Prinsip Persaudaraan Dalam Islam

(Intisari Khutbah Jum’at, Tanggal, 17 Juni 2005 M / 10 Jumadil Awal 1426 H)

 Oleh : DR.KH. Nur’alam Bachtir 

Sebagai agama rahmat, Islam membawa umat manusia pada kedamaian, ketentraman, kebahagiaan, dan kesejahteraan, baik secara individual ataupun secara kolektif, dalam level pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, bahkan dunia sekalipun. Untuk menuju ke arah itu, Islam mengajarkan umatnya untuk berpegang pada prinsip-prinsip persaudaraan. Prinsip-prinsip persaudaraan dalam Al-Qur’an dibahasakan dengan istilah ukhuwwah. Dalam tradisi keberagamaan Islam, kita sering mendengar istilah ukhuwwah insaniyyah atau basyariyyah (persaudaraan kemanusiaan), ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan berdasarkan prinsip-prinsip keislaman), ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan berdasarkan kebangsaan dan kenegaraan), dan ukhuwwah diniyyah (persaudaraan antara agama). 

Dalam rangka menciptakan persaudaraan di muka bumi, terutama di kalangan umat Islam sendiri, ada beberapa prinsip yang seharusnya dipegang teguh oleh umat Islam; Pertama, musyawarah dan keadilan. Dalam QS. 3 Ali Imran ayat 7 dijelaskan, bahwa Allah SWT telah menurunkan Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat muhkamat merupakan ayat-ayat yang pengertiannya jelas dan bisa dipahami, sehingga tidak perlu terjadi kontradiksi satu dengan yang lain. Sedangkan ayat mutasyabihat merupakan ayat-ayat yang memerlukan ketelitian untuk memahaminya, di samping juga mempunyai pengertian lebih dari satu, dan ayat ini juga yang seringkali menimbulkan perbedaan dalam pemahaman antara seseorang dengan orang lainnya. 

Dalam ajaran Islam, baik pada aspek fiqh, sejarah, sosial, ekonomi, politik dan sebagainya, kita seringkali menemukan ayat-ayat muhkamat, sekaligus ayat-ayat mutasyabihat. Misalnya, Islam mengajarkan bermusyawarah, seperti terdapat dalam Al Qur’an, “Wasyawirhum fi al-amri” (bermusyawarahkan dalam urusanmu). Melalui ayat ini, kita dianjurkan oleh Allah SWT untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan satu perkara. Prinsip musyawarah merupakan ajaran Islam, namun cara musyawarah antara satu negara dengan lainnya berbeda satu sama lain.

Demikian juga Islam mengajarkan tentang prinsip-prinsip bernegara, tetapi bentuk negara itu sendiri berbeda antara satu negara dengan lainnya, misalnya Saudi Arabia berbentuk kerajaan, Indonesia berbentuk Republik, dan sebagainya. Hal ini menunjukan bahwa sesungguhnya prinsip yang diterapkan sama, tetapi dalam penerapannya berbeda. Yang terpenting adalah bahwa Islam mengajarkan system keadilan.Kedua, prinsip toleransi (tasamuh). Dalam QS. 10 Yunus ayat 99 Allah SWT menegaskan,  walau syaa-a rabbuka la-aamana man fil ardli kulluhun jamii’anartinya : “Dan jikalau Tuhanmu, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya beriman semuanya” 

Islam mengajarkan umatnya tentang prinsip toleransi (tasamuh). Sungguhpun dalam prakteknya, tasamuh tidak boleh mengorbankan nilai-nilai akidah (tauhid), bahkan syari’at sekalipun. Memang untuk mengajak umat manusia agar mempunyai satu tatanan keyakinan tidaklah mudah. Bukankah dalam sejarah, Rasulullah SAW pernah mengajak pamannya sendiri Abu Thalib, ternyata hal ini ditegur oleh Allah SWT, bahwa Muhammad SAW tidak bisa memaksakan kehendak seseorang.  “Walakinna Allaha yahdi man yasya” (Akan tetapi Allah yang memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya) QS. 28 Al-Qashash 56.

Sekalipun kita sangat menginginkan teman, saudara, anak, dan sebagainya untuk mengikuti petunjuk Allah, tetapi untuk masalah keyakinan kita tidak diperkenankan dengan cara-cara yang memaksa. Sebab, Islam mengajarkan prinsip tidak memaksakan suatu keyakinan (agama) kepada orang lain, sebagaimana firman-Nya, “La ikraha fi al-din” (tidak ada paksaan dalam agama). Ketiga, prinsip persamaan. Nabi Muhammad bersabda, artinya : “Barangsiapa yang meng­kafirkan orang Islam, pada hakikatnya ia sendiri telah kafir”.

Islam tidak mengajarkan system tingkatan manusia yang didasarkan pada tingkatan suci sampai paling suci. Hal ini didasarkan pada QS. 53 Al-Najm ayat 32. فَلاَتُزَكُّوْااَنْفُسَكُمْ “Jangan kalian menganggap diri kalian bersih”. Oleh karena itu, kita jangan sampai menganggap diri kita lebih bertakwa, atau lebih suci dibanding yang lain, baik dalam konteks pribadi, suku, kelompok masyarakat, organisasi dan sebagainya.  Sebab, hakikat ketakwaan hanya diketahui oleh Allah SWT. Siapa tahu seorang budak belian lebih bertakwa daripada seorang mubaligh atau ulama. Siapa tahu seorang pemulung lebih bertakwa daripada seorang guru besar sekalipun. Siapa tahu orang yang menyumbang dengan nilai yang kecil, tetapi karena dikeluarkan dengan tulus ikhlas, ia lebih bertakwa daripada orang yang menyumbang dengan nilai yang besar tetapi disertai dengan tendensi-tendensi horizontal. 

Keempat, prinsip amar makruf nahi munkar. Umat Islam harus memahami bahwa Islam adalah agama dakwah, sebagaimana ditegaskan dalam salah satu firman-Nya, “Di antara umat manusia yang lebih baik adalah manusia yang senantiasa menyeru kepada Allah, (dengan berbagai cara)”. Dari sinilah kita mengetahui bahwa Islam mengajarkan prinsip amar makruf nahi munkar.  Dalam QS. 3 Ali Imran dijelaskan: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. 3 Ali Imran : 104). “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Menyuruh kepda yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. 3 Ali Imran : 110).  

Kedua ayat di atas menunjukkan, bahwa sebagai seorang muslim, kita semua mempunyai tanggung jawab untuk melakukan amar makruf nahi munkar. Dalam rangka menciptakan persaudaraan, tidak boleh di antara seorangpun yang merasa lebih berjasa atas yang lainnya. Bagaimanapun juga, klaim-klaim seperti ini justru pada akhirnya akan menimbulkan perdebatan, pertentangan, bahkan perpecahan dikalangan umat Islam sendiri. Kalau kita tengok sejarah Islam, terutama dalam tradisi para fuqaha, kita akan menemukan sebuah prinsip menghargai terhadap pendapat orang lain. Mereka tidak menyatakan dirinya sebagai madzhab paling benar dibanding yang lain.

Imam Syafi’I, sebagai seorang yang sangat jenius dalam hukum Islam pernah mengatakan “Pendapatku adalah benar, tetapi tidak mustahil mengandung kekeliruan dan kesalahan. Sebaliknya pendapat orang lain salah, tetapi tidak mustahil mengandung kebenaran”. Sedangkan Imam Hanafi pernah mengatakan “Inilah pendapat kami, tetapi kalau sekiranya kami mendapatkan pendapat yang lebih berbobot (lebih argumentatif), maka itulah yang akan kami ambil”.  Wajar kalau Imam Malik pernah mengatakan “Setiap pendapat orang (pasti) ada orang yang mendukung dan ada juga yang menolak”.

Dengan kata lain, Islam mengakui kenyataan pluralisme atau keragaman dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam masalah agama QS. 5 Al-Maa’idah ayat 48 dinyatakan, “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.

Ayat di atas menjelaskan bahwa keragaman merupakan ujian yang diberikan oleh Allah SWT, sehingga umat manusia saling berlomba dalam meraih kebaikan (kebenaran). Setiap orang dari stratifikasi sosial atau kalangan manapun, semuanya berada dalam keadaan di uji oleh Allah SWT.  Dalam salah satu sabda Nabi, “yang terbaik di antara mereka adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat untuk orang lain / anfa’uhum li al-nas”.

Dengan adanya keragaman umat manusia, Allah SWT menghendaki agar umat manusia dapat berlomba satu dengan yang lain, tetapi bukan persaingan yang tidak sehat atau yang membawa laknat, melainkan perlombaan yang membawa kebaikan (kebenaran), yaitu untuk menuju ketakwaan kepada Allah SWT.  

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: