 Pada kesempatan Jum’at hari ini, Khatib akan menyampaikan uraian mengenai perpaduan antara ilmu, fikir, dzikir, dan ikhtiar dalam menjalani hidup dan kehidupan kita selaku muslim dan mu’min.Sesungguhnya agama Islam yang kita sama-sama cintai ini sangatlah menekankan pentingnya menuntut ilmu, karena itu Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada umatnya agar giat menuntut ilmu dan mendaya­guna­kan akal pikiran dalam menjalani setiap langkah kehidupan serta mengadakan penelitian dan pem­bahasan dalam menemukan pengetahuan guna keperluan hidup dan kehidupan.

Hal itu kita lakukan karena meyakini bahwa ilmu itulah yang menjadi penegak kehidupan dan sebagai asas kebangkitan serta tiang tonggak­nya peradaban, sekaligus menjadi wasilah untuk memperoleh kemajuan bagi setiap pribadi dan jama’ah atau kelompok.Perlu dipahami dengan sebaik-baiknya bahwa Islam itu adalah agama kehidupan (Dînul Hayât) yang cocok bagi setiap zaman dan tempat. Islam adalah agama yang mementingkan keselamatan akhirat, namun tetap menyuruh untuk memperoleh kehidupan yang baik di dunia (Hayâtan Thayyibah).

Allah SWT berfirman :مَنْ عَمِلَ صَالِحًامِنْ ذَكَرٍأَوْأُنْثَىوَهُوَمُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةًطَيِّبَةًوَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوْايَعْمَلُونَ,

artinya : “Siapa saja yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beri­man, maka se­sungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia) dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS.16 An Nahl : 97).

Untuk mencapai kebahagiaan dan kesentosaan serta keselamatan pada kedua kehidupan tersebut maka Islam sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu, Rasulullah SAW bersabda : مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ اْلاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ , artinya : “Barangsiapa yang ingin sukses di dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang ingin sukses di akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang ingin sukses pada keduanya (dunia dan akhirat) maka hendaklah dengan ilmu (pula)” (Al Hadits).

Syari’at Islam berdiri atas ilmu dan menganjurkan untuk senantiasa meningkatkan ilmu dalam setiap urusan duniawi dan ukhrawi. Marilah kita perhatikan bahwa mula-mula ayat yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah ayat yang mendorong untuk belajar dalam rangka memperoleh ilmu atau ma’rifat, sedangkan jalan atau cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan adalah dengan jalan mempergunakan pena dan membaca, yakni tulis baca.

Allah berfirman artinya : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia (Allah) telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Dia (Allah) mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. 96 Al-‘Alaq : 1-5).

Allah SWT telah memuliakan manusia melebihi hewan dengan ilmu yang dimilikinya dan diamalkannya dalam menata hidup dan kehidupannya. Jadi, ilmu itu merupakan sifat khas manusia, yang kalau tidak didasari ilmu, niscaya tercabutlah sifat kemanusiaan dari dirinya dan disebabkan adanya ilmu itu merupakan sarana untuk meningkatkan kehidupan dari alam hayawani menjadi alam insani, sebagaimana kita ketahui bahwa malaikat pun disuruh sujud (menghormat) kepada Adam a.s. disebabkan karena Adam a.s. mempunyai kelebihan berupa ilmu tentang nama-nama yang telah diajarkan Allah kepadanya.

Mari kita lihat perpaduan antara ilmu, fikir, dan dzikir yang akan direalisasikan dalam bentuk amalan kehidupan yang nyata guna memperoleh keselamatan duniawi dan ukhrawi. Allah SWT berfirman, artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka” (QS. 3 Ali Imram : 190-191).

Dari firman Allah tersebut dapatlah kita mengambil pelajaran yang sangat berharga bahwa fikir dan dzikir merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam memperkokoh iman dan tauhid kita kepada Allah SWT. Dalam hal ini kita hanya diperbolehkan merenungkan dan memikirkan tentang fenomena alam semesta dan bahkan dalam diri kita sendiri, sedangkan mengenai Zat Allah tidak dibenarkan merenungkan dan memikirkannya.

Rasulullah SAW bersabda : تَفَكَّرُوْاِفىخَلْقِ اللهِ وَلاَتَفَكَّرُوْاِفىاللهِ فَتَهْلَكُوْا artinya : “Berfikirlah tentang makhluk Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Zat-Nya niscaya kamu akan binasa karenanya” (HR. Abu Syekh).Dari penjelasan tersebut dapatlah kita memahami bahwa fikir dan dzikir haruslah memperkokoh Tauhid Rububiyah kita maupun Tauhid ‘Uluhiyah kita, yaitu tauhid yang melahirkan pemahaman tentang kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya, dan tauhid yang melahirkan amalan berupa ibadah kepada Allah SWT yang diwujudkan dalam berbagai bentuk ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan lain-lainnya.

Sebenarnya yang paling inti di dalam ajaran Islam itu adalah Tauhid Uluhiyah yang merupakan ajaran yang dibawa oleh para Nabi terdahulu, yaitu ajakan untuk menyembah Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dari makhluk-Nya. Sebab kalau hanya Tauhid Rububiyah saja, kaum musyrikin di Mekkah pun bertauhid secara Tauhid Rububiyah, bahwa mereka mengakui bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi, namun mereka tetap menyembah patung-patung dan berhala dengan alasan bahwa berhala-berhala itu adalah menjadi wasîlah baginya kepada Allah.

Bahkan Iblis pun mengakui Allah sebagai pencipta dirinya sendiri, namun Iblis enggan tunduk melakukan perintah Allah pada waktu diperintahkan supaya menghormat kepada Adam.Karena itu marilah kita padukan antara ilmu, fikir, dan dzikir dalam meningkatkan kualitas iman dan kuali­tas ibadah kita kepada Allah SWT. Ilmu merupakan lampu penerang bagi setiap muslim dalam menjalani hidup dan kehidupannya agar tidak salah dalam mengerjakan dan mengamalkan perintah Allah, sedangkan fikir me­ru­pakan penjernihan akal dan jiwa kita untuk mengakui kebesaran Allah dan memahami kelemahan diri kita, se­da­ngkan dzikir mengarahkan hati kita untuk selalu bertaqarrub ke hadirat Allah SWT dengan berbagai macam be­n­tuk kegiatan yang bersifat ibadah.

Ibadah inilah sebenarnya menjadi fokus utama kehadiran kita di muka bumi ini, yaitu untuk mengabdi kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya : وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ , artinya :“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (QS. 51 Adz Dzariyaat : 56).

Mari kita jadikan firman Allah tersebut sebagai petunjuk dan pedoman utama dalam melaksanakan seluruh pengabdian kita kepada Allah SWT dan menjadikannya sebagai dasar setiap amal yang kita lakukan, yang tiada lain intinya ialah ikhlas semata-mata karena untuk mencapai ridha Allah SWT, mari kita jadikan ilmu sebagai pelita dalam melalui jalan kehidupan yang penuh dengan rintangan, dan kita jadikan fikir dan dzikir sebagai penjernih jiwa dan pikiran dalam menempuh berbagai macam tantangan, dan dengan demikian kita akan mampu mengadakan pilihan dan ikhtiar untuk menentukan sikap dalam melaksanakan kewajiban dan amanat yang dipikulkan di atas diri kita masing-masing.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.