Keteladanan Nabi Ibrahim As dan Nabi Isma’il As Dalam Melaksanakan Perintah Allah SWT

( Intisari khutbah Jum’at tanggal, 31 Desember 2006 M)

 oleh : Prof. Dr. Nazaruddin Umar

 Salah satu dimensi kebesaran Nabi Ibrahim ialah besarnya pengorbanan yang ditunjukkan kepada Allah melalui ketulusannya dalam mengorbankan putra kesayangannya. Nabi Isma’il lahir setelah melalui penantian yang cukup panjang dari keluarga ini.Kisah keluarga Nabi Ibrahim sarat akan pesan-pesan moral. Nabi Ibrahim adalah simbol bagi manusia yang rela mengorbankan apa saja demi mencapai keridhaan Tuhan, rela menyembelih anaknya, bahkan rela mengorbankan diri dalam kobaran api.

Setiap orang mempunyai kelemahan terhadap sesuatu yang dicintainya. Kelemahan Ibrahim terletak pada anak kesayangannya yang sudah lama didambakannya, dan dari sini pula kembali diuji Tuhan berupa godaan setan, tetapi Nabi Ibrahim lulus dari ujian itu. Ia secara tulus dan ikhlas mau mengorbankan putra kesayangannya.Nabi Isma’il adalah simbol bagi sesuatu yang paling dicintai dan sekaligus berpotensi melemahkan dan menggoyahkan iman, simbol bagi sesuatu yang dapat membuat kita enggan menerima tanggung jawab.

Simbol bagi sesuatu yang dapat mengajak kita untuk berpikir subyektif dan berpendirian egois. Tegasnya, simbol bagi segala sesuatu yang dapat menyesatkan kita.Mari kita  mengintrospeksi  dan mengukur diri kita masing-masing. Seandainya kita adalah figur “Ibrahim”, sudahkah kita memperoleh iman setangguh  beliau? Sudahkah kita menunjukkan pengorbanan yang optimal ke jalan-jalan yang diridhai Tuhan?

Jika kita misalnya berada di puncak karir, sudah relakah kita mengorbankan segalanya demi mempertahankan prinsip-prinsip ajaran yang dianut?“Nabi Isma’il” simbol bagi sesuatu yang amat kita cintai, sudah barang tentu kita semua memiliki sesuatu yang dicintai. Boleh jadi “Isma’il-Isma’il” kita berbentuk harta kekayaan, semisal kendaraan baru, rumah mewah, jabatan penting, deposito, atau kekayaan lainnya. Apakah kita sudah rela mengorbankannya untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu mencapai ridha Tuhan?

Jika kita sebagai suami, sudah sanggupkah kita meniru ketangguhan iman Nabi Ibrahim, mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, demi mengamalkan perintah Tuhan? Jika kita sebagai istri, sudah sanggupkah kita meniru ketabahan dan ketaatan Hajar, merelakan suaminya menjalankan perintah Tuhan dan menghargai jiwa besar anaknya? Jika kita sebagai anak, sudahkah kita memiliki idealisme yang tangguh setangguh Nabi Isma’il yang rela menjadi korban untuk suatu tujuan mulia?

Kisah-kisah yang ditampilkan Al-Qur’an sangat patut menjadi pembelajaran buat kita semua. Nabi Ibrahim melahirkan anak paling sejati dalam Al-Qur’an (Q.S. 37. al-Shaffat : 102). Ia bukan hanya anak biologis, melainkan sekaligus anak spiritual. Bandingkan dengan putra Nabi Nuh, meskipun ia seorang putra biologis Nabi, tetapi ia menjadi pembangkang dan kufur. Itulah sebabnya ia dicap hanya sebagai anak biologis, tetapi bukan anak spiritual ayahnya (Q.S.11. Hud : 46).

Fir’aun adalah sosok manusia paling angkuh yang tersebut dalam al-Qur’an, tetapi isterinya mendapatkan pujian sebagai isteri salehah yang beriman (Q.S. 66 At-Tahrim : 11). Bandingkan dengan istri paling pengkhianat dalam Al-Qur’an ternyata istri Nabi Luth dan Nabi Nuh (Q.S. 66 At-Tahrim : 10). Ini merupakan pelajaran penting buat kita bahwa kehebatan atau kelemahan sosok figur dalam keluarga bukan jaminan bagi keluarga lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Semoga anak keturunan kita tidak hanya menjadi anak keturunan biologis kita, tetapi sekaligus anak keturunan spiritual kita. Semoga istri/suami kita bukan hanya istri/suami biologis kita, melainkan sekaligus istri/suami spiritual kita.Hari raya Idul Adha ini juga momentum yang baik untuk mempersiapkan generasi milenium ketiga, suatu generasi yang betul-betul terpilih (the chosen people) atau umat pilihan (khairu ummah) menurut istilah Al-Qur’an (Q.S. 4 Ali Imran : 110).

Al-Qur’an memberikan warning bagi kita agar tidak meninggalkan generasi lemah dan tidak punya daya saing : وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah… “ (Q.S.  An-Nisa : 9)Sebaliknya, Al-Qur’an memberikan dorongan untuk mempersiapkan generasi yang betul-betul professional, memiliki kemampuan kompetisi yang handal, generasi yang kuat dan terpercaya, sebagaimana dilukiskan dalam al-Qur’an : إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِينُ

….sesungguhnya generasi yang paling baik yang kamu pilih untuk bekerja ialah generasi yang kuat lagi dapat dipercaya” (Q.S. 28 Al-Qashash : 26)

Generasi al-qawiyy al-amin menurut ulama Tafsir ialah generasi yang sehat jasmani dan rohani, serta memiliki berbagai kecerdasan, keterampilan, dan keunggulan, di samping kejujuran dan amanah. Dengan demikian, generasi untuk milenium ketiga ialah generasi al-qawiyy al-amin, yakni generasi tangguh dan terpercaya.Prasyarat untuk mencapai umat ideal (khairu Ummah) ialah terbentuknya pribadi-pribadi utuh dan keluarga-keluarga tangguh sebagai cikal bakal warga umat.

Sulit membayangkan umat yang ideal tanpa pribadi utuh dan keluarga yang sakinah. Itulah sebabnya Al-Qur’an dan hadis lebih  banyak berbicara tentang pembentukan pribadi dan keluarga, bukannya banyak berbicara tentang masyarakat dan negara.Keluarga sakinah sebagai cikal bakal umat dan warga bangsa yang ideal merupakan obsesi Al-Qur’an.

Keluarga sakinah hanya dapat diwujudkan melalui institusi perkawinan sah dan Allah SWT melarang keras perzinahan. Itulah sebabnya perkawinan dalam Islam, menurut Imam syafi’i, bukan sekedar kontrak sosial (‘aqd al tamlik), melainkan juga memiliki makna sakral (‘aqd al ‘ibadah). Institusi perkawinan menuntut berbagai syarat dan ketentuan agar rumah tangga yang terbentuk kelak melahirkan generasi-generasi pilihan. Keluarga dan rumah tangga yang normal dan utuh berpotensi melahirkan generasi yang tangguh, sebaliknya keluarga dan rumah tangga yang berantakan berpotensi melahirkan generasi yang lemah.

Wajarlah kiranya jika Rasulullah pernah mengingatkan bahwa, “Sesuatu yang halal tetapi paling dibenci Allah ialah perceraian” Perceraian adalah lambang kegagalan sebuah rumah tangga.  

Al Qur’an dan Al Sunnah Mencerahkan Kehidupan Manusia

( Intisari khutbah Jum’at tanggal, 24 Nopember 2006 M / 03 Dzulqa’dah 1427 H ) 

Oleh : DR.H. Hidayat Nurwahid 

Hari-hari ini kita kembali menyaksikan, merasakan dan melihat karunia Allah yang hadir terus menerus dan tidak akan berhenti  kepada kita umat Islam khususnya  umat Islam di Indonesia. Kita kembali betapa satu dari sekian banyak syari’ah Allah bila dilaksanakan ketika kita melihat sebahagian saudara-saudara kita akan dan sebahagian sudah berangkat kembali untuk melaksanakan ibadah haji. Tentu saja karunia Allah yang sangat besar ini kita maknai  sebagai bagian dari karunia-karunia yang memang telah dihadirkan oleh Allah, agar kita dapat mensyukurinya, dengan mengambilnya sebagai pelajaran yang penting. 

Ibroh yang paling utama salah satu diantarnya, bahwa kita dari salah satu umat Islam, termasuk umat Islam di indonesia , oleh Allah SWT selalu diberikan sarana, agar tidak pernah lupa dengan Baitullah, tak pernah lupa dengan Sya’arullah, tidak pernah lupa kita melaksanakan hak-hak sebagai hamba Allah, siapapun kita, bahkan kita adalah kelompok masyarakat yang dimudahkan oleh Allah  untuk mendapatkan kemampuan, mempunyai kekuatan untuk kemudian  karenaNya untuk bisa melaksanakan  kewajiban berhaji. 

Kemampuan terkait dengan pelaksanaan kekuatan, terkait dengan masalah ekonomi, kesehatan, kesempatan, rizki, keberkahan, Allah SWT memberikan kepada kita satu sarana, agar kelebihan-kelebihan yang diberikan kepada kita tidak membuat kita menjadi lupa kepada Allah SWT, lupa ajaran Allah / pada Syari’ahNya,  justru kita kembali diberikan Allah suatu bukti dan satu sarana bahwa karunia Allah yang diberikan kepada kita baik berupa harta, kedudukan, kesempatan, ternyata bisa dipergunakan  oleh saudara-saudara kita untuk merialisasikan ubudiyah kepada Allah dengan melaksanakan ibadah haji.  

Satu hal yang mudah-mudahan kita selalu teringat, akan fatwa syukur kepada Allah SWT,  hal yang amat menjadi penting hari inipun kita di sisi yang lain, masih merasakan betapa banyak kegetiran betapa banyak yang pahit, betapa banyak hal yang menyusahkan kehidupan kita sebagai bangsa, sebagai umat, belum selesai problema dengan lumpur di Sidoarjo, kembali kemarin terjadi ledakkan yang mengakibatkan bukan saja lubernya lumpur, tapi terjatuhnya korban saudara-saudara kita yang bertugas dan mereka pasti tidak berdosa.

Dan kemarin pun kita melihat dan membaca berita bagaimana seorang suami menembak seorang istrinya sendiri, kemudian ia berupaya untuk bunuh diri, tapi ajal belum sampai kepada dia, dan jadilah dia sekarang pesakitan.   Begitu banyak masalah-masalah yang seolah-olah kemudian membawa kita kepada lingkaran syaetan, krisis yang seolah-olah karenanya tidak memberikan harapan kepada kita untuk bangkit keluar dari lingkaran syaetan ini. Dari dua kondisi yang telah saya sampaikan, kita sebagai umat yang beragama, apalagi yang penduduknya mayoritas beragama Islam ini.

Tentulah kita tidak boleh terjebak berlama-lama termangu, seolah-olah tidak mempunyai pedoman, seolah-olah kita berada di tengah-tengah gelap gulitanya kegelapan dan kezholiman. Sesungguhnya Allah telah memberikan suatu panduan kehidupan amat sangat yang mencerahkan yaitu Al Islam, dengan Al Qur’an, panduan yang kongkrit yaitu As Sunnah.  Kita akan mendapatkan bahwa kehidupan memang tidaklah selamanya terang benderang, cerah mencerahkan, mudah seperti apa yang kita bayangkan, bahkan sesungguhpun apabila jamaah haji kita akan berangkat ke Makkah dan Madinah, mereka akan menadapat satu kondisi Makkah dan Madinah  dan apalagi kalau mereka membaca siroh Nabawiyah, perjuangan Nabi Muhammad SAW,

sejarah diturunkan Al Qur’anul Karim kepada beliau kita akan mendapatkan Nabi dan Islam, hadir ditengah kekosongan budaya tidaklah hadir ditengah masyarakat yang tidak mempunyai interes-interes yang kemudian menghadirkan beragam tragedi, problema, termasuk juga untuk meredupkan upaya agama Allah, cahaya Al Qur’an.  Tidak mengetahui bagaimana masyarakat Makkah, bagaiman kejahiliyahannya begitu luar biasa, seperti digambarkan dengan bagus oleh Umar bin Khathab ra, ketika beliau sudah menjadi Kholifah, didapatkan oleh seorang umat beliau sedang menangis dan tertawa, umat ini kemudian bertanya, wahai Kholifah apa yang terjadi, baginda tadi menangis kemudian tertawa, 

Khalifah Umar RA kemudian menjawab, aku teringat dengan masa pra Islam, dengan masa jahiliyyah dahulu, aku menagis betapa zholimnya masyarakat, mereka mempunyai anak perempuan, anak yang sudah lama mereka nantikan, tapi begitu mereka datang kemudian mematikan dan dikubur hidup-hidup.  Menangislah aku, betapa rendahnya kwalitas kemanusian di waktu itu, tetapi aku tertawa mengingat ketika masa jahiliyah pra Islam dahulu, betapa bodohnya kami, pada waktu itu kami membuat tuhan dari tepung-tepung yang kami kumpulkan, kemudian kami bentuk menjadi tuhan-tuhanan, kemudian kami sembahlah tuhan yang dibuat sendiri dan kemudian setelah selesai prosesi penyembahan, tuhan yang kami bentuk itu kami menyantapnya dan memakannya, betapa amat menggelikanya. 

Itulah kondisi pra Islam, kondisi pra hijrahpun amat sangat menyesakkan, sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah Al Munawaroh, satu kota yang akan dikunjungi oleh saudara-saudara kita para jamaah haji, mereka ziarah ke Madinah Al Munawaroh, ke masjid An Nabawi, sebelum Rasulullah berhijrah ke sana, al Madinah adalah satu kota yang disebut dengan Yastrib, satu ungkapan yang sangat berdekatan maknanya dengan segala yang menghadirkan kerusakan, kerugian, kehancuran, yang tidak harmonis itulah yang terjadi.  

Begitulah masyarakat Madinah pra hijrah, komplik terus menerus yang dipropokasikan oleh komunitas Yahudi yang menghadirkan hegemoni tunggal atas kehidupan di Madinah, mereka menguasai kehidupan perokomian di Madinah, dan menguasai dalam seluruh setratanya, baik dalam stratanya ekonomi, sosial, politik, tehnologi, airpun mereka kuasai, kebunpun mereka kuasai, pasar mereka kuasai, opini mereka kuasai, bahkan mereka tidak cukup dengan itu, dalam rangka mengokohkan hegemoni yang mereka miliki,.

Mereka terus-menerus melemahkan faktor pesaing yang ada di Madinah yang berada dikalangan Arab, dan untuk itulah mereka melakukan upaya untuk mengadu domba antara orang-orang Arab yang berada di Madinah, antara Haoz dan Khazraj, menyebarkan fitnah dan informasi, melakukan beragam cara agar orang-orang Arab itu bisa dilemahkan dan karena hegemoni Yahudi tidak bisa diganggu gugat.  Terjadilah salah satunya perang Bu’at, 40 tahun lamanya, Haoz dan Khazraj terjebak perang di antara mereka, kita bisa bayangkan bagaimana kondisi warga bangsa yang terjebak dalam perang yang permanen, dikipas terus menerus oleh bangsa yang lebih besar yaitu orang-orang Yahudi, tapi itu memang kondisi Yastrib pra Hijrah.  

 Seperti juga kondisi Makkah pra Hijrah, kondisi yang amat sangat menyesakkan, seolah-olah tidak ada masa depan, seolah-olah yang ada adalah kegelapan dan kegelapan. Tetapi yang terjadi kemudian adalah Allah menghadirkan Al  Islam , menghadirkan Saiyyidina Muhammad SAW, sebagai nabi dan sebagai rasul, kemudian masyarakat dikeluarkan dari kegelapan keterang benderang, segala bentuk kegelapan itu, segala bentuk kezholiman itu, kepada cahaya Al Islam dan kemudian munculah masyarakat yang baru, masyarakat yang madani, masyarakat yang membawa kerahmatan lilalamin. 

masyarakat yang sangat unggul, yang dinilai oleh para ulama termasuk Said Jamaluddin Ahwani dalam salah satu kitabnya Aroddu Adahriyin, ia mengatakan adalah salah satu dari kemu’zizatan Islam adalah selain hadirnya Al Qur’an, selain hadirnya Rasululoh SAW dengan segala kemu’zizatanya, salah satu kemu’zizatanya adalah kemukzizatan sosial, dimana dalam salah satu waktu yang pendek telah hadir salah satu komunitas yang baru, masyarakat yang sama sekali yang berbeda , masyarakat yang sukses, masyarakat yang menghadirkan peradaban yang baru, peradaban yang sangat manusiawi,

masyarakat yang mencerahkan, masyarakat yang akan hadirnya umat manusia dalam waktu yang sangat pendek, peradaban ini bisa menyebar, bukan hanya terbatas di Jazirah Arabia bahkan kemudian mengikuti tulisan  Ibnu Robbi dalam tulisannya  Asl Ibdu Farid dalam abad pertama Hijriyahpun Al Islam telah sampai ke bumi Nusantara kekerajaan Sriwijaya, telah diadakan surat menyurat antara Khulapa Daula Ummayah, di Damaskus termasuk juga dengan Khalifah Ar Rosyid  Umar Abdul Azis,  

Saya menegaskan sekali lagi bahwa apa yang kita dapatkan sekarang ini dalam dua demensi adalah sebagai Allah tegaskan dalam surah Al Muluk

: الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُmaksudnya: “Allah menghadirkan ini seluruhnya adalah sebagai ibtila sebagai ujian, agar Allah bisa mendapatkan suatu bukti siapa yang diantar kita yang paling baik amalnya” (Al Muluk : 2) tentulah dikarenanya dengan pendekatan ini, mengambil salah satu hikmah dari yang hadir sebagai salah satu ujian agar kita menjadi salah satu pihak yang berlomba-lomba menghadikran kebaikan, lomba yang menghadirkan yang lebih baik, lomba pelajaran yang unggul dari peristiwa yang ada  

Mudah-mudahan keberangkatan jamaah haji kita akan membawa kepada kita semuanya pembelajaran yang penting dan sekaligus mengingatkan kepada mereka agar mereka memaksimalkan keberangkatan mereka untuk menjadikan diri mereka sebagai haji yang mabrur dan dengan kemabruranya akan membawa kepada kita semangat baru untuk terus menerus menapaki kebaikan dari pada Al Islam,

dengan kemabruran mereka mudah-mudahan akan selalu membawa kepada kita kader-kader umat dan kader-kader bangsa yang tidak pernah berhenti untuk beramal sholeh, mudah-mudahan doanya dikabulkan Allah dan mudah-mudahan doanya itu diantaranya adalah agar umat dan bangsa kita segera bangkit keluar dari krisisnya, para pimpinannya, umatnya dan siapun juga supaya betul-betul menjadi umat dan masyarakat yang muttaqun. (ds) 

Pandangan Hidup Muslim

(Intisari Khutbah Jum’at tanggal, 12 Mei 2006 M / 14 Rabiul Akhir 1427 H)

Oleh : Prof.DR.H.A. Bachmid 

v   Tujuan hidup seorang Muslim.

Jarang orang merumuskan tujuan hidupnya. Merumuskan apa yang dicari dalam hidupnya, apakah hidup­nya untuk makan atau makan untuk hidup. Banyak orang sekedar menjalani hidupnya, mengikuti arus ke­hidup­an, terkadang berani melawan arus, dan menyesuaikan diri, tetapi apa yang dicari dalam melawan arus, menyesuaikan diri dengan arus atau dalam pasrah total kepada arus, tidak pernah dirumuskan se­ca­ra serius. Ada orang yang sepanjang hidupnya bekerja keras mengumpulkan uang, tetapi untuk apa uang itu baru dipikirkan setelah uang terkumpul, bukan dirumuskan ketika memutuskan untuk mengumpulkannya.

Ada yang ketika mengeluarkan uang tidak sempat merumuskan tujuannya, sehingga harta­nya terhambur-ham­bur tanpa arti. Ini adalah model orang yang hidup tidak punya konsep hidup. Sesungguhnya secara fithri, terutama ketika melakukan sesuatu untuk kebutuhan dasarnya selalu ingat tuju­an. Ketika seseorang ingin menjadi insinyur dia masuk Fakultas Tehnik, bila ingin menjadi Dokter maka ia ma­suk Fakultas kedokteran, bila ingin jadi ahli ekonomi maka masuk Fakultas Ekonomi, dan bila ingin menjadi pe­mim­pin maka ia harus mengadakan manuver politik mencari legitimasi dari kaum muslimin atau masyarakat.

Rumusan tujuan hidup yang didasari oleh ajaran agama menempati posisi sentral, yakni orang yang hormat dan tunduk kepada nilai-nilai agama yang diyakininya, melalui figure Ulama Kharismatik, atau menurut kitab suci. Menurut ajaran Islam, tujuan hidup manusia ialah untuk menggapai ridha Allah, ibtigha mardhatillah. Firman Allah  

: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِـغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ وَاللهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ ,

arti­nya : “Dan di an­tara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Pe­nyan­tun kepada hamba-hamba-Nya” (QS. 2 Al Baqarah : 207). Ridha artinya senang. Jadi segala pertimbangan tentang tujuan hidup seorang Muslim, terpulang kepada apakah yang kita lakukan dan apa yang kita gapai itu sesuatu yang disukai atau diridhai Allah SWT atau tidak. Jika kita berusaha memperoleh ridha-Nya, maka apapun yang diberikan Allah kepada kita, kita akan mene­ri­ma­­­nya dengan ridha (senang) pula, ridha dan diridhai (radhiyatan mardhiyah). 

Kita bisa mengetahui sesuatu itu diridhai atau tidak oleh Allah. Tolok ukur pertama adalah syariat atau atu­r­an agama, sesuatu yang diharamkan Allah pasti tidak diridhai; dan sesuatu yang halal pasti diridhai, sekura­ng­ -kurang­nya tidak dilarang. Selanjutnya nilai-nilai akhlak akan menjadi tolok ukur tentang kesempurnaan, misal­nya memberi kepada orang yang meminta karena kebutuhan adalah sesuatu yang diridhai-Nya; tidak memberi tidak berdosa tetapi kurang disukai. 

Indikator ridha Allah juga dapat dilihat dari dimensi horizontal, Nabi bersabda : “Bahwa ridha Allah ada bersama ridha kedua orang tua, dan murka Allah ada bersama murka kedua orang tua”. Semangat untuk mencari ridha Allah sudah barang tentu hanya dimiliki orang-orang yang beriman, sedang­kan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal agama, maka boleh jadi pandangan hidupnya dan prilakunya sesat, tetapi mungkin juga pandangan hidupnya mendekati pandangan hidup orang yang minus beragama, karena toh setiap manusia memiliki akal yang bisa berfikir logis dan hati yang di dalamnya ada nilai kebaikan. 

Metode untuk mengetahui Tuhan juga diajarkan oleh Nabi dengan cara bertanya kepada hati sendiri, istifti qalbaka. Orang bisa berdusta kepada orang lain, tetapi tidak kepada hati sendiri. Hanya saja hati orang berbeda-beda. Hati yang gelap, hati yang kosong, dan hati yang mati tidak bisa ditanya. Hati juga kadang-kadang tidak konsisten, oleh karena pertanyaan paling tepat kepada hati nurani, Nurani berasal arti kata nur, cahaya. Orang yang nuraninya hidup maka ia selalu menyambung dengan ridha Tuhan. Problem hati nurani adalah cahaya nurani sering tertutup oleh keserakahan, egoisme, dan kemaksiatan. 

v   Tugas Hidup Seorang Muslim

Rumusan tugas hidup seorang muslim bisa dibuat berdasarkan citarasa sebagai manusia yang hidup di tengah realita objektip, oleh karena itu rumusan tugas hidup dapat berbeda-beda. Menurut ajaran Islam, tugas hidup manusia, sepanjang hidupnya hanya satu tugas, yaitu menyembah Allah, Sang Pencipta, atau dalam bahasa harian disebut ibadah. Disebutkan dalam Al Qur’an bahwa tidaklah Tuhan menjadikan Jin dan Manusia kecuali untuk menyembah kepada-Nya. Menjalankan ibadah bukanlah tujuan hidup, tetapi tugas yang harus dikerjakan sepanjang hidupnya.

Ibadah mengandung arti untuk menyadari dirinya kecil tak berarti, meyakini kekuasaan Allah Yang Maha Besar, Sang Pencipta, dan disiplin dalam kepatuhan kepada-Nya. Oleh karena itu orang yang menjalankan ibadah mestilah rendah hati, tidak sombong, dan disiplin. Itulah etos ibadah. Ibadah ada yang bersifat mahdhah/murni, yakni ibadah yang hanya memiliki satu dimensi, yaitu dimensi vertikal, patuh tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa, seperti shalat, puasa, ada ibadah yang bersifat material-sosial seperti; zakat dan sadaqah, ada ibadah bersifat fisik seperti ibadah haji. 

Ibadah juga terbagi menjadi dua klasifikasi; ibadah khusus dan ibadah umum. Ibadah khusus adalah ritual yang bersifat baku yang ketentuannya langsung dari wahyu atau dari Nabi Muhammad SAW, sedangkan ibadah umum adalah semua perbuatan yang baik, dikerjakan dengan niat baik dan dilakukan dengan cara yang baik pula. Ibadah khusus seperti shalat lima waktu sehari semalam adalah tugas, taklif dari Allah SWT yang secara khusus diperuntukkan kepada orang-orang mukmin yang telah baligh. Puasa, Zakat (zakat fitrah, zakat mal) bagi yang telah memenuhi syaratnya, dan ibadah haji bagi yang mampu, memotong hewan kurban bagi yang mampu semuanya adalah taklif. 

Dan ibadah ghairu mahdhah, seperti berbisnis, karena inti dari berbisnis adalah membantu mendekatkan orang lain dari kebutuhannya. Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat besar nilainya asal dilakukan dengan niat baik dan cara yang baik pula. Bahkan menunaikan syahwat seksual yang dilakukan dengan halal (suami isteri) dan dilakukan dengan cara baik (ma’ruf) adalah ibadah. Dengan demikian kita dapat melakukan tugas ibadah dalam semua aspek kehidupan kita, sesuai dengan bakat, minat, dan profesi kita. Perbedaan pandangan hidup akan menghasilkan perbedaan nilai dan persepsi.

Orang yang tidak mengenal ibadah, mungkin sangat sibuk dan lelah mengerjakan tugas sehari-hari, tetapi nilainya nol secara vertikal, sementara orang yang mengenal ibadah, mungkin sama kesibukannya, tetapi cara pandangannya berbeda dan berbeda pula dalam mensikapi kesibukan, maka secara psikologis/kejiwaan ia tidak merasa lelah karena merasa sedang beribadah. 

v   Peran dalam pentas kehidupan

Dalam hal ini manusia memiliki dua peran utama; pertama sebagai hamba Allah, dan peran kedua seba­gai khalifah Allah di muka bumi. Sebagai hamba Allah manusia adalah kecil dan tidak memiliki kekuasaan, oleh karena itu tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya. Namun, sebagai khalifah, manusia diberi fungsi, peran yang sangat besar, karena Allah Yang Maha Besar maka manusia sebagai wakil Allah di muka bumi memiliki tanggungjawab dan otoritas yang sangat besar. Sebagai khalifah manusia diberi tugas untuk mengelola alam semesta ini untuk kesejahteraan manusia. 

Dari ketiga dimensi tersebut; Tujuan Hidup seorang muslim, tugas hidup, dan peranannya dalam kancah kehidupan dunia, dapat kita sarikan dalam sifat-sifat moral yang harus dimiliki seorang muslim adalah: Beramal shaleh, menghindari dosa, menyuruh berbuat baik, melarang berbuat munkar (amar ma’ruf nahi munkar), jujur dan mencela kebohongan, bersikap sederhana dan menjauhi pemborosan. Dalam segala hal, adil, lemah lembut dalam berbicara, menghindari perkataan yang buruk dan fitnah, sedia memaafkan, menghindari keangkuhan dan kesombongan, sabar, mengendalikan diri dan waspada, tidak kejam, sedia bertindak sebagai penengah dan pembuat perdamaian, berpegang teguh kepada keimanan, setia, dermawan, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada seluruh tetangga dan kerabat, sederhana, melaksanakan sumpah, menghindari sumpah palsu, dan sifat paling mulia adalah taqwa

 إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ أَتْقَاكُمْ  “Orang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling taqwa” (QS. 49 Hujurat : 13) 

Taubat Semisal Pelampung dan Timah Pemberat

(Intisari khutbah Jum’at, 07 April 2006 M / 08 Rabi’ul Awal 1427 H)

Oleh :.DR.KH. Masyhuri Na’im, MA


Khotbah yang ingin saya sampaikan hari ini saya awali dengan dua ayat :

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ اْلأَلِيْمُ. , artinya : Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih” (QS.15 Al Hijr 49-50).

Ada dua pengertian yang paradox bisa kita tangkap dari ayat tersebut, yaitu :

Pertama, siksa dan azab Allah SWT sangat pedih

Kedua, Allah SWT sangat Pengasih dan Penyayang lebih daripada siapa saja yang berhati kasih sayang, dan pasti akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya betapapun besarnya jika ia mau bertaubat.

Dan ini yang paling dominan dalam ayat tersebut, karenanya didahulukan penyebutannya, apalagi kalau dilihat dari أَسْبَابُ اْلنُّزُوْلِ , yaitu : “Rasulullah SAW melewati sekelompok sahabatnya yang sedang tertawa ber­sen­da gurau, beliau menegurnya : اَتَضْحَكُوْنَ وَذَكَرَ الْجَنَّةَ وَالنَّارُ بَيْنَ اَيْدِيْكُمْ “Kalian tertawa dan menyebut-nyebut sorga, padahal neraka berada di depan kalian ?”, Kemudian datanglah Jibril dan berkata : Wahai Muhammad sungguh Allah SWT berfirman : “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang …”.

Ayat tersebut memberikan optimisme dan harapan kepada kita, bahwasanya tidak ada dosa betapapun besarnya – kecuali syirik – yang tidak akan terampuni jika kita mau bertaubat, apalagi penjelasan dan janji Allah ter­sebut diperkuat oleh hadits-hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW, seperti, artinya : “Ketika Allah menciptakan makhluk. Ditulisnya sebuah tulisan di atas singgasana-Nya : sungguh rahmat-Ku mendahului kemarahan-Ku. Dalam sebuah riwayat disebutkan : Sungguh rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku”

Sesuai dengan firman Allah

قُلْ لِّمَنْ مَّا فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ قُلْ ِللهِ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ َ , artinya : “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang …” (QS.6 Al-An’am 12).

Jadi, salah dan dosa adalah sesuatu yang wajar terjadi, dan itu dengan tegas disampaikan oleh Rasulullah SAW sebagaimana dalam hadits di bawah ini yang artinya : “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kalian semua tidak ada yang berbuat dosa, niscaya kalian semua akan dibinasakan kemudian akan diciptakan suatu bangsa yang berbuat dosa, tapi, kemudian mohon ampun kepada Allah SWT, dan Allah mengampuni mereka” (HR. Muslim).

Hadits di atas menyadarkan kita, bahwa dosa adalah sesuatu yang wajar terjadi, yang terpenting adalah upaya menyadari kesalahan dan bertaubat.

Rasulullah SAW bukan hanya bisa menyuruh, tapi beliau juga memberi contoh dan melakukannya, sebagaimana hadits ini

يَآأيُهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلىَ اللهِ فَإِنِّي اَتُوْبُ إِلَيْهِ ِفي الْيَوْمِ مِأَتَة مَرَّة , artinya : “Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sungguh saya bertaubat kepada-Nya seratus kali setiap harinya” (HR. Muslim). “Karenanya, yakinlah bahwa Allah SWT pasti mengampuni dosa-dosa kita dengan rahmat dan belas kasih-Nya, dan itu modal masuk surga”.

Sampai di sini kita bisa memahami bahwasanya taubat dan harapan adalah semisal pelampung dan timah pemberat. Pelampung agar kita tidak tenggelam kedalam kepesimisan dan keputus-asaan, sementara timah pemberat akan menyelamatkan kita dari kesombongan yang itu adalah bentuk lain dari dosa dan kemaksiatan, dan dengan kesombongan membuat Iblis terlaknat selamanya. Untuk itu Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah sabdanya, yang artinya : “Amal seseorang tidak akan mengantarkannya masuk surga, tidak Anda ya Rasulullah ? Kata sahabat. Beliau menjawab : tidak juga saya, kecuali Allah meliputi dan memenuhiku dengan ampunan dan rahmat” (Muttafaq alaih).

Ya Allah, semoga Engkau ampuni Dosa-dosa kami dan terimalah ibadah kami, kemudian masukkanlah kami ke dalam surga-Mu dengan rahmat dan kasih sayang-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi sangat Penyayang lebih dari siapa saja yang berhati pengasih dan penyayang. Amin

Profesionalisme dan Amanah Akan Melahirkan Kesejahteraan

(Intisari khutbah Jum’at, 31 Maret 2006 M / 01 Rabi’ul Awal 1427 H)

Oleh : Prof.DR.H. Didin Hafiduddin

Banyak orang yang menduga bahwa kemakmuran dan kesejahteraan merupakan akibat dari tingkat kesuburan. Semakin subur suatu negeri, maka akan semakin makmur dan sejahtera masyarakatnya. Pendapat ini tentu tidak semuanya salah, tetapi juga tidak semuanya benar. Dalam realitas kehidupan, ada negeri dan daerah yang subur kemudian masyarakatnya makmur dan sejahtera, tetapi ada pula negeri dan daerah yang tidak subur rakyatnya makmur dan sejahtera. Sebaliknya, adapula negeri dan daerah yang subur tetapi rakyatnya miskin.Kalau kita memperhatikan Al-Qur’an, maka faktor utama kesejahteraan dan kemakmuran adalah perilaku yang baik, yang sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Walaupun negerinya subur, tetapi pemimpin dan rakyat­nya durhaka, maka yang terjadi adalah kehancuran dan keterpurukan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an : وَضَرَبَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيْهَارِزْقُهَارَغَدًامِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ فَأَذَاقَهَااللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَاكَانُوا يَصْنَعُوْنَ

Artinya : “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah ; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS. 16 An-Nahl 112).

Dalam sebuah hadits, riwayat Imam Thabrani dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda :خَمْسٌ بِخَمْسٍ : مَانَقَضَ قَوْمٌ الْعَهْدَ, إِلاَّسُلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوُّهُمْ , وَمَاحَكَمُوْا بِغَيْرِمَا أَنْزَلَ اللهُ , إِلاَّ فَشَا فِيْهِمُ الْفَقْرَ وَلاَظَهَرَتْ فِيْهِمُ الْفَاحِشَةُ إِلاَّفَشَافِيْهِمُ الْمَوْتُ وَلاَ طَفَّفُوْا الْمِكْيَالَ إِلاَّ مُنِعُوْا الْنَبَاتَ وَأُخِذُوْابِالسِّنِيْنَ, وَلاَ مَنَعُوْا الزَّكَاةَ إِلاَّحُبِسَ عَنْهُمُ الْقُطْرُ

Artinya : “Rasulullah SAW bersabda : “(Ada) lima perbuatan (yang akan mengakibatkan) lima malapetaka :1. Tidaklah suatu bangsa mudah mengingkari janji, kecuali akan dikendalikan oleh musuh-musuh mereka, 2. Tidaklah mereka berhukum dengan sesuatu yang bukan diturunkan Allah, kecuali akan tersebar kekafiran,3. Tidaklah merajalela di suatu tempat perzinahan, kecuali akan merajalela pula penyakit yang membawa kematian, 4. Tidaklah mereka mempermainkan takaran / timbangan atau kwalitas suatu barang, kecuali akan dihambat tumbuhnya tanaman, dan akan disiksa dengan kemarau panjang, dan5. Tidaklah mereka mengeluarkan zakat, kecuali akan dihambat turunnya hujan yang membawa keberkahan” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas). Sebaliknya, dengan keimanan dan ketaqwaan yang tercermin perilaku keseharian, akan menyebabkan turunnya keberkahan.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :وَلَوْأَنَّ أَهْلَ الْقُرَىامَنُوْاوَاتَّقَوْالَفَتَحْنَاعَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْافَأَخَذْنَاهُمْ بِمَاكَانُوا يَكْسِبُوْنَ.Artinya : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. 7 Al-‘Araf 96).

Perilaku yang baik ini, yang harus dimiliki oleh masyarakat dan bangsa, terutama para pemimpinnya ada­lah amanah, jujur dan terpercaya. Di samping memiliki keahlian dalam bidangnya masing-masing. Orang yang amanah pasti akan mendapatkan rizki dan kesejahteraan dalam hidupnya. Sebaliknya, khianat, culas dan korup akan melahirkan kefakiran. Dalam sebuah hadits, riwayat Imam ad-Dailamiy, Rasulullah SAW bersabda :اَْلأَمَانَةُ تَجْلِبُ الرِّزْقَ وَالْخِيَانَةُ تَجْلِبُ الْفَقْرَ , artinya : “Sifat amanah itu akan menarik (mendatangkan) rizki, dan sifat khianat itu akan menarik (melahirkan) kefakiran” (HR. Ad-Dailamiy).

Ada suatu kisah yang menarik dalam Al Qur’an, yaitu kisah Nabi Yusuf AS, yang mampu membawa kese­jah­teraan masyarakatnya, dan masyarakat di sekitar negeri Mesir, karena beliau dan pejabat di negeri Mesir ketika itu memiliki sifat hafidzun, alimun, yaitu amanah, terpecaya dan ahli atau profesional dalam bidangnya. Dalam hal ini perhatikan firman Allah dalam Al-Qur’an: قَالَ اجْعَلْنِي عَلىَ خَزَائِنِ الأَرْضِ إِنِّي حَفِيْظٌ عَلِيمٌ , artinya : “Berkata Yusuf : “Jadikanlah Aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya Aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan” (QS. 12 Yusuf : 55).

Dalam sejarah Islam pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz yang tidak lama, hanya + 22 bulan, ternyata tidak ada orang yang menjadi mustahiq zakat dengan sebab kejujuran dan keadilan dalam segala bidang yang dilakukan oleh beliau dan pemerintahannya.Amanah dan profesionalisme akan menumbuhkan etos kerja yang tinggi; Akan menumbuhkan etika kerja yang kuat; Akan menyebabkan orang berlomba-lomba dalam mempersembahkan yang terbaik dan akan menyebabkan tumbuhnya ta’awun dan rasa solidaritas sosial yang tinggi antara sesama anggota masyarakat. Kalau sudah begitu, maka akan lahirlah masyarakat yang adil, masyarakat yang makmur, dan masyarakat yang sejahtera di bawah naungan ridha Ilahi.

Lima Dasar Pembinaan Ummat Unggulan

(Intisari khutbah Jum’at tanggal, 24 Maret 2006 M / 24 Shaffar 1427 H)

Oleh : KH. M. Nadjid Mukhtar, MA Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 110, Allah SWT menyatakan tingginya kedudukan ummat Islam di tengah masyarakat lainnya, yaitu sebagai ummat terbaik, ummat unggulan atau Khairu ummah. Firman-Nya :كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ , artinya : “Kamu ada­lah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. 3 Ali Imran : 110).

Mereka pantas memperoleh kedudukan tinggi itu karena mereka selalu mempunyai keyakinan dan keimanan yang benar dan teguh akan adanya Allah SWT dan keesaan-Nya serta iman akan kebenaran semua ajaran-Nya. Mereka juga selalu melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf artinya selalu melakukan dan mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat, duniawi, dan ukhrawi. Sedang nahi munkar artinya selalu menolak dan mencegah segala hal yang dapat merugikan, merusak, dan merendahkan nilai-nilai kehidupan masyarakat.

Hal ini juga diungkapkan Allah pada ayat sebelumnya, artinya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS. 3 Ali Imran : 104). Rasulullah juga bersabda, yang artinya : “Siapapun di antara kamu melihat kemunkaran maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangan (kekuasaan-Nya), kalau dia tidak mampu (tidak memiliki kekuasaan) maka dengan lidah / ucapannya, kalau (yang inipun) dia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman” (Al-Hadits)

Tiga ciri ini, yaitu berkeimanan, beramar ma’ruf, dan bernahi munkar merupakan syarat bagi lahirnya suatu masyarakat unggulan / ummat terbaik; yaitu suatu masyarakat yang di dalamnya berlangsung tata ke­hidupan yang manusiawi, tata kehidupan yang sendi-sendinya didasarkan atas persaudaraan, kesetiakawanan, saling percaya, kejujuran dan keadilan.

Dalam kondisi ini, setiap warga akan terpenuhi kebutuhan lahiriahnya dan batiniahnya, duniawinya dan ukrawinya, yang oleh Imam Ghazali disebut masyarakat “Maslahah” yang senantiasa didambakan oleh setiap muslim dalam do’a: رَبَّنَآأَتِنَاِفىالدُّنْيَاحَسَنَةً وَِّفىاْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَاعَذَابَاالنَّارِ , artinya : “Tuhan kami, ka­runia­kanlah kepada kami di dunia ini kebaikan dan di akhirat (nanti) kebaikan (pula) dan hindarkanlah kami dari siksa neraka” (QS.2 Al Baqarah : 201). Dan firman Allah,بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُوْرُ , artinya : “Negeri yang thayyib (sentosa) dan Tuhan yang senantiasa memberikan ampunan” (QS. 34 Saba : 15).

Untuk mewujudkan masyarakat unggulan yang semestinya mampu dilakukan oleh ummat Islam seperti dinyatakan Allah di atas, maka setiap muslim dalam kedudukan dan dalam profesi apapun, terutama sebagai pemimpin; baik pemimpin rumah tangga, masyarakat dan bangsa harus menghiasi dirinya dengan nilai-nilai dasar terpuji yaitu nilai terpuji yang menghiasi pribadi Rasulullah SAW panutan kita. Ada lima nilai dasar terpuji yang dirumuskan oleh para ulama antara lain sebagai berikut :

1. اَلصِّدْقُ (Kejujuran, kebenaran, kesungguhan, dan keterbukaan).Bentuk pengamatan shidq ini adalah jujur dalam pikiran, kata-kata, dan perbuatan. Orang yang shadiq ataupun yang menjadikan sifat shidq sebagai ciri khasnya sehingga dapat disebut sebagai shiddiq, ia akan mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah bersama para Nabi dan syuhada. Mereka inilah yang selalu menga­ta­kan yang sebenarnya diketahui, tidak menutupi kesalahan, baik yang dilakukan dirinya, maupun oleh kawannya, serta menjaga satunya kata dengan perbuatan, menjauhi kebohongan, termasuk jujur dalam berdiskusi dan bermusyawarah.

2. الأَمَانَةُ (Selalu menepati janji dan bertanggung jawab dalam melaksanakan hal-hal yang dipercayakan kepada­nya)Orang-orang pengemban amanah ini senantiasa memegang teguh amanat. Amanat kepada Tuhan dengan menyadari tugas kekhalifahannya di bumi sehingga ia selalu menjadi al-mushlih (yang memperbaiki), bukan sebagai al-mufsid (yang merusak). Amanat kepada keluarga dengan membimbing dan mendidik mereka kepada tuntunan ilahi, serta tidak memberikan nafkah kecuali yang halal lagi baik; Amanat kepada sesama anggota masyarakat dengan selalu mengajak dan berwashiyat (tawâshau) kepada kebaikan (al-khair) atau al-ma’ruf serta kepada kesabaran dan amanat kepada diri sendiri dengan menghindarkan segala yang haram baik dalam profesi maupun konsumsinya. Rasulullah bersabda لاَدِيْنَ لِمَنْ لاَاَمَانَةَ لَهُ , artinya : “Tidaklah ada agama bagi orang yang tidak amanah” (HR. Addailami).

3. اَلْعَدَالَةُ (Bersikap dan berlaku adil)Ini mengandung pengertian berpihak dan berpegang kepada yang benar, tidak sewenang-wenang, bertin­dak sepatutnya dan tidak berat sebelah. Bentuk pengamalannya selalu bersedia untuk saling tawashau, saling mengingatkan antara sesamanya, saling menyuarakan kebenaran dan sikap kesabaran, serta saling menghar­gai pendapat yang lain, tidak memaksakan kehendaknya sendiri tanpa mau memahami kepentingan dan kehen­dak pihak lain. Kebenciannya terhadap seseorang atau satu kelompok tidak menjadikannya menahan hak-hak mereka, baik berupa harta ataupun penghargaan prestasi.

Sebaliknya, kasih dan sayangnya tidak membutakan matanya untuk bersikap tegas dalam memberi hukuman. Karena sesungguhnya sifat adil inilah yang selalu men­dekatkan orang kepada ketakwaan. Allah berfirman : اِعْدِلُوْاهُوَاَقْرَبُ ِللتَّقْوى  “Adillah karena ia lebih dekat kepada takwa” (QS.5 Al Maaidah : 8)

4. اَْلأُخُوَّةُ والتَّعَاوُن Menjaga persaudaraan dan persatuan serta saling membantu sesamanya.Untuk itu, setiap muslim harus menyadari bahwa dia bersaudara dengan orang lain, baik sesama muslim (ukhuwwah islâmiyah), sesama bangsanya (ukhuwwah wathoniyah), maupun sesama manusia (ukhuwwah basyariyah). Ketiga macam ukhuwah tersebut tidak perlu ditentangkan, tetapi harus diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi. Hal ini akan menciptakan rasa kebersamaan, bukan memperuncing perbedaan.

5. الإٍسْتِقَامَةُ  (Berlaku konsisten, ajeg dan senantiasa berada dan mengikuti jalan kebenaran menurut Allah) Imam Ghazali menyatakan, artinya : “Tidak baiknya suatu kebajikan yang tidak konsisten, bahkan keburukan yang sesekali dilakukan lebih baik daripada kebajikan yang tidak konsisten / ajeg”.Islam selalu menganjurkan umatnya untuk memiliki sifat istiqomah dalam kebajikan. Bagi mereka yang selalu istiqomah dijamin akan terhindar dari kerisauan, kekhawatiran dan ketakutan (di hari kiamat), baik dalam kehidupan di dunia ini maupun pada hari kiamat nanti, bahkan mendapat berita gembira dengan janji dan jaminan masuk surga.

Ingatlah Selalu Peringatan Allah

(Intisari khutbah Jum’at tanggal, 17 Maret 2006 M / 17 Shafar 1427 H)

 Oleh : KH. Masyhuri Syahid, MA 

Manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Di mana Islam mengajarkan kepada hambanya untuk saling mengingatkan kepada sesamanya dengan pedoman Al Qur’an dan Hadits Nabi secara komprehensif. Makanya kami selalu mengingatkan dalam pelbagai pertemuan majlis taklim, masjid-masjid dan sebagainya untuk selalu mengingat dan mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam dalam aktivitas sehari-hari. Baik hubungan vertikal dengan Allah (hablun min Allah) dan hubungan horizontal dengan manusia (hablun min al-nas). Karena peringatan itu sangat bermanfaat untuk meningkatkan kadar keimanan seorang hamba.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT, sebagai berikut : وَذَكِّرِفأِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنينَ , artinya : “Dan engkau berilah peringatan, sungguh peringatan itu bermanfaat untuk orang-orang mukmin” (QS. 51, Al-Dzariyat 55). Dalam menyikapi kehidupan bangsa kita yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia, di mana-manapun umat Islam sedang mengalami ujian-ujian yang paling berat. Pesan Allah SWT dalam Al-Qur’an : وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ , artinya ;  “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya” (QS. 8, Al-Anfal 25).

Di duga akan terjadi suatu fitnah dan malapetaka, kerusuhan, bencana, akan terjadi di mana saja. Tetapi pesan Allah fitnah, bencana tidak akan tertimpa kepada orang yang berbuat salah / berbuat zhalim saja. Oleh karena itu kita diperintahkan oleh Allah SWT, diingatkan Allah SWT dari mulai yang terkecil, dari diri kita sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan yang paling besar. Maka hati-hati dan jagalah diri ini, jangan sampai ada fitnah di lingkungan kita, itu akan membawa kehancuran, sasarannya bukan pada orang-orang yang bersalah itu saja. Kita harus mawas diri kepada diri kita, keluarga dan lingkungan kita.

Pada suatu hari Rasulullah berpidato yang mensitir dari seorang intelektual, yang hidupnya bukan di zaman Rasulullah, yang namanya terpatri di dalam Al Qur’an yang disebut Lukman Al Hakim, dalam pidatonya di tengah-tengah umat : يَابُنيَّ إِعْلَمْ اَنَّ الدُّنْيَا بَحْرٌ عَمِيْقٌ yang artinya ; “Ketahuilah hidup di dunia ini kadang-kadang terjadi seperti di atas laut yang sangat tinggi gelombangnya”. Anginnya sangat kencang dan ke dalaman lautnya sangat dalam, banyak orang terhempas dan tersasar ke pantai yang lain, banyak orang-orang yang tersungkur karena badainya sangat kencang. Maka beliau berpesan tiga hal :

1)   وَلْتَكُنْ سَفِيْنَتَكَ تَقْوَى اللهِ , artinya : “Hendaknyalah bahtera yang Anda naiki itu berdasarkan taqwallah”. Dalam beberapa hadits banyak mensitir bahwa kita dalam perjalanan hidup di atas perahu yang sangat besar sekali, perahu yang berdasarkan taqwa, hati-hati, waspada dan menjaga diri, bahwa tiap individu, tiap keluarga, berpegang kepada pesan Rasulullah, maka kita tidak akan tersungkur ke dasar laut yang sangat dalam itu, tidak akan terhempas oleh badai ke pulau yang lain. Jaminan Allah bahwa وَمَنْ يَْتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا ويرزقه من حيث لايحتسبُ , artinya : “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah akan memberikan suatu jalan keluar dengan mendatang rezeki yang tidak diduga-duga” (QS.65 Al Thalaq : 2-3).

2)   Penghuni bahtera itu agar tetap berpegang teguh kepada Allah, dan 3)   Layarnya adalah tawakal kepada Allah”.Alhamdulillah kita selalu dituntun oleh Allah, kalau kita selalu berpegang teguh kepada Allah, maka Allah akan memberikan jaminan, tidak usah takut dan tidak usah khawatir, baik bagi diri sendiri maupun di lingkungan keluarga. Dalam surah Al-‘Araaf ayat 96 Allah memberikan garansi :وَلَوْأَنَّ اَهْلَ الْقُراىاَمنُوْاواتَّقَوْا لَفَتَحْنَاعَلَيْهِمْ بِرَكتٍ مِنَ السَّمَآءِ وَاْلاَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَدْ نَهُمْ بِمَاكَانُوْايَكْسِبُوْنَ ,

artinya : “Kalau pada suatu negeri orangnya beriman dan bertaqwa, maka Allah akan membukakan pintu keberkahan yang datangnya dari manapun, kalau Allah sudah memberikan keamanan, keselamatan, kedamaian, ketentraman, akan tetapi kalau umat itu berdusta atau mendustakan ayat-ayat Allah apakah langsung atau tidak langsung, maka Allah akan menyiksa penduduk negeri itu”. Akhirnya dengan ini khatib sampaikan pesan Allah dan Rasul-Nya, semoga kita diselamatkan oleh Allah dari fitnah dan bencana dunia dan akhirat. 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.