Menghidupkan Ramadhan

(Intisari Khutbah Jum’at 14 Oktober 2005 M / 10 Ramadhan 1426 H)

 Oleh : Drs.KH. Maftuh Ihsan 

Alhamdulillah kita masih menikmati bulan suci Ramadhan 1426 H di hari ke 10 ini. Insya Allah apabila puasa yang kita lakukan karena إِيْمَانًاوَاحْتِسَابًا , maka Allah akan memberi karunia غُفِرَلَهُ مَاتَقَّدَمَ مِنْ ذَنِيْهِ وَمَاتَأخَّرَ  , diampuni dosa yang lalu dan yang akan datang dengan pengertian setelah berpuasa  seorang mukmin berkehidupan lebih bertaqwa sehingga bersih dari dosa-dosa.Kita juga bersyukur selama Ramadhan ini kita diberi kekuatan melakukan shalat tarawih yang hanya dilakukan di malam hari. Di seluruh dunia Islam, di masjid-masjid kita dapati shalat tarawih dilakukan secara berjamaah sehingga membentuk suasana yang khas yang sangat bermanfaat untuk membina ukhuwah dan da’wah.

Dari Aisyah diriwayatkan bahwa Nabi SAW. pada suatu malam Ramadhan shalat di masjid lalu orang banyak mengikuti sebagai makmun dibelakangnya. Beliau shalat lagi malam berikutnya dan orang pun makin banyak mengikutinya. Pada malam ke-3 dan ke-4 orang berkumpul dan menunggu, namun Rasulullah tidak hadir keluar malam itu. Esok subuhnya Rasulullah hadir dan bersabda : “Telah aku lihat apa yang sudah engkau kerjakan, tidak ada yang menghalangi aku keluar tadi malam melainkan aku takut shalat tarawih itu  dianggap wajib atau fardhu”.

Shalat tarawih ramai dikerjakan orang di masjid setiap malam Ramadhan, begitu pula pada zaman Khalifah Abu Bakar setelah Rasulullah SAW wafat.Ketika Umar bin Khatab menjadi khalifah beliau mendapati sesuatu kejanggalan, seperti diriwayatkan oleh A. Rahman Abdil Qari : “Aku pergi bersama Umar bin Khatab, sang Khalifah dalam bulan Ramadhan ke masjid pada suatu malam. Kami dapati orang banyak shalat tarawih ber kelompok-kelompok, bercerai berai, ada yang shalat sendirian sampai selesai, ada yang mulanya sendiri lalu diikuti orang banyak dan tentu ada pula orang yang duduk- duduk tidak bershalat. 

Maka berkatalah Umar “Menurutku satu bacaan saja, itu lebih bagus“ lalu beliau perintahkan agar orang-orang berjamaah dengan imam. Beliau tunjuk Ubay bin Ka’ab menjadi imam. Di malam yang lain kami berubah masuk ke dalam masjid dan kami dapati orang telah shalat dengan satu qori (Imam), maka berkatalah Umar bin Khatab “inilah sebaik-baik bid’ah“ (HR. Bukhari).Dengan demikian kita tahu bahwa Umarlah orang yang pertama mengatur shalat tarawih berjama’ah, suatu hal yang tidak pernah dilakukan di zaman Rasulullah.

Dalam hadits Siti Aisyah berkata ; “Tidaklah Nabi SAW menambah, baik di bulan Ramadhan atau bulan lainya  lebih dari 11 rakaat” (HR. Buhkari Muslim). Namun Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ mengutip hadits dari Yazid Ibnu Rumman yang mengatakan; bahwa shalat tarawih di zaman Umar bin Khattab adalah 23 rakaat (20 ditambah 3 witir) Berdasarkan beberapa hadits yang lain yang menjelaskan beberapa jumlah raka’at tarawih yang berbeda. Karena itu para Ulama telah banyak melakukan shalat tarawih yang jumlah raka’atnya berbeda-beda, selain 23 raka’at ada 21, 24, 36, 41, dan 43 rakaat

Pada zaman itu biarpun berbeda-beda namun tidak saling menyalahkan, karena ada yang berpendapat bahwa shalat tarawih tidak ditentukan dengan bilangan tertentu oleh Rasulullah.Beberapa amal bid’ah hasanah juga dilakukan oleh Khalifah Utsman bin Affan dengan mengkondifikasi­kan atau membukukan Al Qur’an yang dulunya dilarang untuk ditulis oleh Rasulullah SAW. Apabila hal tersebut tidak dilakukan dapat kita bayangkan betapa sulitnya berpedoman pada kita suci Al Qur’an, yang keberada­an­nya hanya dalam kepala/ hapalan orang –orang yang menghapalkanya.

Kerajaan Arab Saudi belakangan juga melakukan bid’ah yang hasanah dengan mengatur masa, tempat sa’i menjadi dua jalur, untuk yang pergi dan yang kembali, bahkan sa’i bisa dilakukan dilantai 1, 2, dan 3, mem­perluas tempat pelontaran jumroh dan menjadikanya dua lantai dan mengatur perluasan mabit di Mina.Apabila kita merasa berat, malas melakukan ibadah di bulan Ramadhan sekarang ini, cobalah merenung dan berfikir, muhasabah, mereka-reka seumpama telah berkata kepada kita bahwa atas kehendak­Nya, inilah Ramadhan terakhir yang dikaruniakan Allah kepada kita.

Semoga persepsi Ramadhan terakhir itu dapat memicu kita mengisi Ramadhan dengan intens.Walaupun itu hanya perumpamaan, namun Tuhan mustahil hal tersebut adalah kenyataan, banyak orang yang kita kenal dan kita cintai, masih ada di Ramadhan yang lalu, sudah tiada di Ramadhan kini. Wallahu a’lam! 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: