Evaluasi 60 Tahun Kemerdekaan RI

(Intisari Khutbah Jum’at tanggal, 2 September 2005 M / 28 Rajab 1426 H)

 Oleh : KH. Husain Umar, SH 

Baru saja kita memperingati kemerdekaan yang ke 60 tahun Republik yang kita cintai. 60 tahun adalah satu rentang waktu yang sangat panjang, bagi suatu bangsa/negara dalam menapaki sejarahnya. Kita mengalami berbagai pasang surut dalam kehidupan nasional, mudah-mudahan kita menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak kufur kepada nikmat. 60 tahun kita peringati justru pada saat negara kita sedang mengalami berbagai keterpurukan, kalau kita mau menoleh kebelakang ke masa lalu, perjalanan bangsa ini pernuh berbagai ujian dan cobaan.

Hingga hari ini kita telah memiliki enam Presiden; dari mulai Presiden Soekarno, Soeharto, Habibie, Presiden Abdurahman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kalau kita melihat potret wajah bangsa ini dalam konteks global, kita tertinggal jauh, hampir di semua bidang. Dunia pendidikan kita peringkat 107 dari 173  negara, SDM kita di bawah Vietnam sekarang ini. Bahkan di tingkat Asean kita tertinggal jauh, pendidikan kita ditingkat E, sementara Malaysia dan Thailand memperoleh di tingkat A, Sementara kita perhatikan aborsi, pornografi/pornoaksi dan korupsi luar biasa.

Majlis Ulama dan ormas-ormas Islam mendesak agar DPR mengagendakan lebih cepat UU anti pornografi dan pornoaksi, tapi hingga saat ini belum memperoleh respon yang memadai. Aborsi kini meningkat menjadi tiga juta orang pertahun dan 30% pelakunya adalah putri-putri remaja yang belum menikah. Dalam korupsi kita peringkat nomor satu di Asia dan untuk tingkat dunia kita peringkat nomor ke lima. Penegakan hukum masih jauh dari apa yang kita harapkan, begitu di bidang-bidang lain, jika kita baca korupsi di media masa ada gubernur-gubernur yang diseret kepengadilan, anggota-anggota DPRD, KPU, bahkan Menteri, ini semua memprihatinkan kita sebagai bangsa.

Lalu jika kita melakukan renungan, muhasabah / repleksi 60 tahun Republik ini. Apa yang terasa hilang? Yang hilang adalah sifat-sifat amanah dan kejujuran. Kita menyaksikan dalam perjalanan sejarah, sebelum Presiden Megawati ada empat presiden; ada Bung Karno, Pak Harto, Habibie dan Abdurahman Wahid. Pernahkah kita merenungkan dari empat presiden ini mengakhiri masa jabatanya dengan cara-cara yang indah, tapi mereka mengakhiri masa baktinya, karena dipaksa dengan suatu keadaan. Dengan bahasa yang indah mereka ini tumbang dari politik nasional, baik Bung Karno, Pak Harto, maupun Pak Abdurahman Wahid.

Sekali lagi pertanyaan yang muncul dalam khutbah yang singkat ini, baik kita merenung, repleksi, apa yang hilang? Yang hilang adalah sifat-sifat amanah.Allah SWT berfirman : وَالَّذِينَ هُمْ ِلأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ,

artinya : “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya” (QS. 23 Al-Mu’minuun : 8).

Ayat yang pendek ini adalan bagian dari surat Al Mukminun, yang menggambarkan kreteria orang mu’min di antaranya adalah orang-orang yang memelihara amanah yang dipikulnya serta janji-janjinya. Itulah yang hilang dari bangsa ini, sehingga kita menyaksikan adegan-adegan sejarah yang terpuruk, korupsi yang merajalela dan perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkarat lainnya. Amanah konstitusi diabaikan, amanat rakyat diabaikan, dan yang tertinggi adalah amanah Allah SWT, sebab sekecil apapun kedudukan itu adalah amanah.

Seorang negarawan Lord Acton mengatakan kekuasaan itu “power”, cenderung nyeleweng dan menyim­pang. Itulah watak dari kekuasaan (absolut power, corup absolut). Semakin mutlak suatu kekuasaan ditangan seseorang, maka semakin menjadi-jadi penyelewengan, sehingga kekuasan bisa merubah seseorang. Mulanya dia Demokrat bisa berubah menjadi diktator, mulanya dia rakyat jelata (marhaen) berubah menjadi veodal, itulah kekuasaan. Silau oleh kekuasaan, lupa dengan hukum, kejujuran, dan amanah.Kita sering membaca surat kabar, menyaksikan mereka yang diseret dalam proses peradilan dengan dakwaan korupsi.

Kalau dia (yang bersalah itu) orang Islam hampir rata-rata haji, mungkin hajinya sudah berkali-kali, mungkin umrahnya pun sudah berkali-kali, tiba-tiba menjadi terdakwa dalam dakwaan korupsi.Guru besar, pakar politik, pakar hukum tata negara hampir semua mereka itu orang-orang yang sudah menunaikan rukun Islam yang kelima, bahkan tidak jarang mereka melakukan umroh berkali-kali, timbul pertanyaan. Apa yang salah?

Di sinilah perlu penghayatan, pemahaman, dan pengamalan agama yang baik.Imam Gozali memberikan nasihat ketika beliau memberikan komentar tentang wudhu seseorang yang belum haji dan umroh. Kata Imam Gozali seharusnya dengan melaksanakan wudhu dengan baik akan menjadikan seseorang itu menjadi baik, sebelum dia berdiri tegak untuk melakukan shalat, dimana shalat itu kata Allah bisa mencegah dari perbuatah keji dan kemungkaran. Jadi baru wudhu saja, mestinya menjadikan seseorang itu menjadi baik, terjauh dari hal-hal yang mungkar, mengapa?

Bagaimana mungkin tangan yang suci karena wudhu mau berbuat mark-up dan mengambil yang bukan haknya.Maka kata Imam Syafi’ie, Allah SWT memberikan kita Al Qur’an, yang berisi 114 surah. Seandainya yang disebut Al Qur’an itu hanya satu surah, dan yang satu surah itu adalah surah Al-‘Ashri itu sudah cukup untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.Jadi kalau kita menyaksikan sekarang ini, ada terdakwa yang beragama Islam, pasti ada yang salah padanya itu. Dia tidak menghayati agamanya dengan baik, dia tidak memahami agamanya dengan baik, dia tidak mengamalkan agamanya dengan baik.

Dalam kontek 60 tahun Republik Indonesia, marilah kita renungkan, kita lihat secara jujur wajah kita dalam konteks global, kita sudah tertinggal jauh, mengapa? Karena ada yang hilang dari bangsa ini, ada yang hilang dari pejabat-pejabat kita, penguasa-penguasa kita, bahkan aparatur negara kita, yang hilang itu sesuatu yang sangat penting yaitu amanah.

Maka saya teringat dengan hadits Rasulullah SAW, suatu waktu ketika Rasulullah duduk dengan para sahabatnya, tiba-tiba ada seseorang yang datang, lelaki dari tempat yang jauh (nampak dari pakaiannya yang lusuh dan rambutnya yang kumal), lalu ikut duduk bersama Rasulullah, lalu lelaki itu berkata kepada Nabi. Ya Rasulullah tolong anda jelaskan kepada kami tentang sesuatu yang berat di dalam agama ini dan jelaskan pula ya Rasulullah yang ringan. Rasulullah menjawab, yang ringan wahai saudaraku kata Rasulullah, adalah mengucap dua kalimah syahadat. Dan yang berat wahai saudaraku, adalah Al Amaanah, lalu beliau mempertegas lagi, tidak beragama seseorang apabila tidak mempunyai amanah, amalan shalatnya percuma, amalan zakatnya pun sia-sia kata Rasulullah.

Mudah-mudahan kita diberi Allah untuk melihat Indonesia yang sejahtera adil dan damai, Indonesia yang bangkit dengan kemampuannya, dan syarat untuk bangkit itu, yang terpenting adalah kembalikan amanah, kembalikan sifat-sifat amanah itu, pada diri kita.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: