Ajaran-ajaran Ramadhan

Oleh : KH. Ma’ruf Amin     

Beberapa hari lagi bulan Ramadhan akan berlalu, ada di antara kita ada yang menyikapinya dengan penuh kegembiraan karena merasa telah melaksanakan ibadah puasa dan amalan-amalan lainya di bulan Ramadhan dengan harapan akan memperoleh balasan dari Allah dan diterima oleh Allah dan diterima amal yang dilakukannya selama di bulan Ramadhan, tapi ada juga yang menyikapinya dengan rasa sedih, karena bulan Ramadhan yang mubarak  yang penuh dengan kebaikan dan kebaikan didalamnya dilipatkan Allah, taat didalamnya diterima Allah, do’a- do’a diistijabah, dosa-dosa diampunkan saat itu akan berlalu, seperti apa yang dikatakan oleh Rasululoh SAW yang artinya:

“Andaikata umatku tahu apa yang ada di dalam bulan Ramadhan dengan apa segala kebaikan yang ada di dalamnya, pasti mereka akan mengharapkan Ramadhan itu penuh selama satu tahun.“

namun demikian apapun  sikap kita terhadap kepergian bulan Ramadhan, hendaknya apa yang kita peroleh selama kita latihan di bulan ramadhan, terus melekat pada kita selama kita ibadah puasa dan amalan lainya di dalam bulan Ramadhan ini.     

Terutama sekali prinsip ibadah puasa yang pada dasarnya adalah dimaknai dengan menahan diri, hendaknya terus menjadi sikap hidup kita, hendaknya kita menahan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh ajaran agama, hendaknya kita mampu menahan diri dari melakukan penyimpangan-penyimpangan terhadap ajaran agama, terutama yang menyangkut prinsip-prisip akidah, ibadah, mu’amalah, dan lain-lainnya.    

Hendaknya kita tidak terpengaruh ajakan-ajakan yang menyimpang dari akidah Islamiyah yang pada akhir-akhir ini makin banyak  aliran-aliran yang tidak benar, aliran-aliran yang sesat, mulai mengembangkan sayapnya di berbagai wilayah di Indonesia. Kita juga jangan sampai terjebak dengan bujukan untuk tidak mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah, dengan mendatangi orang-orang  yang mengaku mengetahui ramalan sesuatu, orang-orang yang mengaku sebagai kahin (dukun) ataupun sebagai paranormal.

Rasulullah SAW mengatakan yang artinya: “Siapa yang datang pada paranormal, menanyakan sesuatu, maka tidak akan diterima solatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Siapa yang datang pada dukun atau paranormal, kemudian dia membenarkan ucapanya, maka dia telah kafir, terhadap apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.  Kita juga hendaknya tidak melakukan suatu yang menyimpang dari tuntunan Rasululoh dalam masalah ibadah, masalah ibadah adalah merupakan hak prirogatif atau sesuatu yang diajarkan oleh Rasululloh SAW, apa yang kita lakukan semata-mata adalah taukisi, sehinga jangan ada diantara kita yang malakukan penyimpangan-penyimpangan, seperti yang dilakukan oleh beberapa pihak dan yang menyimpang dari tuntuan Rasulullah SAW.     

Juga kita seharusnya tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan di bidang mua’amalah, prinsip sepenuhnya memang diberikan kepada kita, oleh karena itu ada kaidah yang berbunyi yang artinya: “Muamalah pada pokoknya adalah dibolehkan apa saja, untuk dikembangkan dalam mua’amalah.” Transaksi-transaksi di dalam perniagaan dalam ekonomi itu dibolehkan pada kita untuk membuat upaya-upaya dalam mensejahterakan hidup kita, akan tetapi Allah memberikan rambu-rambu, memberikan pedoman-pedoman, supaya kita tidak melakukan pelanggaran itu.

Oleh karena itu para ulama telah memberikan tuntunan, agar kita dalam upaya-upaya mengembangkan ekonomi mengikuti apa yang diajarkan oleh syara’ sebagai wasilah syar’iyah, dan karena itu dewasa ini sedang dikembangkan apa yang disebut dengan ekonomi syari’ah, atau lembaga keuangan syari’ah, dan perbankan syari’ah, supaya kita tidak menjalankan ajaran islam hanya aspek akidah atau aspekl i’badah tetapi juga aspek mu’amalah.

Prinsip ekonomi syari’ah adalah prinsip yang memadukan antara hidayah Robaniyyah dan hailah insaniyah, memadukan petunjuk ke-Tuhan-an dan upaya-upaya manusia, ekonomi syari’ah adalah merupakan perpaduan. “ini adalah jalanKu yang lurus karena itu hendaknya kamu ikuti.” (alQur`an) dan prinsip “kamu adalah lebih tahu tentang duniamu.” Merupakan rambu-rambu yang diajarkan oleh agama, bahwa dalam kegiatan ekonomi kita, termasuk perbankan kita, didalamnya tidak boleh ada gharar atau manipulasi, tidak boleh ada maisir, gambling atau judi, tidak boleh ada riba.

Masalah riba adalah masalah yang paling prinsip dan para ulama menyikapati bahwa bunga adalah merupakan riba, Imam Al Jasad dalam tafsirnya mengatakan yang artinya: “Diketahui bahwa riba jahilliyah adalah hutang yang ditangguhkan dengan adanya tambahan yang dipersyaratkan dan tambahan itu merupakan masa dari tenggang itu, itulah riba jahiliyyah, karena itu riba jahiliyyah diharamkan Allah, dan dibatalkan oleh Allah.” Forum pembahasan di al Azhar mengatakan yang artinya: “Bunga dalam segala bentuk hutang semuanya diharamkan, bunga seperti itu tidak ada beda keharamannya baik yang merupakan konsumtif maupun yang sifatnya produktif.” begitu pembahasan dari ulama-ulama dari 30 negara islam yang diadakan pada tahun 1965 di Kairo.   

Pada sepuluh tahun kemudian forum “Fiqih Islam” di Jeddah, juga menyatakan hal yang sama yang diadakan oleh negara-negara OKI, pada tahun yang sama juga diadakan oleh forum  “Ulam-ulama A’lam Islami” yang mengatakan bahwa majma’, yang artinya ; Bunga itu adalah haram yang nyata, yang telah jelas keharamnya di dalam kitab Al Qur’an, Sunnah dan ijma’. Karena itu Syeih Yusuf Al Qordowi mengatakan, bahwa keharaman bunga adalah ijma’ul  majaami’, kesepakatan forum-forum ulama Islam sedunia. Dan beliau menyusun suatu buku “Bungan Bank itu Adalah Haram yang Nyata “. Majlis Ulama sendiri menetapkan keharaman bunga pada akhir 2003 yang lalu.     

Perkembangan Bank Syariah dewasa ini, sekalipun cepat tapi masih jauh dibandingkan dengan potensi market, potensi pasar yang mestinya lebih dari itu. Pertumbuhan yang sekarang ini baru 2,13 % dari pangsa pasar, menunjukan bahwa kaum muslimin belum menggunakan sistim itu menjadi dari bagian kehidupan ekonomi dan kegiatan mu’amalahnya. Karena itu umat Islam jangan hanya patuh kepada tuntuan syari’ah, hanya dalam masalah-masalah akidah, masalah-masalah ibadah, tetapi juga harus patuh pada masalah muamalah. 

Selepas bulan ramadhan hendaknya kita mampu menahan diri tidak menggunakan sistim  apapun yang menjauhkan kita dari prinsip-prinsip yang menjauhkan diri kita dari agama. Kitapun juga diharap untuk mampu  menahan diri, agar kita tidak terjerembab pada perilaku  negatif , prilaku yang tidak baik, prilaku yang tidak sesuai dengan tuntuan agama. Para ulama menyebutkan ada empat yang harusnya  kita hindari, yaitu:    

 Pertama adalah prilaku bahimiyyah, prilaku kebinatangan, prilaku yang tidak mengenal halal dan haram, tidak mengenal haq dan bathil, prilaku yang hanya menurutkan hawa nafsunya.     

Kedua, prilaku subu’iyyah yaitu prilaku kebinatangan, yang hanya menurutkan hawa nafsunya dan menjadi orang yang emosional. Islam sendiri tidak menginginkan agar emosi itu dimatikan, karena itu adalah sifat manusiawi, hanya saja Islam menghendaki agar kita mampu mengendalikan dan meredam sifat-sifat emosi itu yang belakangan ini semakin mengejala terutama di kota-kota besar.      

 Ketiga, sifat Syaithani yaitu  sifat kesyetanan. Kecendrungan syetan adalah mengadu domba, mempropokasi, memutarbalikan keadaan, membuat keadaan menjadi tidak nyaman, itulah prilaku-prilaku yang selalu membuat propokasi-propokasi untuk tidak terjadi kerukunan dan menjadinya sumber terjadinya komplik baik vertikal maupun horisontal.     

 Keempat, sifat Robbaniyah yaitu sifat ke-Tuhan-an, sifat yang ingin dipuja dan di puji, sifat ingin dibesarkan, sifat ingin tinggi, ia ingin menjadi Tuhan. Memang manusia sebenarnya memiliki “potensi-potensi” Tuhan, kalau dia mempunyai kekuasaan yang berlebihan dia menjadi diktator, tapi kalau dia lebih dari pada itu ,dia dapat saja mengaku dirinya Tuhan, seperti apa yang dilakukan oleh Fir’aun.     

Oleh karena itu kita berharap kepada Allah, selepas Ramadhan, kepatuhan kita kepada syari’ah, kepada tuntuan agama, kemampuan kita meredam dan menguasai diri kita untuk tidak  melakukan yang bertentangan dengan syari’ah, yang berprilaku buruk dan negatif, menjadi bagian kehidupan kita, mudah-mudahan Allah SWT mema’afkan kesalahan kita pada masa-masa yang lalu dan mema’afkan kesalahan orang tua-orang tua kita, kesalahan-kesalahan pemimpin-peminpin kita, mudah-mudahan kita selalu berada di jalan Allah dan didalam tuntuan Allah.  

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: